"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka"
(Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)

"Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke 
seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku 
akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: 
"Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia 
tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah 
seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu 
menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah 
orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."(Mat 8:18-22), demikian 
kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Mengikuti Tuhan atau beriman memang harus total tanpa syarat atau 
catatan kaki sedikitpun, tidak ada tawar menawar. "Ikutilah Aku dan biarlah 
orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka", demikian jawaban Yesus 
atas orang yang mau mengikuti Dia dengan minta izin dahulu untuk menguburkan 
ayahnya, yang sebenarnya hanya mau mengundurkan diri saja. Orang mati di sini 
kiranya juga menggambarkan orang yang tidak hidup bergairah, tidak ingin tumbuh 
berkembang lebih lanjut, maju terus mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman 
alias `berhenti di tempat'/'mandheg'. Mengikuti Tuhan atau hidup beriman 
berarti harus siap berubah dan berkembang. Ingatlah dan hayatilah bahwa yang 
abadi di dunia ini adalah perubahan dan perkembangan, maka siapapun yang tak 
bersedia berubah atau berkembang pasti akan segera mati, terlindas arus 
perkembangan dan perubahan. Sel-sel anggota tubuh kita sendiri terus tumbuh 
berkembang dan berubah, maka tidak siap sedia tumbuh dan berubah berarti 
mengingkari diri sendiri. Memang kita diharapkan tidak asal tumbuh berkembang 
dan berubah, melainkan tumbuh berkembang dan berubah ke arah persahabatan mesra 
dengan Tuhan maupun sesama manusia, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan 
sesama manusia. Untuk itu kita memang harus berani meninggalkan kehendak dan 
keinginan diri pribadi dan hanya mau mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, 
yang antara lain dapat kita temukan dalam diri sesama yang berkehendak baik. 
Maka marilah kita dengarkan dan ikuti kehendak baik saudara-saudari kita, 
dengan kata lain marilah kita saling membagikan dan menerima kehendak baik  
serta kemudian kita sinerjikan untuk tumbuh berkembang dan berubah 
bersama-sama. 
•       "Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang 
pengetahuan dan kepandaian.Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, 
menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan 
keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia" (Am 2:6-8).  Jujur, 
tak bercela, adil dan setia itulah keutamaan-keutamaan yang harus kita hayati 
dan sebarluaskan. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong 
dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui 
kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran…adil adalah sikap dan perilaku 
yang tidak berat sebelah dalam mempertimbangkan keputusan, tidak memihak dan 
menggunakan standar yang sama bagi semua pihak…setia adalah sikap dan perilaku 
yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" 
(lihat: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai 
Pustaka – Jakarta 1997, hal 17, 24, 25). Siapapun yang bersikap dan berperilaku 
jujur, adil dan setia pasti akan memperoleh pertolongan dari Tuhan melalui 
orang-orang yang baik di sekitarnya, dan dengan demikian ia pasti tetap jujur, 
adil dan setia dalam hal apapun, kapanpun dan dimanapun. Kami harapkan 
anak-anak sedini mungkin dibiasakan atau dididik dalam hal jujur, adil dan 
setia di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari para 
orangtua, serta kemudian ditindak-lanjuti di sekolah-sekolah sebagai bantuan 
bagi para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka. Hendaknya ada kerjasama 
antara orangtua dan sekolah di dalam mendidik dan membina anak-anak, maka 
baiklah secara periodik sering diselenggarakan pertemuan dan dialog antar para 
orangtua dan staf kependidikan di sekolah dalam pendampingan dan pendidikan 
anak-anak. Ingatlah dan hayatilah bahwa anak-anak adalah buah atau korban 
kerjasama, dan hanya dapat tumbuh berkembang atau berubah ke arah yang baik 
dalam kerjasama atau kebersamaan juga. 

"Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, 
dan tidak ada yang melepaskan. Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai 
korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari 
Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." 
(Mzm 50:22-23) 
Jakarta, 28 Juni 2010


Kirim email ke