HR St Petrus dan St Paulus : Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19
"Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku 
dan alam maut tidak akan menguasainya"

"Uskup Gereja Roma, yang mewarisi secara tetap  tugas yang secara istimewa 
diberikan kepada Petrus, yang pertama di antara para rasul, dan harus 
diteruskan kepada para penggantinya, adalah kepala Dewan Para Uskup, Wakil 
Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini, yang karenanya berdasarkan 
tugasnya mempunyai kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal 
dalam Gereja yang selalu dapat dijalankannya dengan bebas" (KHK kan 331)
"Hidup yang dibaktikan dengan pengikraran nasihat-nasihat injili adalah bentuk 
kehidupan tetap di mana orang beriman, dengan mengikuti Kristus secara lebih 
dekat atas dorongan Roh Kudus, dipersembahkan secara utuh kepada Allah yang 
paling dicintai, agara demi kehormatan bagiNya dan demi pembangunan Gereja 
serta keselamatan dunia mereka dilengkapi alasan baru dan khusus, mengejar 
kesempurnaan cintakasih dalam pelayanan Kerajaan Allah, dan sebagai tanda 
unggul dalam Gereja mewartakan kemuliaan surgawi" (KHK kan 573 $ 1). 
Kutipan dari Kitab Hukum Kanonik di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi 
dalam rangka merayakan St.Petrus dan St.Paulus, paus pertama dan rasul 
agung/ulung: Petrus yang duduk di tahta kepausan dan Paulus yang berkeliling 
dunia untuk mewartakan kabar baik kepada segala bangsa. 

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini 
akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di 
sorga."(Mat 16:19) 
Kutipan di atas ini adalah sabda Yesus kepada Petrus, paus pertama. Paus 
sebagai "Wakil Kristus dan Gembala Gereja universal di dunia ini" mengemban 
`kunci Kerajaan Sorga', maka sungguh memiliki tugas mahaberat dan mulia. 
Meskipun Paus mempunyai kuasa jabatan tertinggi, Yang Mulia senantiasa 
menyatakan diri sebagai `servus servorum' (hamba dari para hamba). Kepemimpinan 
di dalam Gereja memang kepemimpinan partisipatif, dimana sang pemimpin 
senantiasa mendengarkan yang dipimpin dengan rendah hati dan sepenuh hati agar 
pelayanannya sesuai kebutuhan yang dipimpin dalam rangka mengusahakan 
keselamatan jiwa. Maka meskipun memiliki kebebasan penuh, Paus tak pernah 
menggunakan kebebasan seenaknya, menurut keinginan pribadi, apalagi Paus adalah 
`kepala Dewan para Uskup', yang berarti harus menghayati jabatan atau fungsinya 
dalam kolegialitas. Para Uskup juga memiliki kuasa tertinggi di wilayah 
keuskupannya, maka para Uskup mengambil bagian dalam jabatan kepemimpinan Paus, 
penerus.tahta St.Petrus.  

"Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku 
Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi 
mendengarkannya"
(2Tim 4:17)      

Kutipan di atas ini adalah pengalaman atau kesaksian Paulus yang disampaikan 
kepada Timotius dan kita semua. Paulus tergerak untuk meneladan Yesus `yang 
berkeliling dari desa ke desa, kota ke kota' untuk mewartakan Injil atau Warta 
Gembira. Paulus tanpa kenal lelah mewartakan Warta Gembira ke seluruh dunia, 
tanpa takut dan gentar menghadapi aneka tantangan, masalah, ancaman serta 
kesulitan. Paulus percaya sepenuhnya bahwa "Tuhan telah mendampingi aku dan 
menguatkan aku", maka bersama dan bersatu dengan Tuhan tiada ketakutan dan 
kegentaran sedikitpun. Apa yang dikerjakan oleh Paulus ini dalam perjalanan 
sejarah Gereja sampai kini dilakukan oleh aneka lembaga hidup bakti, 
biarawan-biarawati, sesuai dengan charisma atau spiritualitas pendiri mereka 
masing-masing. Maka terjadilah keaneka-ragaman pelayanan pastoral di dalam 
mewartakan Warta Gembira. 

Konggregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan Institut Sekuler bersama dengan 
Konggregasi Suci untuk Para Uskup : "DIRECTIVES FOR THE MUTUAL RELATIONS 
BETWEEN BISHOPS AND RELIGIOUS IN THE CHURCH" (1978)

Di dalam sejarah Gereja pernah terjadi ketegangan antara uskup dan pemimpin 
lembaga hidup bakti setempat atau pastor paroki dan paguyuban gerejani seperti  
Gerakan Kharismatik, Legio Mariae, Pemuda Katolik, PMKRI, dll.. Konggregasi 
Suci untuk Lembaga Hidup Bakti bersama Konggregasi Suci untuk Para Uskup pada 
tahun 1978 menerbitkan Arahan untuk Hubungan Timbal Balik ("Mutuae Relationis") 
antara para uskup dan lembaga hidup bakti. Isi  dokumen `Mutuae Relationis' ini 
kiranya baik sekali kita hayati dalam rangka merayakan pesta St.Petrus dan 
St.Paulus, dua pribadi yang berbeda satu sama lain namun bekerjasama dengan 
baik. 

Kerjasama kiranya merupakan keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita 
hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan semakin 
maraknya permusuhan, pertentangan, cekcok dst.. dalam kehidupan dan kerja 
bersama. Bekerjasama berarti saling memberi dan menerima, melayani, 
mendengarkan, memperhatikan, mengasihi dst.. , sebagaimana terjadi dalam umat 
Gereja Purba, dimana "semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan 
segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka 
yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai 
dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka 
berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah 
masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan 
tulus hati, sambil memuji Allah."(Kis 2:44-47)     

Cara hidup umat Gereja Purba tersebut kiranya dapat menjadi inspirasi atau 
teladan bagi kita semua pada masa kini dalam rangka memperkuat dan mengusahakan 
kerjasama baik dalam hidup bersama maupun kerja. Sikap mental kerjasama hemat 
saya sedini mungkin hendaknya dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di 
dalam keluarga serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan di 
sekolah-sekolah. Kerjasama di tingkat paroki maupun keuskupan hendaknya juga 
diperkuat dan diperdalam terus menerus. Salah satu usaha memperkuat dan 
membangun kerjama antara lain dimulai dengan menghayati apa yang sama di antara 
kita secara mendalam bersama-sama, sehingga apa yang berbeda di antara kita 
akan fungsional memperteguh atau memperkuat kerjasama. Dengan kata lain 
hendaknya jangan membesar-besarkan perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada di 
antara kita bersifat fungsional agar pelayanan pastoral Gereja dapat menjangkau 
semua kalangan atau tingkat kehidupan yang ada.  Marilah kita belajar 
bekerjasama dari anggota-anggota tubuh kita, yang bekerjasama dengan baik, 
dimana masing-masing anggota di tempat masing-masing dan fungsional sepenuhnya 
bagi kebutuhan seluruh tubuh. Tidak ada iri hati di antara anggota tubuh kita. 

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di 
dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah 
hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, 
marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!Aku telah mencari TUHAN, lalu 
Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.Tujukanlah 
pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu 
tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia 
menyelamatkan dia dari segala kesesakannya." (Mzm 34:2-7) 

Jakarta, 29 Juni 2010 


Kirim email ke