"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"
(Am 8:4-6.9-12; Mat 9:9-13)

"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di 
rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius 
lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah 
banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan 
murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka 
kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut 
cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat 
yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti 
firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena 
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Mat 
9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardino Realino 
dkk, para imam Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana 
sebagai berikut:
•       Orang-orang Farisi memang begitu menekankan peraturan sebagaimana 
tertulis dan kurang menghayati jiwa atau tujuan sejati dari peraturan. Hemat 
saya semua peraturan dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih dan bertujuan 
mewujudkan kasih juga, dengan kata lain yang utama dan pertama-tama adalah 
kasih atau belas kasih bukan peraturan, formalitas, liturgy, dst.. Maka cukup 
menarik tanggapan Yesus atas kata-kata orang Farisi kepada para murid Yesus: 
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan 
pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan 
persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan 
orang berdosa".  Kita semua yang beriman pada Yesus Kristus, dan kiranya secara 
khusus para imam/pastor, dipanggil untuk menjadi saksi dan teladan belas 
kasihan dalam hidup, kerja dan pelayanan kita dimanapun dan kapanpun. Memang 
yang lebih membutuhkan belas kasihan adalah mereka yang sakit atau berdosa, 
maka pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak mereka yang berkarya bagi 
orang sakit, entah dokter, perawat dan petugas lainnya, untuk sungguh berbelas 
kasih kepada para pasien: melayani, merawat, memperlakukan para pasien dengan 
rendah hati, lemah lembut, penuh senyum, murah hati, dst…  Para imam atau 
pastor kami dambakan juga menjadi teladan dan saksi dalam hal belas kasihan 
kepada umat yang dipercayakan untuk dilayani atau digembalakan: salurkan kasih 
pengampunan kepada mereka yang berdosa atau bersalah. 
•       "Terimalah didikanku, lebih dari pada perak, dan pengetahuan lebih dari 
pada emas pilihan. Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apa pun yang 
diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Am 8:10-11).  Kutipan ini kiranya 
baik menjadi permenungan atau refleksi kita bersama. "Hikmat lebih berharga 
dari pada permata", inilah yang selayaknya menjadi pedoman atau tuntunan cara 
hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Pertama-tama kami 
ingatkan para orangtua yang memiliki anak-anak: hendaknya pendidikan anak-anak 
lebih diutamakan daripada kebutuhan yang lain. Pengalaman menunjukkan ketika 
orangtua memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka berbahagia dan sejahtera 
masa depan anak-anak maupun orangtua sendiri. Wariskan kepada anak-anak 
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan bukan uang, emas, permata atau 
berlian. Kepada para pengambil kebijakan atau keputusan dalam hidup bersama, 
misalnya para anggota DPR dan  kepala daerah maupun presiden,  kami harapkan 
memberi anggaran yang memadai bagi program pendidikan anak-anak; tekankan lebih 
ke `spiritual dan human investment daripada material invesment'. Jangan bangga 
dengan bangunan gedung tinggi, ber-AC, dst.. sementara itu rakyatnya kurang 
terdidik, miskin dan amoral.  Permata, uang, harta benda, dst.. dapat hilang 
dan musnah dalam waktu sesaat, tetapi dididikan nilai, keutamaan dan budi 
pekerti hemat saya akan abadi sampai mati. Secara umum kami berharap agar 
anak-anak dan generasi muda sungguh memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan 
berkembang yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman. Maka kami berharap kepada 
orangtua, orang dewasa serta yang berkuasa, untuk memberi kemungkinan dan 
kesempatan tersebut; tidak memperhatikan pendidikan dan pembinaan anak-anak 
serta generasi muda berarti mau bunuh diri pelan-pelan alias masa depan suram. 

"Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama 
sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan 
menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, 
janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu"
 (Mzm. 119:8-10)      
Jakarta, 2 Juli 2010


Kirim email ke