Mg Biasa XIV: Yes 66: 10-14; Gal 6:14-18; Luk 10:1-12.17-20
"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan 
yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu"

Akhir-akhir ini kasus pelecehan  seksual yang dilakukan oleh sementara 
imam/pastor diangkat alias menjadi wacana publik, sementara itu jumlah 
imam/pator yang mengundurkan diri terus berlangsung dan panggilan untuk menjadi 
imam merosot. Jumlah pekerja dalam Gereja, imam, bruder atau suster semakin 
merosot dan kebutuhn pelayanan umat semakin meningkat. Sering saya dengar keluh 
kesah umat betapa sulitnya minta bantuan imam untuk memimpin ibadat atau 
penerimaan sakramen, misalnya penerimaan sakramen minyak suci bagi mereka yang 
menderita sakit keras, perayaan ekaristi untuk pemakaman, dst.. Memang 
tantangan dan godaan menjadi imam, bruder atau suster maupun hidup berkeluarga 
pada masa kini sungguh berat dan banyak, maka baiklah kita tanggapi sabda Yesus 
hari ini, sebagaimana menjadi Warta Gembira hari ini. 

"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan 
yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 
Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah 
serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah 
memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan" (Luk 10:2-4).  

Kita dipanggil oleh Yesus untuk mohon dengan rendah hati agar Tuhan mengirimkam 
pekerja-pekerja, imam, bruder atau suster yang siap sedia serta dengan belas 
kasih melayani umat Allah. Kami merasa dalam hal ini peran orangtua atau 
keluarga dominan alias penting sekali, antara lain suasana hidup berkeluarga 
atau di dalam keluarga. Hidup suami-isteri didasari dan dijiwai oleh cinta 
kasih dan ketika mengawali hidup baru sebagai suami-isteri saling berjanji 
untuk saling mengasihi baik dalam sehat maupun sakit, untung maupun malang 
sampai mati. Maka  suasana hidup berkeluarga hendaknya sungguh dijiwai oleh 
cintakasih, yang antara lain relasi antar anggota keluarga ditandai atau 
diwarnai oleh `saling sabar, saling bermurah hati, saling tidak marah dan tidak 
menyimpan kesalahan, saling rendah hati, saling menghormati, saling percaya, 
saling peka akan kebutuhan yang lain lebih-lebih bagi yang sakit, sedih dan 
menderita, dst" (lih 1Kor 13:4-7),. 

Dalam kebersamaan cintakasih hendaknya diusahakan setiap hari ada doa bersama, 
antara lain berdoa kepada Tuhan mohon agar Ia mengirimkan pekerja-pekerja dalam 
kebun anggur Tuhan. Kepada para orangtua kami ingatkan dan harapkan bahwa 
ketika salah seorang anaknya ada yang merasa tergerak dan terpanggil untuk 
menjadi imam, bruder dan suster hendaknya didukung, dan tidak dihalang-halangi 
melalui aneka cara. Yesus mengingatkan bahwa ada serigala-serigala yang siap 
menerkam dalam perjalanan hidup kita. Serigala-serigala itu ada kemungkinan ada 
di dalam hati kita masing-masing, yaitu berupa ketakutan atau kekhawatiran. 
Pada uumnya mereka yang khawatir adalah orang-orang kota yang kaya dan hanya 
memiiki dua atau tiga anak.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga diutus untuk 
mewartakan kabar baik, yaitu hidup dan bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran 
atau sabda-sabdaNya dalam keadaan atau situasi apapun, kapanpun dan dimanapun. 
Kita diingatkan oleh Yesus bahwa kita `seperti anak domba ke tengah 
serigala-seigala. Janganlah membawa pundit-undi atau bekal atau kasut, dan 
janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan".  Peringatan 
atau pesan Yesus ini kiranya dapat kita hayati dengan hidup dan bertindak 
sederhana atau.lebih mengandalkan diri pada manusia daripada aneka macam 
sarana-prasarana seperti uang, alat-alat, kendaraan dst.. Dengan kata lain 
hendaknya berpegang pada motto "the man behind the gun" (manusia yang berada 
dibalik senjata atau  aneka sarana-prasarana). Aneka sarana-prasarana memang 
dapat menjadi `serigala-serigala'yang siap menerkam, melumpuhkan atau 
melemahkan serta membuat frustrasi manusianya. Kita juga diingatkan untuk 
`tidak memberi salam kepada siapapun selama di perjalanan', artinya tidak 
menyeleweng atau mengerjakan pekerjaan sambilan. 

"Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus 
Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia." (Gal 
6:14) 
Kebanyakan dari kita bermegah atas apa yang kita miliki atau kuasai saat ini, 
misalnya pangkat, kedudukan, harta benda/uang, kecantikan, ketampanan, 
kepandaian, dst.. alias bermegah atas halhal duniawi. Paulus memberi kesaksian 
bahwa ia hanya bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus "sebab olehnya 
dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia".  Entah sudah berapa kali 
kita yang beriman kepada Yesus Kristas nenbuat tanda salib, kiranya tak ada 
seorangpun yang sempat menghitung atau nengingat-ingatnya. Dalam membuat tanda 
salib antara lain dengan telunjuk jari kita menunjuk atau  menepuk dahi, dada 
dan bahu, yang berarti otak/pikiran, hati/jantung dan kekuatan kita. Bukankah 
hal itu berarti kita menyalibkan atau mempersembahkan pikiran, perasaan dan 
kekuatan kita kepada Yang Tersalib?  

"Dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia"  berarti aku  harus bekerja 
keras menyelamatkan dunia seisinya dengan hidup mendunia, berpartisipasi dalam 
seluk-beluk atau hal ihkwal duniawi. Kita menycikan dunia dan dengan semakin 
mendunia kita semakin suci. Dengan kata lain mendunia, entah belajjar atau 
bekerja, entah sedang rekreasi, berjalan, dst.. bagaikan beribadat. Dalam 
bahasa /spiritualitas  Ignatian hal itu berarti menemukan Tuhan dalam segala 
sesuatu atau menghayati segala sesuatu di dalam Tuhan (`contemplativus in 
actione'). Dalam hal ini Romo JB Mangunwijaya pr alm. sering mengingatkan 
demikian dalam berbagai kesempatan "Jangan mencari kesucian di kapel, di gedung 
gereja, di tempat ziarah dst.., tetapi carilah kesucian di kamar mandi, di 
WC/toilet, di kamar makan, di dapur, di tempat tidur, di kantor, di jalanan 
dst."

"Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai 
semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia 
segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya" (Yes 66:10), 
demikian peringatan atau ajakan Yesaya. Yerusalem adalah kota suci, kota atau 
tempat idaman, sedangkan yang menjadi tempat idaman kita masa kini atau 
`Yerusalem' kita adalah keluarga dan tempat kerja/belajar, dimana kita 
memoboroskan waktu dan tenaga kita setiap hari. Di dalam keluarga atau tempat 
kerja/belajar kita masing-masing kita diharapkan untuk senantiasa bersukacita, 
bergirang bersama segirang-girangnya. Maka marilah kita mawas diri apakah di 
dalam keluarga dan tempat kerja/belajar kita sungguh bersukacita meskipun harus 
menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Menghadapi tantangan, masalah 
dan hambatan dengan sukacita atau girang berarti akan mampu mengatasinya, tentu 
saja sukacita atau kegirangan dalam dan bersama dengan Tuhan, karena Tuhan 
senantiasa mendampingi perjalanan hidup dan pelaksanaa pekerjaan atau tugas. .  
  

" Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan 
nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!....Seluruh bumi sujud menyembah 
kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Pergilah dan lihatlah 
pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia: Ia 
mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki 
menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia"
(Mzm 66:1-2.4-6)
Jakarta, 4 Juli 2010


Kirim email ke