"Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat"
(Hos 10:1-3.7-8.12; Mat 10:1-7)

"Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk 
mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala 
kelemahan. Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus 
dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, 
Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, 
dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia. Kedua 
belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah 
kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, 
melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah 
dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat."(Mat 10:1-7), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Dalam Warta Gembira hari ini Yesus memilih dan memberi kuasa kepada 
para rasul/pembantu-pembantuNya "untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk 
melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan" alias memberitakan bahwa 
"Kerajaan Sorga sudah dekat". Sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus 
Kristus kita juga memiliki dimensi rasuli, dan dengan demikian juga dipilih dan 
diberi kuasa untuk mengusir roh jahat dan melenyapkan segala penyakit dan 
kelemahan, dan tentu saja diri kita sendiri dalam keadaan sehat wal'afiat, 
segar bugar serta kuat. Maka pertama-tama dan terutama marilah kita usahakan 
seoptimal mungkin agar diri kita senantiasa dalam keadaan sehat dan kuat, dan 
untuk itu hendaknya hidup dan bertindak sesuai dengan aturan kesehatan. Ada 
aneka macam penyakit yang terkait dengan hati, jiwa, akal budi dan tubuh; sakit 
tubuh kiranya lebih mudah untuk disembuhkan, tetapi sakit hati atau sakit jiwa 
rasanya cukup sulit, bahkan ada rumor bahwa sakit hati dibawa sampai mati. 
Hemat saya ketika hati orang sungguh sehat alias tidak sakit, maka dengan mudah 
yang bersangkutan mengusahakan kesehatan-kesehatan lainnya, maka marilah kita 
lebih mengutamakan penyembuhan sakit hati. Bentuk sakit hati itu antara lain: 
`ngambeg', marah, benci, mengurung atau menutup diri, dst.., dan rasanya yang 
cukup umum adalah `marah'. Orangtua begitu mudah marah terhadap anaknya, guru 
terhadap muridnya, maka ketika anak-anak memiliki pengalaman dimarahi tersebut 
kiranya masa depan mereka juga akan mudah marah. Yang sering menjadi penyebab 
kemarahan antara lain perbedaan, pada kita semua berbeda satu sama lain, 
sehingga semuanya mudah marah. Jadikanlah perbedaan daya tarik, daya pikat 
untuk mendekat, mengenal dan mengasihi, bukan daya bermusuhan. Ingat bahwa 
laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tergerak untuk 
mendekat, mengenal, mengasihi, dst.. 
•       "Hati mereka licik, sekarang mereka harus menanggung akibat 
kesalahannya: Dia akan menghancurkan mezbah-mezbah mereka, akan meruntuhkan 
tugu-tugu berhala mereka. Sungguh, sekarang mereka berkata: "Kita tidak 
mempunyai raja lagi, sebab kita tidak takut kepada TUHAN. Apakah yang dapat 
dilakukan raja bagi kita?" (Hos 10:2-3), demikian berita perihal orang-orang 
Israel yang hanya mau mengikuti selera pribadi atau keinginan diri sendiri.  
Orang yang berhati licik mungkin akan berhasil sesaat dalam hidupnya, namun 
akhirnya akan menderita atau sengsara selamanya. Maka dengan ini kami 
mengingatkan kita semua untuk tidak berhati licik demi keuntungan atau 
kenikmatan diri pribadi. Licik memang berkonotasi jahat, maka mereka yang 
berhati licik pada umumnya adalah para penjahat atau koruptor. Orang-orang 
licik menggunakan kecerdasan demi kejahatan atau kepuasan diri sendiri, maka 
pada umumnya mereka juga materialistis dan dengan demikian kaya akan uang atau 
harta benda dan pada suatu saat berani berkata seperti beberapa orang Israel 
"Apakah yang dapat dilakukan raja bagi kita". Dalam kehidupan bersama mereka 
termasuk dalam `poros bisnis', yang senantiasa berusaha mempengaruhi dan 
menguasai `poros badan publik' guna memeras dan menindas `poros komunitas' 
alias rakyat atau orang kebanyakan. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa 
orang-orang yang begitu materilistis atau bersikap mental bisnis, memang tidak 
akan puas dengan apa yang telah mereka peroleh dan dengan demikian pada suatu 
saat jatuh karena kerakahan dan kesombongannya. Buah dari hati licik adalah 
penderitaan atau sengsara selama-lamanya, maka dengan ini kami mengingatkan 
kepada siapapun yang berhati licik untuk bertobat dan selanjutnya hidup 
sederhana, apa adanya, jujur, dst… Demikian juga kepada mereka yang sombong 
kami ajak untuk bertobat menjadi rendah hati. 

"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala 
perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah 
bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, 
carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang 
dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang 
diucapkan-Nya" (Mzm 105:2-5)

Jakarta, 7 Juli 2010


Kirim email ke