Mg Biasa XV: Ul.30:10-14; Kol 1:15-20; Luk 10:25-37
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan 
dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah 
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

"Kemiskinan terburuk di dunia saat ini adalah kesepian dan merasa tidak 
dicintai", demikian kata Ibu Teresa dari Calcuta, India. Ibu Teresa mengatakan 
hal itu sudah lama, lebih dari 15 tahun lalu, namun kiranya apa yang dikatakan 
tersebut masih tetap bermakna dan berlaku pada masa kini. Derap langkah 
perkembangan dan kemajuan aneka macam sarana dan alat tehnologi yang begitu 
cepat telah mempengaruhi sikap mental kebanyakan orang. Memang ada kebutuhan 
konkret yaitu hidup sejahtera secara ekonomi, apalagi bagi mereka yang tinggal 
di kota-kota besar. Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga membuat 
orangtua, suami dan isteri, harus bekerja keras siang malam, sehingga tiada 
waktu dan tenaga yang memadai bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada 
mereka. Anak-anak adalah buah cintakasih suam-isteri, orangtua, maka mereka 
hanya dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur 
dalam dan oleh cintakasih. Salah satu bentuk cintakasih yang utama adalah 
`pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih', sebagai perwujudan  mengasihi 
dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi. 
Dalam kenyataan memang cukup banyak orang pelit akan tenaga dan waktu bagi yang 
terkasih karena berbagai alasan yang nampak rasional. 

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Luk 10: 27b)

Mengasihi Tuhan dan sesama manusia memang tak dapat dipisahkan dan mungkin 
hanya dapat dibedakan, bagaikan mata uang bermuka dua, sebagaimana dikatakan 
oleh Yakobus bahwa "Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada 
hakekatnya adalah mati" (Yak 2:17). Maka hemat kami dalam mengasihi sesama 
manusia harus dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, segenap akal 
budi, sebagaimana dilakukan oleh orang Samaria yang menolong orang Yahudi yang 
menjadi korban perampokan dan kekerasan, menderita sakit. Kasih sejati memang 
tidak kenal SARA, senang atau tidak senang, selera atau tidak selera, dan yang 
penting adalah selamat, damai sejahtera dan sehat wal'afiat. Orang Samaria dan 
orang Yahudi pada umumnya kurang dapat hidup bersaudara atau berdamai, 
sebagaimana terjadi di Indonesia dimana beberapa suku masih saling bermusuhan 
satu sama lain, antar desa atau kampung saling bermusuhan, dst.. Marilah kita 
meneladan orang Samaria, "orang yang telah menunjukkan belas kasihan"  kepada 
yang menderita, sakit dan sengsara, tanpa pandang bulu, SARA, dst.. 

Mengasihi berarti memberi, tindakan dari yang mempunyai ke yang tak mempunyai, 
dari yang kaya ke yang miskin, dari yang pandai ke yang bodoh, dari atas ke 
bawah, dst.. Kasih dapat diwujudkan dengan hati, jiwa, akal budi atau kekuatan 
(tubuh, harta benda/uang),  dan dalam kenyataan hemat saya hati, jiwa, akal 
budi dan kekuatan tak dapat dipisahkan, karena ketika terpisahkan berarti kasih 
tak sempurna. Sementara orangtua sering hanya memberi harta benda dan uang 
kepada anak-anaknya, sehingga anak-anak sungguh merasa kesepian dan merasa tak 
dikasihi oleh orangtuanya. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengharapkan 
para orangtua untuk sungguh mengasihi anak-anaknya dengan segenap hati, segenap 
jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan, antara lain dengan memboroskan 
waktu dan tenaga bagi anak-anak, lebih-lebih ketika anak-anak masih dalam masa 
balita dan remaja. Kami percaya ketika anak-anak merasa dikasihi oleh 
orantuanya, maka kelak kemudian hari mereka akan senantiasa tergerak untuk 
mengasihi sesamanya tanpa pandang bulu serta berbelas-kasih kepada mereka yang 
miskin, menderita, sakit, kurang beruntung, dst..  

Belas kasih rasanya juga perlu diperdalam di sekolah-sekolah bagi para peserta 
didik. Kepedulian kepada mereka yang miskin, kecil, menderita dan sakit perlu 
ditanamkan dan diperdalam dalam diri para peserta didik. Salah satu cara untuk 
itu antara lain `live in' , dimana para peserta didik diajak untuk tinggal 
bersama-sama mereka yang miskin dan berkekurangan untuk beberapa waktu/hari: 
bekerja bersama mereka, makan bersama mereka, bermain bersama mereka, dstÂ… 
Mereka yang miskin dan berkekurangan ada dimana-mana, ada di kota-kota besar 
maupun pedesaan. Pengalaman menunjukkan bahwa tinggal bersama dengan mereka 
yang miskin dan berkekurangan, tidak hanya memberi melainkan menerima sesuatu 
yang sangat berharga dan tak terlupakan, yaitu nilai-nilai atau 
keutamaan-keutamaan kehidupan. 

"Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia 
memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun 
yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" 
(Kol 1:19-20).

Salib Kristus adalah persembahan Diri total Yesus, Penyelamat Dunia, kepada 
Allah dan dunia, demi keselamatan dan kebahagiaan dunia seisinya. Salib ada di 
ketinggian, bagian paling tinggi dari bangunan atau lahan tanah, menggambarkan 
bahwa Yang Tersalib adalah Imam Agung, penyalur rahmat Allah bagi dunia/manusia 
dan doa, dambaan, kerinduan, harapan dunia/manusia bagi Allah, penghubung 
langit dan bumi, sorga dan dunia, Allah dan umat manusia. Salib adalah 
pendamaian, maka jika anda mendambakan hidup damai sejahtera silahkan hidup dan 
bertindak dijiwai oleh Yang Tersalib. Sebagai contoh sederhana: anda mau marah 
terhadap sesama, silahkan marah dan mulailah dengan membuat tanda salib lebih 
dahulu agar marah dalam Tuhan. 

Salib juga dapat menjadi symbol atau inspirasi penghayatan tiga keutamaan 
utama: iman, harapan dan cinta kasih maupun trikaul -> keperawanan, ketaatan 
dan kemiskinan, yang semuanya ditandai dengan persembahan atau pembaktian diri 
total kepada yang lain, entah Tuhan maupun sesama manusia, pekerjaan, tugas dan 
panggilan. Entah berapa kali kita telah membuat tanda salib, ada berapa salib 
yang terpasang di rumah anda atau kantor anda, dst.., namun apakah salib 
tersebut telah menjiwai cara hidup dan cara bertindak anda rasanya boleh 
dipertanyakan. Maka dengan ini kami mengaharapkan ketika membuat tanda salib 
hendaknya sungguh dihayati dengan sepenuh hati. 

Penulis kitab Ulangan mengingatkan kita bahwa "firman ini sangat dekat 
kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." (Ul 
30:14). Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk mendengarkan suara hati 
kita masing-masing serta melakukan apa yang diperintahkannya. Memang agar suara 
hati senantiasa dalam keadaan baik dan benar perlu dilatih terus menerus dengan 
berbuat baik dan benar kepada sesama dimanapun dan kapanpun. Suara hati perlu 
dididik dan dibina dengan perbuatan-perbuatan baik dan benar terus menerus, 
mentaati dan melaksanakan aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup 
dan panggilann Maka kami mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk 
senantiasa membiasakan anak-anaknya berbuat baik dan benar dimanapun dan 
kapanpun dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua sendiri, agar 
suara hati mereka tetap baik dan jernih.             
"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, 
memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, 
menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan 
TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil 
semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan 
lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah" 
(Mzm 19:8-11)
Jakarta, 11 Juli 2010


Kirim email ke