"Orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Dia"
(Mi 2:1-5; Mat 12:14-21)
 
"Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. 
Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang 
mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang 
mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh 
nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang 
kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan 
memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan 
berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang 
patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak 
akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah 
bangsa-bangsa akan berharap." (Mat 12:14-21), demikian kutipan Warta Gembira 
hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Karena Yesus mengadakan banyak mujizat yang menguntungkan dan 
membahagiakan rakyat, maka mayoritas rakyat cenderung mengikuti Yesus serta 
meninggalkan orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi merasa tersaing dan 
tersingkir, maka mereka bersekongkol untuk menyingkirkan atau membunuh Yesus. 
Pejabat tingggi yang gila kuasa, kedudukan dan kehormatan duniawi pada umumnya 
ketika kurang memperoleh pengikut lalu bertindak licik dengan aneka cara untuk 
membungkam saingannya, pendek kata penguasa atau petinggi merasa terganggu oleh 
tokoh-tokoh baru yang berpengaruh maka dengan berbagai cara mereka akan 
membungkan tokoh-tokoh baru tersebut. Namun tokoh sejati yang hidup dan 
berjuang demi kepentingan umum tak akan takut dan gentar menghadapi aneka 
tekanan dan ancaman dari para penguasa atau pejabat, melainkan dengan tenang 
dan sabar mereka menanggapinya, dengan kesiap-sediaan atas apapun yang akan 
terjadi pada dirinya. Mereka akan bersikap seperti Yesus, sebagaimana 
diramalkan oleh nabi Yesaya, yaitu "tidak akan berbantah dan tidak akan 
berteriak". Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua umat beriman 
untuk setia pada penghayatan iman dalam hidup sehari-hari tanpa takut dan 
gentar; dengan kata lain hidup jujur, baik, tidak korupsi serta berjuang demi 
kepentingan rakyat banyak, terutama bagi mereka yang miskin, berkekurangan dan 
tersingkir. Percayalah bahwa jika kita bersama dan bersatu dengan rakyat  pasti 
akan berhasil dalam perjuangan. Kepada para pejabat kami ingatkan juga untuk 
senantiasa berpihak pada rakyat, karena kesejahteraan hidup anda tergantung 
dari rakyat (gaji dan segala fasilitas yang anda gunakan berasal dari rakyat). 
•       "Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan 
kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar" (Mi 2:1), 
demikian pesan nabi Micha. Tempat tidur memang tempat untuk menikmati aneka 
macam keinginan, impian, harapan atau cita-cita, misalnya suami-isteri saling 
memadu cinta dengan penuh mesra, kita beristirahat tidur seenaknya sampai 
bangun sendiri dst… Tetapi tempat tidur juga dapat menjadi tempat berbuat jahat 
atau merancangkan kejahatan. Tempat tidur sebagai tempat berbuat jahat, 
misalnya tempat tidur di panti-panti pijat, losmen/tempat penginapan yang 
sembunyi-sembunyi untuk pelacuran, dst.. Banyak hal yang akan dilakukan di pagi 
hari setelah bangun dari tidur memang sering dipikirkan atau dibicarakan 
bersama di tempat tidur, menjelang tertidur lelap. Mereka yang memfungsikan 
tempat tidur untuk memikirkan, merencanakan dan melakukan aneka kejahatan pasti 
akan celaka dan menderita selamanya. Para isteri sering merayu dan merengek 
pada suaminya dalam menyampaikan keinginan atau kerinduannya ketika sedang di 
tempat tidur bersama, dengan bisikan-bisikan mesra, dan kebanyakan suami takluk 
pada rayuan sang isteri, meskipun untuk itu mereka harus berbuat jahat, 
misalnya korupsi atau menyalah-gunakan kekuasaan, jabatan atau fungsi. Kami 
berharap tempat tidur menjadi tempat penyegaran iman, pribadi, dan tubuh, 
sehingga di pagi hari dengan penuh gairah berhasrat untuk menghayati iman 
sambil berdoa "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya 
rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (Rat 3:22-23). Tuhan 
setia mendampingi istirahat kita sehingga kita bangun dengan selamat, segar dan 
sejahtera, maka baiklah kita hayati anugerah kesetiaan Tuhan tersebut dengan 
hidup setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing: setia pada 
iman, setia pada aneka janji yang pernah kita ikrarkan, dst.. "Setia adalah 
sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian 
yang telah dibuat" (Prof  Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti 
Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). 

"Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam 
waktu-waktu kesesakan? Karena congkak orang fasik giat memburu orang yang 
tertindas; mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancangkan. Karena orang 
fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista 
TUHAN" (Mzm 10:1-3).
Jakarta, 17 Juli 2010


Kirim email ke