"Siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga"
(Mi 7:14-15.18-20; Mat 12:46-50)

"Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan 
saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang 
berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan 
berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan 
berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu 
kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan 
saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, 
dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 
12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       KKN = Kolusi, Korupsi dan Nepotisme masih marak di sana-sini. Ada 
konotasi atau kesan jelek jika terjadi KKN, namun hemat saya kolusi dan 
nepotisme tidak apa-apa asal tidak korupsi. Memang kolusi dan nepotisme dapat 
menjadi godaan dan peneguh tindakan korupsi, tetapi ketika ada hubungan darah 
dan relasi akrab tanpa korupsi rasanya hidup dan bekerja bersama akan lebih 
baik, membahagiakan dan damai sejahtera. Maka sabda Yesus hari ini bahwa yang 
utama dan pertama-tama sebagai orang beriman harus melakukan kehendak Allah, 
hemat saya hal itu antara lain dapat kita hayati dengan tidak melakukan korupsi 
sekecil apapun, dalam bidang pelayanan atau pekerjaan apapun dan dimanapun. 
Melakukan kehendak Allah juga dapat kita hayati dengan mentaati dan 
melaksanakan aneka aturan atau tatatan yang terkait dengan hidup dan panggilan 
maupun tugas  pengutusan kita masing-masing. Keunggulan hidup beriman terletak 
pada penghayatan bukan omongan atau wacana, yang menjadi nyata dalam sikap dan 
perilaku sehari-hari: sikap dan perilaku yang berbudi pekerti luhur. Warta 
Gembira hari ini juga mengingatkan dan mengajak kita untuk membangun dan 
memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dengan semua orang, terutama 
dengan siapapun yang berkehendak baik tanpa pandang bulu, SARA, jabatan, 
kedudukan, usia dst..Maka kami berharap aneka perbedaan yang ada di antara kita 
hendaknya jangan menjadi sumber permusuhan, ketegangan atau saling 
menghancurkan, melainkan menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling 
mengenal, mendekat dan bersahabat. Ingat dan hayati bahwa laki-laki dan 
perempuan yang saling berbeda satu sama lain saling tertarik untuk mendekat dan 
bersahabat, saling mengasihi…itulah karya Allah/ilahi, maka hendaknya hal itu 
menjadi kekuatan bagi kita bahwa apa yang berbeda menjadi daya tarik dan daya 
pikat untuk saling mengasihi. 
•       "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan 
pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam 
murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?" (Mi 7:18). 
Allah adalah mahapengampun dan mahasetia, betapa besar dosa dan ketidak-setiaan 
kita ketika kita dengan rendah hati mohon kasih pengampunanNya pasti diampuni. 
Namun hendaknya jangan menyalahgunakan kasih pengampunan dan kasih setia Allah 
tersebut, misalnya dengan mudah melakukan dosa dengan harapan bahwa dengan 
mudah juga Allah mengampuni. Mengimani Allah yang mahapengampun dan mahasetia 
berarti kita dipanggil untuk  menghayati dan menyebar-luaskan kasih pengampunan 
dan  kasihsetia dalam hidup sehari-hari dimanapun kita berada, kemanapun kita 
pergi. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita telah menerima 
kasih pengampunan dan kasih setia Allah melalui orang-orang yang telah berbuat 
baik kepada kita, terutama dan pertama-tama melalui orangtua atau bapak-ibu 
kita masing-masing. Kami berharap kepada para orangtua, para pemimpin atau 
atasan dalam kehidupan dan kerja dimanapun untuk dapat menjadi teladan dalam 
kasih pengampunan dan kasih setia. Ketika ada bawahan atau anggotanya berbuat 
salah hendaknya tidak dimarahi melainkan dengan rendah hati dan kasih sayang 
dibetulkan dengan berbagai cara. Kepada para orangtua kami juga berharap tidak 
murah marah atau bertindak kasar terhadap anak-anaknya, yang mungkin nakal dan 
kurang berkenan di hati orangtua. Ingat dan sadarilah bahwa anak-anak nakal dan 
kurangajar itu biasa, karena memang mereka masih anak-anak, tetapi kalau 
orangtua nakal dan kurangajar itulah malapetaka yang dapat membuat sengsara 
atau menderita seluruh anggota keluarga. Dampingilah anak-anak dengan semangat 
cintakasih dan kebebasan, sebagaimana anda sebagai suami-isteri juga telah 
saling memilih dan bersatu dalam cintakasih dan kebebasan. Kepada para pemimpin 
di bidang pelayanan atau kehidupan bersama dimanapun kami harapkan juga untuk 
menghayati kepemimpinannya dalam semangat cintakasih dan kebebasan. 

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus 
memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, 
yang berhasrat mengadakan ziarah! Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak 
menghadap Allah di Sion. Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, 
pasanglah telinga, ya Allah Yakub." (Mzm 84:5-6.8-9) 
Jakarta, 20 Juli 2010      


Kirim email ke