"Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia"
(Yer 14:17-22; Mat 13:36-43)

"Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya 
datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang 
lalang di ladang itu." Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik 
ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan 
dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. 
Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti 
lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. 
Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan 
segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari 
dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah 
akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar 
akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, 
hendaklah ia mendengar!" (Mat 13:36-43), demikian kutipan Warta Gembira hari 
ini.  

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Yesus adalah Pewarta Kabar Baik, mewartakan apa-apa yang baik entah 
melalui sabda-sabda/kata-kataNya maupun perilaku atau cara hidup dan cara 
bertindakNya. Panggilan atau tugas pengutusan tersebut kini dilanjutkan atau 
dilaksaanakan oleh para murid atau pengikutNya, antara lain oleh para Gembala, 
pastor/ pendeta, guru agama, orangtua dst.. Setiap kali kita mengikuti atau 
partisipasi di dalam ibadat bersama pada umumnya diwartakan Sabda Tuhan, entah 
melalui pembacaan, renungan atau refleksi atau kotbah/homili. Isi pewartaan 
tersebut adalah tuntunan dan tuntutan bagi kita semua untuk dilaksanakan jika 
kita mendambakan hidup baik, damai sejahtera, bahagia dan selamat lahir batin, 
jasmani maupun rohani. Kebanyakan dari kita adalah pendengar, maka pertanyaan 
penting bagi kita semua "apakah kita dapat mendengarkan dengan baik apa yang 
dibacakan, direnungkan, direfleksikan atau dikotbahkan". Jika kita dapat 
menjadi pendengar baik maka berarti kita tanah baik yang ditaburi benih baik 
dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun 
berbuah kebaikan-kebaikan, apa-apa yang baik dan menyelamatkan, lebih-lebih dan 
terutama menyelamatkan jiwa manusia. Cara hidup dan cara bertindak kita 
`bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa/Allah'.  Marilah kita menjadi 
pendengar baik, dengan rendah hati sambil membuka hati, jiwa, akal budi dan 
tubuh terhadap aneka sapaan dan sentuhan Allah melalui para pewarta kabar baik 
masa kini, seperti uskup, pastor/pendeta/kyai/biksu, dst..maupun guru-guru 
agama. Kami berharap para orangtua mendidik dan membina anak-anaknya untuk 
menjadi pendengar baik sedini mungkin. 
•       "Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang 
kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu. Janganlah Engkau menampik kami, 
oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! 
Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya! Adakah yang dapat 
menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah 
langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah 
kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu" (Yer 14:20-22). Kutipan doa 
ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan, lebih-lebih ayat terakhir 
yang berbunyi "Bukankan hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan 
kami, yang membuat semuanya itu". Semuanya, apa yang baik, indah, luhur dan 
mulia adalah karya Allah, dan itu semua kiranya dapat kita lihat dan nikmati 
saat ini juga, karena semuanya itu ada di sekitar kita, di lingkungan hidup 
kita. Memang di sekitar atau di lingkungan hidup kita juga ada yang 
buruk/jahat, amburadul, remeh dan amoral, sebagai buah karya setan melalui 
orang-orang fasik atau jahat. Hendaknya harapan, dambaan, kerinduan dan impian 
kita terarah pada apa yang biak, indah, luhur dan mulia, dengan kata lain hidup 
baik dan berbudi pekerti luhur. Untuk itu marilah pertama-tama kita kenangkan 
orangtua kita masing-masing, yang dengan penuh kasih, pengorbanan dan 
perjuangan menaburkan apa yang baik, indah, luhur dan mulia pada diri kita 
masing-masing. Memang ada sedikit perbedaan kwalitas  benih yang ditaburkan, 
tergantung dengan anugerah Allah yang diterima dan dihayati oleh orangtua kita 
masing-masing. Maka ketika di dalam hidup bersama dan kerja bersama kita 
menghadapi aneka perbedaan kwalitas maupun bentuk, hendaknya saling dibagikan 
dan kemudian disinerjikan., sehingga kita bersama-sama berjalan dalam 
pengharapan akan Allah Yang Esa, yang menganugerahkan segala sesuatu yang kita 
butuhkan. 

"Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya 
rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah 
kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan 
ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan 
orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang 
yang ditentukan untuk mati dibunuh!" (Mzm 79:8-9.11) 
Jakarta, 27 Juli 2010          


Kirim email ke