"Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri"
(Yer 26:1-9; Mat 13:54-58)
 
"Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah 
ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya 
hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak 
tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, 
Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada 
bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa 
dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di 
mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena 
ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ." (Mat 
13:54-58), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Seorang nabi pada umumnya adalah suci serta bertugas menyebarluaskan 
kebenaran-kebenaran atau suara/ kehendak Allah; ia adalah utusan Allah, maka 
selayaknya dihormati dimana-mana, lebh-lebih oleh orang-orang beriman. 
Kebanyakan dari kita memiliki sikap mental bahwa apa-apa yang  berasal dari 
luar negeri/daerah lebih baik daripada apa yang ada di dalam negeri/daerah, 
padahal secara obyektif apa yang ada di dalam negeri/daerah sebenarnya lebih 
baik dan berkwalitas daripda yang berasal dari luar negeri/daerah. Maka 
benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa "Seorang nabi dihormati 
dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan dirumahnya". Sabda Yesus ini 
memperingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan apa-apa yang 
baik, indah, luhur, mulia di tempat asal kita sendiri, di rumah atau lingkungan 
hidup kita sendiri. Untuk itu memang kita sering harus berani mengambil jarak 
dari tempat asal atau rumah kita sendiri untuk melihat lebih teliti, cermat, 
tepat dan benar apa-apa yang ada di dalam tempat asal atau rumah kita sendiri. 
Sebagaimana para pemain sepak bola tak mungkin merefleksi permainan mereka 
sendiri dengan baik, melainkan pengamat atau penonton akan lebih baik dalam 
merefleksi permainan, demikian juga perihal kebersamaan hidup kita. Maka 
silahkan sekali waktu anda `keluar' dari rumah dan tempat asal untuk melihat 
dalam terang Tuhan apa yang ada di dalam tempat asal atau rumah kita. Marilah 
kita hormati, junjung tinggi apa-apa yang baik, benar, mulia dan indah di 
tempat asal atau rumah kita sendiri. Marilah kita kenakan pakaian produksi 
dalam negeri, kita konsumsi aneka jenis makanan dan minuman yang sehat yang 
berasal dari tempat asal atau rumah sendiri. 
•       "Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku 
yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan 
hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, -- tetapi kamu 
tidak mau mendengarkan -- maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, 
dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (Yer 26:4-6). Marilah 
kita dengarkan dan laksanakan perkataan para nabi, para pengkotbah, para guru 
agama, para pembawa kebenaran di dalam hidup dan kerja kita bersama setiap 
hari. Perkataan mereka mungkin jarang kita dengarkan, maka baiklah kita baca, 
renungkan dan hayati tulisan-tulisan mereka atau aneka aturan dan tatanan hidup 
sebagai terjemahan kehendak Tuhan melalui orang-orang baik dan benar. Ada aneka 
macam aturan dan tatanan hidup yang tertulis dimana-mana, misalnya di jalanan 
ada rambu-rambu lalu lintas atau petunjuk jalan, dalam aneka kemasan makanan, 
minuman, obat dan sarana-prasarana ada aturan pakai, dalam hidup dan kerja 
bersama ada aturan atau tatanan demi kesuksesan dan kebahagiaan hidup maupun 
kerja, dst.. Pengalaman menunjukkan ketika warga kota tidak mentaati atau 
melaksanakan aturan atau tatanan hidup bersama, maka apa yang terjadi di dalam 
kota adalah kutuk atau musibah bagi warga kota sendiri, misalnya perilaku warga 
membuang sampah seenaknya sehingga menyumbat saluran-saluran maupun sungai yang 
mengakibatkan banjir bandang, penyambungan kabel listrik seenaknya menyebabkan 
kebakaran, berkendara seenaknya menyebabkan kecelakaan dan korban manusia, 
dst..  Jika terhadap aturan atau tatanan hidup bersama yang sederhana itu saja 
orang tak mampu mentaati dan melaksanakannya, apalagi aturan atau tatanan lain 
yang lebih berat dan rumit. Marilah kita biasakan mentaati dan melaksanakan 
aneka aturan dan tatanan hidup sehari-sehari di rumah kita sendiri, di 
lingkungan hidup kita sendiri, di tempat kerja atau belajar kita, dst… 

"Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di 
kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang 
memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak 
kurampas. Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi 
mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi 
anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata 
yang mencela Engkau telah menimpa aku "
(Mzm 69:5.8-10)
Jakarta, 30 Juli 2010


Kirim email ke