Mg Biasa XVIII: Pkh 1:2; 2:21-23; Kol 3:1-5.9-11; Luk 12:13-21
"Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, 
jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

"Kami bercita-cita mengumpulkan harta benda atau uang untuk tujuh turunan, demi 
anak, cucu, buyut, canggah dst... masa depan"  demikian motto beberapa orang 
yang serakah dan bersikap mental materialistis. Dalam terbitan majalah mingguan 
`Tempo' akhir bulan Juni 2010, antara lain dihebohkan perihal jumlah simpanan 
atau rekening beberapa jendral polisi. Komentar atas tulisan itu, entah yang 
bersikap positif atau negatif, cukup meramaikan dalam pemberitaan di media 
massa, baik elektronik maupun cetak. Saat ini pun para penegak hukum sedang 
disibukkan oleh masalah korupsi yang telah dilakukan oleh para pejabat beserta 
kroni-kroninya. Tenaga dan dana cukup besar dibutuhkan untuk menangani aneka 
macam bentuk korupsi, termasuk mereka yang sedang berkuasa, yang mungkin 
terlibat dalam korupsi, harus berjuang demi pembersihan diri. Yang cukup 
menarik bulan lalu adalah bahwa penanganan kasus korupsi sementara `di peti es 
kan' dengan dibesar-besarkannya kasus video porno Ariel-Luna Maya maupun kasus 
`Gaza' perihal relawan-relawati yang konon diserang oleh tentara-tentara 
Israel. Mau tidak mau masyarakat disibukkan dengan dua kasus tersebut, dan lupa 
memperhatikan kasus-kasus korupsi. Berbagai macam peristiwa dan pemborosan 
waktu maupun tenaga tersebut hemat saya mencerminkan perhatian "orang yang 
mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri", sehingga suasana hidup bersama kurang 
damai dan selamat. Warta Gembira atau Injil hari ini kiranya dapat menjadi 
bahan permenungan atau refleksi yang baik bagi kita semua, maka marilah kita 
renungkan atau refleksikan. 

"Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, 
dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya 
dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak 
kaya di hadapan Allah." (Luk 12:20-21)        
Aneka bentuk harta benda atau uang dapat musnah dalam sesaat atau waktu 
singkat, entah karena kebakaran, banjir bandang atau judi, dst.. namun 
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan tidak akan mudah musnah atau 
berkurang karena aneka macam bentuk bencana alam maupun musibah, tetapi justru 
semakin bertambah, handal dan mendalam. Dalam rangka hidup beriman atau 
beragama memang mereka yang bersikap mental materialistis atau pengumpul harta 
benda/uang adalah orang bodoh, miskin di hadapan Allah. Maka marilah dalam 
hidup dan kerja atau pelayanan kita senantiasa lebih mengutamakan atau 
mengedepankan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan. 

"Pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." 
(Luk 12:12), demikian sabda Yesus. Roh Kudus hidup dan berkarya terus menerus 
dalam hidup dan kerja kita maupun lingkungan hidup kita, dan mengajar kita apa 
yang harus kita lakukan. Maka marilah kita lihat, dengarkan, laksanakan 
pengajaran Roh Kudus, yang antara lain menjadi nyata dalam keutamaan-keutamaan 
atau nilai-nilai kehidupan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, 
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" 
(Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan ini kiranya ada 
dalam dan dihayati oleh saudara-saudari kita yang berkehendak baik, tanpa 
pandang bulu, SARA, usia, jabatan, kedudukan atau fungsi. Marilah kita 
dengarkan apa yang dikatakan oleh saudara-saudari kita yang berkehendak baik 
maupun meneladan cara hidup dan cara bertindaknya. 

Kepada mereka atau siapapun yang kaya akan harta benda atau uang kami harapkan 
hidup penuh syukur dan terima kasih serta menghayati maupun memfungsikan semua 
harta benda atau uang sebagai anugerah Tuhan. Harta benda atau uang pada 
dasarnya bersifat sosial, maka semakin memiliki harta benda atau uang hendaknya 
semakin sosial, antara lain semakin memperhatikan mereka yang miskin dan 
berkekurangan di lingkungan hidup kita masing-masing. Dengan bertindak 
demikian, maka anda tidak hanya kaya akan harta benda atau uang, melainkan 
sekaligus kaya di hadapan Allah. Marilah kita jauhkan dan berantas sikap mental 
materialistis dalam diri kita masing-masing maupun dalam lingkungan hidup dan 
kerja atau pelayanan kita. 

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara 
yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah 
perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kol 3:1-2)       
Apa yang akan kita lakukan atau kerjakan hari ini sangat tergantung pada apa 
yang kita pikirkan begitu terjaga dari tidur di pagi hari. Masing-masing dari 
kita sebagai manusia adalah ciptaan Allah, berasal dari Allah dan diharapkan 
kembali kepada Allah ketika hidup kita di dunia ini berakhir. Kita berasal dari 
atas dan diharapkan kembali ke atas, maka baiklah kita senantiasa memikirkan 
perkara yang di atas. Dengan kata lain marilah kita berusaha melihat, 
memikirkan dan menghayati karya Allah di bumi ini melalui ciptaan-ciptaanNya, 
entah di dalam binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan maupun dalam diri manusia 
yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. 

Marilah setiap pagi kita berdoa sebagaimana didoakan oleh raja Salomo,yang 
dikenal sebagai raja bijaksana:"Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham 
menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang 
baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat 
besar ini?"(1Raj 3:9). Yang dimaksudkan dengan perkara oleh Salomo adalah `umur 
panjang atau kekayaan atau nyawa musuh'.  Perkara ini kiranya juga kita hadapi 
setiap hari dalam hidup, kerja atau pelayanan kita, maka marilah kita 
senantiasa mohon kepada Tuhan agar kita dianugerahi `hati yang faham menimbang 
perkara', agar kita mampu membedakan antara yang baik dan buruk dan kemudian 
memilih dan melaksanakan apa yang baik. Ingatlah dan sadarilah bahwa semakin 
tambah umur berarti semakin banyak perkara yang harus dihadapi, demikian juga 
semakin kaya akan harta benda maupun musuh alias apa atau siapa yang kurang 
disenangi atau tidak sesuai dengan selera pribadi. 

Kami berharap kita semua berada `di atas' harta benda atau uang atau aneka 
macam ciptaan Allah di bumi ini, sebagaimana kepada manusia yang pertama kali 
diciptakan, Adam, menerima tugas dari Allah "Beranakcuculah dan bertambah 
banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut 
dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 
1:28). Hendaknya kita jangan sampai berada ` di bawah' ciptaan lainnya maupun 
aneka jenis harta benda alias dijajah, sehingga kita berbakti kepada `berhala'. 
Perkembangan dan pertumbuhan aneka jenis produksi elektronik maupun assesori 
sedikit banyak telah mempengaruhi banyak orang lebih dikuasai atau dirajai oleh 
produk-produk atau harta benda tersebut daripada oleh Allah. Marilah kita 
saling membantu dan mengingatkan agar kita senantiasa setia menjadi `tuan' atas 
ciptaan-ciptaan Allah lainnya di dunia ini. 

"Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai 
anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, 
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.Engkau 
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di 
waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu" 
(Mzm 90:3-6)  
Jakarta, 1 Agustus 2010


Kirim email ke