"Apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?"
(2Tes 1:1-5.11b-12; Mat 23:13-22)

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu 
orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan 
orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha 
untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai 
kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu 
mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti 
akan menerima hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat 
dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi 
lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi 
penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, 
yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai 
pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu 
tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu 
orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau 
Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak 
sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu 
mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan 
atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?"(Mat  23:13-19), demikian kutipan 
Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan 
sederhana sebagai berikut:
•       Setiap hari kiranya kita berdoa `Bapa kami', jika tidak melupakan 
kebutuhan doa harian. Dalam doa Bapa kami antara lain kita berdoa/berkata 
"Dimuliakanlah namaMu…..di atas bumi seperti di dalam sorga". Dengan kata lain 
kita mendambakan cara hidup dan cara bertindak yang memuliakan Tuhan dalam 
situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Memuliakan Tuhan berarti 
menomorsatukan atau mengutamakan Tuhan di dalam segala sesuatu. Maka sabda atau 
pertanyaan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi "apakah yang 
lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?"  baik menjadi 
permenungan atau refleksi kita semua. Apakah yang lebih penting harta 
benda/uang atau kesucian hidup? Makanan dan pakaian atau manusia, tubuh atau 
jiwa? Sebagai orang beriman sejati tentu saja kita akan memilih dan 
mengutamakan kesucian hidup manusia alias keselamatan jiwa manusia. Maka 
marilah keselamatan jiwa manusia senantiasa kita jadikan acuan atau barometer 
keberhasilan cara hidup dan cara bertindak kita, bukan harta benda, uang atau 
aneka hal-hal duniawi. Sekiranya kita kaya akan harta benda atau uang hendaknya 
memfungsikannya untuk mengusahakan kesucian hidup atau keselamatan jiwa kita 
sendiri maupun mereka yang kena dampak hidup dan tindakan kita. Dalam dunia 
pendidikan hendaknya ledih diutamakan agar para peserta didik lebih tumbuh 
berkembang sebagai pribadi yang baik dan cerdas spiritual daripada kecerdasan 
intelektual atau kepandaian. 
•       "Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan 
kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan 
segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam 
kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus 
Kristus." (2Tes 1:11b-12). Kita semua dipanggil untuk menyempurnakan kehendak 
untuk berbuat baik dan segala pekerjaan iman kita, maka marilah kita saling 
membantu dan mengingatkan dalam melaksanakan tugas panggilan ini. Dengan kata 
lain kita semua diharapkan semakin baik, yang antara lain ditandai senang 
berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Apa yang disebut baik senantiasa 
berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja, tidak terbatas oleh ruang 
dan waktu. Sekali lagi saya katakan bahwa perbuatan baik adalah yang 
menyelamatkan jiwa manusia  Masing-masing dari kita kiranya telah menerima 
kebaikan Allah secara melimpah ruah melaui mereka yang telah berbuat baik 
kepada kita atau mengasihi kita, sehingga kita dapat tumbuh berkembang dan 
hidup sebagai mana adanya pada saat ini. Maka untuk meningkatkan perbuatan baik 
berarti dengan suka rela berani menyalurkan atau meneruskan kebaikan-kebaikan 
yang ada pada diri kita masing-masing. Kami percaya bahwa dalam diri kita 
masing-masing apa yang baik lebih banyak daripada apa yang buruk, maka 
berikanlah apa yang baik kepada orang lain, lebih-lebih nilai-nilai atau 
keutamaan-keutamaan hidup. Nilai atau keutamaan hidup semakin dibagikan atau 
diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang sedikitpun, bahkan semakin 
bertambah, semakin handal, kuat dan mendalam. "Ilmu iku kelakone kanthi laku" = 
nilai atau keutamaan kehidupan itu terjadi karena dihayati atau dilaksanakan, 
bukan dikatakan atau dijadikan bahan diskusi. 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap 
bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang 
dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara 
bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku 
bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada 
segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah 
yang menjadikan langit." (Mzm 96:1-5)
  
Jakarta, 23 Agustus 2010
  


Kirim email ke