Everytime you smile at someone, it is an action for love, 
a gift to that person, a beautiful thing.
(Mother Teresa)
 
DITTO SANTOSO
Email : [email protected] , [email protected]
Blog: www.rumahditto.blogspot.com, www.facebook.com/ditto.santoso  
Mobile : 62 81 311 420 720
 

--- On Fri, 8/20/10, Ditto Santoso - Karina KWI <[email protected]> wrote:


From: Ditto Santoso - Karina KWI <[email protected]>
Subject: Surat Presidium KWI kepada Presiden RI tgl 16 Agustus 2010
To: "'Ditto Santoso - Karina KWI'" <[email protected]>, "'Elsa Sanny'" 
<[email protected]>, "'Diah Pitaloka'" <[email protected]>, "'Puspa Kartika'" 
<[email protected]>, "'Dian Lestariningsih'" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], "'Stella'" <[email protected]>, 
"'Karina KWI, Ari'" <[email protected]>, "'vivin'" <[email protected]>, 
"'Frederikus Sundoko'" <[email protected]>, [email protected], "'Natalia 
Putri'" <[email protected]>, "'ivonne'" <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], "'Prima Riantony'" <[email protected]>, 
[email protected], "'Skundita Pratikno'" <[email protected]>, "'monika harini'" 
<[email protected]>, "'D.Nurlita'" <[email protected]>, "Sophie Toligi" 
<[email protected]>
Cc: [email protected], [email protected]
Date: Friday, August 20, 2010, 5:48 AM








Dear all,
Berikut surat gembala dalam rangka 65 tahun Indonesia merdeka.
Semoga menginspirasi…
 
 
Ditto Santoso
Capacity Building Unit - KARINA KWI
Office : Jl. H. Agus Salim No. 22 D-E, Jakarta Pusat 10350
Phone : (62-21) 3193 0518    Fax : (62-21) 3193 1135
Mobile : 62 81 311 420 720
Email : [email protected], [email protected]
Website : www.karina.or.id    
 
“Dukungan keuangan menempatkan kewajiban bagi para penerimanya untuk 
menunjukkan transparansi dan akuntabilitas atas pemanfaatan bantuan tersebut” 
(Pesan dari Paus Yohanes Paulus II kepada Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan 
dan Perdamaian, Juli 2004)
 
PELATIHAN MAKNA-1: Manajemen Keuangan Praktis 
Caritas Keuskupan Regio Jawa & Sumatra : Jakarta, 23 - 27 Agustus 2010
Caritas Keuskupan Regio Kalimantan : Jakarta, 11 - 15 Oktober 2010
Caritas Keuskupan Regio Sulawesi-Amboina-Papua-NusRa : Jakarta, 15 - 19 
November 2010
 
 
2a. 

Surat Presidium KWI kepada Bapak Presiden RI 
Posted by: "ratna ariani" [email protected]   ratna_ariani 
Wed Aug 18, 2010 5:22 pm (PDT) 


Silahkan forward ke seluruh umat katolik Indonesia dimanapun juga berada. 
Keprihatinan kita terhadap bangsa ini telah dituangkan melalui Surat para 
Gembala kita. Semoga kita bisa menjadi semakin 100 % katolik 100 % Indonesia !

Surat Presidium KWI kepada Bapak Presiden RI19 08 2010 
Presidium KWI dalam rangka syukuran kemerdekaan telah mengirimkan sepucuk 
surat kepada Bapak Presiden RI, yang pada intinya selain bersyukur atas HUT 
Kemerdekaan RI kali ini, juga mensyukuri pelbagai pencapaian yang telah 
dicapai selama tahun-tahun pemerintah SBY, di lingkungan Indonesia sendiri, 
maupun di lingkungan internasional.
Selain syukur itu, dilayangkan pula hal-hal yang masih menjadi keprihatinan 
bangsa ini, yakni kurangnya program pro-rakyat, intoleransi dan korupsi, yang 
kalau tidak dicermati akan membuat rakyat semakin apatis dan tidak pedulu 
dengan sistim politik yang semenjak 12 tahun ini dibangun.
Siang tadi (red: 16 Agustus) surat tersebut diserahkan ke Sekretariat Negara 
oleh Mgr. I. Suharyo, Wakil Ketua KWI dan Mgr. Pujasumarta, Sektretaris 
Jenderal KWI.
Berikut kami lampirkan surat presidium itu.

salam,
/psigitpr

============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= 
========= ========= ========

No. : 
164/II/8/2010 
16 Agustus 2010
Kepada YM
Presiden Republik Indonesia
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
di
J A K A R T A
Bapak Presiden yang kami hormati dan cintai,
Menjelang peringatan 65 tahun Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia 
perkenankan kami, para Waligereja Katolik Indonesia, menulis surat kepada Bapak 
Presiden.
Pertama kami ingin berterimakasih kepada Bapak Presiden. Di bawah kepemimpinan 
Bapak Presiden negara kita berhasil mengatasi goncangan-goncangan yang 
berkaitan dengan perubahan-perubahan mendalam 12 tahun lalu. Kehidupan bangsa 
menjadi lebih mantap, konflik dan kekerasan mereda, perekonomian mulai 
berkembang positif, di dunia internasional Indonesia berdiri secara terhormat. 
Dan kami bersyukur, bahwa di bawah kepemimpinan Bapak Presiden, Pancasila, UUD 
1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika tetap menjadi 
acuan dasar kebijakan negara.

Akan tetapi, Bapak Presiden, semua keberhasilan yang kami syukuri dan kami akui 
ini tidak menutup kenyataan, bahwa di dalam masyarakat terdapat 
keresahan-keresahan yang semakin mendalam, yang kalau tidak ditanggapi secara 
positif dapat mengancam masa depan bangsa kita.

Di satu pihak sebagian cukup besar rakyat Indonesia masih menghadapi 
kesulitan-kesulitan serius dalam hidup sehari-hari: kesulitan mendapat 
pekerjaan, beaya pendidikan dan kesehatan yang tetap tinggi, kriminalitas dan 
premanisme yang memberikan perasaan tidak aman, kualitas hidup terutama bagi 
orang kecil terus menurun. Sesudah 65 tahun merdeka lebih dari 100 juta warga 
bangsa belum menikmati taraf kehidupan yang wajar.

Pada saat yang sama rakyat menyaksikan elit politik sibuk dengan dirinya 
sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sepuluh bulan terakhir membuat 
masyarakat semakin sinis. Setiap hari media menyajikan berita: para wakil 
rakyat yang seakan-akan hanya mencari trik-trik baru untuk mengisi kantong 
mereka sendiri; kepolisian memberi kesan bahwa mereka dengan segala cara 
men-sabotase setiap usaha untuk memberantas korupsi di kalangan mereka sendiri; 
kejaksaan agung dicurigai sengaja memperlambat pengusutan penyelewengan; ada 
mafia hukum sehingga rakyat sulit memperoleh keadilan. Sementara itu pemerintah 
kelihatan membiarkan lembaga-lembaga yang bertugas memberantas korupsi, seperti 
KPK, digerogoti wewenang dan wibawanya.

Bapak Presiden, rakyat semakin mendapat kesan bahwa elit politik hanya melayani 
diri mereka sendiri. Hal ini akan sangat fatal karena rakyat akan kehilangan 
kepercayaan terhadap sistem politik kita sekarang, yang dengan susah payah 
telah kita bangun bersama sejak 12 tahun, yang menjunjung tinggi Pancasila.

Ada dua perkembangan yang mengkhawatirkan. Di satu pihak semakin banyak orang 
tidak mau tahu lagi tentang politik, tentang nasib bangsa, tentang cita-cita 
bersama. Mereka hanya mengejar keamanan dan sukses mereka sendiri. Mereka 
ingin masuk ke dalam lapisan golongan yang mampu menikmati konsumsi tinggi 
tawaran di iklan, promosi dan mall-mall. Mereka menyerah kepada oportunisme 
yang mereka cermati merajalela di kalangan elit politik. Rasa solidaritas dan 
kebangsaan menguap. Contoh yang diberikan oleh para elit meyakinkan rakyat 
bahwa bukan kejujuran, kerja keras dan berkualitas yang membuat seseorang 
sukses, melainkan kecekatan dalam memanfaatkan setiap kesempatan, koneksi, 
penipuan. Meluasnya sikap asal-asalan tersebut menggerogoti substansi moral 
bangsa kita dan membahayakan masa depan.

Di pihak lain kita menyaksikan bertambahnya intoleransi, sikap tertutup, keras 
dan fanatik. Kemampuan untuk menerima saudara dan saudari sebangsa yang berbeda 
budaya dan agamanya, semakin menipis. Dengan sendirinya potensi konflik dalam 
masyarakat bertambah.
Secara khusus kami ingin mengajukan tiga keprihatinan.

Yang pertama adalah kenyataan bahwa sekitar 40 persen bangsa kita belum hidup 
sejahtera. Setelah 65 tahun merdeka kenyataan ini mesti menggugah kita. Rakyat 
mengharapkan kebijakan politik dan ekonomis yang secara kasatmata berpihak pada 
orang kecil. Yang sekarang dilihat oleh rakyat adalah proyek-proyek besar di 
mana rakyat hanya menjadi penonton, bahkan mengalami penggusuran. Yang 
diharapkan oleh orang kecil bukan peminggiran atau penggusuran, melainkan 
pemberdayaan, agar mereka semakin berdaya.

Yang kedua, kami tidak dapat menyembunyikan kecemasan kami karena bertambahnya 
intoleransi dalam masyarakat. Yang paling kami sesalkan adalah bahwa negara 
kelihatan tidak bersedia melindungi mereka yang keyakinannya berbeda dari 
mayoritas. Kami amat sedih bahwa ada orang yang harus beribadah dalam suasana 
kecemasan, yang harus melarikan diri dari rumahnya karena diancam, bahwa ada 
orang-orang yang ditekan untuk melepaskan apa yang mereka yakini. 
Keragu-raguan aparat untuk melindungi mereka yang terancam justru menambah 
semangat mereka yang mau memaksakan kehendaknya. Sudah lama kami menunggu kata 
dari Bapak Presiden kepada seluruh rakyat Indonesia, yang memperingatkan bahwa 
kita semua satu bangsa, bahwa semua warga, entah kelompok besar entah kelompok 
kecil, sama-sama dilindungi dan dijamin hak asasinya untuk mengikuti keyakinan 
keagamaan mereka. Kami menunggu jaminan terbuka dan jelas dari Bapak Presiden 
bahwa negara tidak akan membiarkan kelompok-kelompok minoritas diancam.

Yang ketiga, yang paling serius, adalah korupsi yang meresap ke seluruh 
kehidupan bangsa. Kami gembira bahwa di bawah kepresidenan Bapak pemberantasan 
korupsi sudah semakin digalakkan. Tetapi korupsi tetap mengangkat kepalanya 
yang busuk. Kami berpendapat bahwa sudah waktunya segala keragu-raguan yang 
masih ada ditinggalkan, dan korupsi ditindak tanpa pandang bulu. Bapak Presiden 
boleh yakin bahwa massa besar rakyat Indonesia akan mendukung dengan gegap 
gempita usaha pemberantasan korupsi yang Bapak Presiden gulirkan, dan tidak 
akan ada vested interests yang akan dapat menghentikan ofensif antikorupsi 
itu. Kami berpendapat, bahwa korupsi merupakan kanker di tubuh bangsa Indonesia 
yang akan menghancurkannya. Bangsa yang tidak lagi tahu apa itu kejujuran 
tidak dapat bertahan.

Bapak Presiden yang kami hormati dan kami cintai, itulah hal-hal yang ada di 
hati kami, dan yang mau kami ajukan kepada Bapak Presiden. Kami sangat sadar, 
bahwa mengatasi semua masalah bukanlah pekerjaan yang mudah. Kami mengakui 
kemajuan-kemajuan yang sudah tercapai. Tetapi sekarang rakyat Indonesia 
memerlukan perspektif ke masa depan yang meyakinkan. Kami akan mendukung setiap 
kebijakan Bapak Presiden yang memacu perjuangan demi Indonesia yang sejahtera, 
adil dan maju, di mana semua warga mengalami bahwa martabat mereka terlindungi, 
atas dasar Pancasila.
Kami menyertai kepemimpinan Bapak Presiden dengan doa-doa kami yang tulus.

P R E S I D I U M 
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA

Mgr. Martinus D. Situmorang, OFMCap
K e t u a 
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal 
 


      

Kirim email ke