Mg Biasa XXII : Sir 3:17-18.20.28-29; Ibr 12: 18-19.22-24a; Luk 14:1.7-14
"Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan 
diri, ia akan ditinggikan."

Dalam amplop undangan untuk pesta, seminar atau rapat sering tertulis `maaf 
kalau salah menulis nama' di bawah nama dan alamat yang dituju, lebih-lebih 
terkait dengan gelar atau pangkat yang bersangkutan. Memang ada orang yang 
merasa bangga dan terhormat ketika gelar atau pangkat dengan lengkap tertulis 
dalam namanya, misalnya `Prof', `Dr', `Ir' MPH, MBA, dst… atau `Raden'dst.. 
Jika yang bersangkutan sungguh menghayati gelar atau pangkat yang tertulis pada 
namanya mungkin baik-baik saja atau bahkan ada orang yang malu mencantumkan 
gelar atau pangkat pada namanya, karena merasa dirinya tak layak mengenakan 
gelar atau pangkat tersebut. Ada pejabat atau petinggi ketika kurang dihormati 
merasa tersinggung dan marah. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak 
kita semua untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam, maka 
marilah kita renungkan dan hayati sabda Yesus tersebut. 

"Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan 
diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14:11) 
"Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan 
yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (2Kor 4:7), 
demikian kesaksian iman Paulus, rasul agung yang rendah hati. Mereka yang kita 
nilai agung atau besar di dalam Gereja Katolik ini senantiasa menyatakan diri 
dan berusaha untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati: Para Uskup atau 
Gembala kita senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, sedangkan 
Paus/Bapa Suci menyatakan diri sebagai hamba dari para hamba yang hina dina. 
Maka marilah kita dukung dambaan para gembala kita ini dengan mendoakannya 
serta berusaha untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam 
dimanapun dan kapanpun. 

"Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan 
menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada 
kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak 
menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi 
Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). "Menenggang perasaan 
orang lain" dan "dapat menahan diri" itulah kiranya yang baik kita hayati dan 
sebarluaskan dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan 
kapanpun, untuk itu kiranya dibutuhkan matiraga yang dijiwai dengan 
pengorbanan-pengorbanan diri. Hari-hari ini saudara-saudari kita, umat Islam, 
masih dalam perjalanan berpuasa selama tiga puluh hari, maka baiklah kita 
bertenggang rasa dengan mereka sekaligus mawas diri perihah keutamaan 
`matiraga' yang sangat dibutuhkan untuk hidup dan bertindak rendah hati. 

Secara harafiah `matiraga' berarti mematikan raga atau tubuh, sedangkan yang 
dimaksudkan adalah mengendalikan gejolak dan nafsu tubuh/raga agar bergerak 
atau berfungsi sesuai dengan kehendak Allah. Gejolak nafsu yang merayu kita 
antara lain nafsu akan harta benda/uang, pangkat/kedudukan, kehormatan duniawi 
dan seksual. Bermatiraga dalam hal-hal itu berarti memfungsikan harta benda 
atau uang, menghayati pangkat atau kedudukan serta kehormatan dunia maupun 
hubungan seksual demi keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita sendiri maupun 
sesama atau saudara-saudari kita. Ketika kita mampu melaksanakan hal itu 
kiranya kita akan hidup dan bertindak dengan rendah hati, `merendahkan diri' di 
hadapan orang lain. Kami berharap para pemimpin, atasan, orangtua atau petinggi 
dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup dan bertindak dengan rendah hati 
yang mendalam. Semakin kaya akan harta benda/uang, jabatan atau kedudukan, 
kehormatan duniawi, tambah usia dan pengalaman, dst.. hendaknya semakin rendah 
hati, sebagaimana dikatakan oleh pepatah "Bulir padi semakin berisi semakin 
menunduk, sedangkan bulir padi yang tak berisi akan menengadah ke atas".

"Kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi 
dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat 
anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang 
menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi 
sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru," (Ibr 12:22-24a) 

Kutipan di atas ini mengindikasikan suatu ingatan bahwa ketika kita sedang 
memasuki atau berada di dalam tempat ibadat (gereja/kapel, masjid, kuil, pura, 
dst..) pada umumnya bersikap rendah hati, penuh hormat, hening serta merasa 
damai dan tenteram dalam persaudaraan dengan Tuhan maupun sesama  manusia. 
Hendaknya pengalaman tersebut tidak dipisahkan dari pengalaman atau cara hidup 
dan cara bertindak sehari-hari dimanapun dan kapanpun. "Iman tanpa perbuatan 
pada hakekatnya mati", demikian kata Yakobus dalam suratnya. Sikap hidup 
terhadap Tuhan dan sikap hidup terhadap sesama manusia serta ciptaan lainnya 
bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. 

Marilah kita hidup bersama dalam kemeriahan sebagai anak-anak Allah, 
orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sebagai 
orang-orang `yang namanya terdaftar di sorga'.  Harap disadari dan dihayati 
baru dalam status `terdaftar', belum `diakui', apalagi `disamakan', hidup kita 
di dunia ini belum atau tidak sama di sorga. Panggilan atau tugas pengutusan 
kita semua adalah berusaha agar hidup dan  bertindak kita di dunia ini sama 
seperti di sorga, sebagaimana setiap kali kita doadakan dalam doa Bapa Kami 
"Jadilah kehendakMu di dunia ini seperti di dalam sorga".  Cara untuk itu 
antara lain senantiasa setia pada dan melaksanakan sepenuhnya janji-janji yang 
pernah kita ikrarkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, 
kaul, janji atau sumpah pegawai atau jabatan dst… 

"Lakukanlah pekerjaanmu dengan sopan, ya anakku, maka engkau akan lebih 
disayangi dari pada orang yang ramah-tamah. Makin besar engkau, makin patut 
kaurendahkan dirimu, supaya kaudapat karunia di hadapan Tuhan"(Sir 3:17-18). 
Kutipan ini kiranya semakin menegaskan dan meneguhkan kita semua untuk hidup 
dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam. Marilah kita lakukan pekerjaan 
kita apapun dengan sopan. Sopan berarti menghadirkan diri sedemikian rupa 
sehingga tidak melecehkan atau merendahkan yang lain dan membuat orang lain 
semakin tergerak untuk semakin beriman atau semakin mempersembahkan diri 
seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama 
manusia. Kami harapkan kita senantiasa berpakaian sopan, jauhkan cara 
berpakaian yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan 
kejahatan. Berpakaianlah sedemikian rupa sehingga orang yang melihat anda akan 
memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan. 

"Orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira 
dan bersukacita. Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan 
bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; 
beria-rialah di hadapan-Nya! Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para 
janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal 
kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga 
mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul" 
(Mzm 68:4-7)

Jakarta, 29 Agustus 2010


Kirim email ke