Menikah hidup lebih sehat
Publikasi: 08/02/2005 09:41 WIB
eramuslim -
Seorang pemuda yang baru saja menikah diitanya oleh rekannya:"Bagaimana
rasanya nikah?" Jawab pemuda itu: "Wah payah, enaknya cuma 5 persen!" Rekannya
bertanya lagi penasaran: "Ah masak sih?". "Iya, yang 95 persennya, enak
banget!" Jawab pemuda itu sambil tersenyum lebar.
Ungkapan tersebut, kendati cuma guyonan tapi mencerminkan keadaan yang
sebenarnya. Dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta,
seorang nara sumber yang menjadi pengasuh sebuah pesantren di daerah Jawa Barat
menceritakan perkawinan salah satu santrinya itu.
"Saya jadi bingung, kenapa santri saya yang baru nikah dilaporkan hampir setiap
hari pingsan. Apakah karena kesehatannya yang menurun atau ada hal lain. Lalu,
ketika saya berkesempatan langsung menanyakan apa sebabnya. Santri itu bukannya
menjawab, malah tersenyum malu," katanya.
Tentu saja, pengasuh ponpes itu sudah mahfum dengani senyum malu tersebut.
Pingsan yang dimaksud itu bukan lantaran fisik atau kesehatannya yang lemah,
justru sebaliknya. Lebih tegap dan sehat. Hanya saja, mereka masih hijau saat
merumput dalam dunia lain yang belum pernah dialami sebelumnya.
Di samping itu, kehidupan perkawinan, ternyata, membawa pengaruh baik pada
kesehatan. Pria atau wanita yang telah menikah lebih sedikit yang merokok,
mengkonsumsi minuman beralkohol dan menjadi lebih rajin berolahraga,
dibandingkan pria atau wanita yang belum menikah atau berpisah dari pasangan.
Mereka juga lebih jarang mengalami sakit kepala atau stres. Demikian yang
terlihat dari laporan hasil pusat statistik kesehatan di Amerika Serikat.
Walaupun pria yang menikah mempunyai kesehatan yang baik, tapi mereka cenderung
lebih gemuk setelah menikah. Pria yang tidak menikah, jarang yang mengalami
masalah kegemukan ini. Mengapa ini terjadi? Para ahli statistik masih belum
mampu menjawabnya.
Untuk masalah merokok, pria menikah dan tidak menikah memiliki perbedaan nyata.
Hanya separuh dari pria menikah yang menjadi perokok dibanding para pria yang
telah bercerai atau pria yang belum menikah. Mereka yang hidup bersama tanpa
menikah, juga lebih sering yang mengalami masalah kesehatan dibanding dengan
mereka yang menikah.
Hasil ini diperoleh dari wawancara terhadap 125.545 orang dewasa yang berusia
18 tahun ke atas. 58,2% diantaranya telah menikah, 10,4% telah bercerai atau
berpisah dengan pasangannya, 6,6% adalah janda, 5,7% hidup dengan pasangannya
dan 19% belum pernah menikah
Kelihatannya, pria atau wanita yang berada dalam wadah perkawinan akan merasa
mendapat lebih perlindungan dan dukungan dalam hal sosial, ekonomi, psikologis
dan juga dalam pola hidup sehat. Mereka yang menikah akan merasa aman dan lebih
mantap dalam menjalani hidupnya. Sehingga mereka menjadi lebih sehat dibanding
dengan pria-wanita yang tidak menikah, berpisah atau bercerai.
Pernikahan memang fitrah manusia, untuk menyalurkan hasrat biologis secara syah
dan bermartabat. Bukan dengan cara sembarang yang justru bisa mengundang
berbagai penyakit kelamin. Seminar-seminar yang mengangkat tajuk tentang
bahayanya virus HIV/AIDS mengakui bahwa pernikahan merupakan satu-satunya jalan
keluar yang paling aman dan sukses untuk mencegah penyakit yang belum ada
obatnya itu ketimbang hanya menyarankan dengan penggunaan kondom.
Secara alami, syahwat bisa disalurkan dengan baik dengan pasangannya, tidak
hanya bisa meningkatkan rasa cinta antara suami istri, tapi juga, keharmonisan
rumah tanggapun turut terjaga.
Dalam suatu riset di Amerika, ditemukan pula, bahwa, pasangan yang telah
menikah, hidupnya lebih teratur, terbebas dari rasa ketakutan dari penularan
penyakit kelamin yang pernah menyerang remaja dan pria atau wanita dewasa yang
lebih suka hidup tanpa ikatan perkawinan. Hidup yang teratur itu yang
menyebabkan hidup mereka lebih baik dalam tatanan dan kesehatan.
Jika pun ada perbedaan pendapat, itu wajar terjadi. Karena, kedua pasangan
berasal keluarga, pendidikan, umur, etnis dan segalanya sesuatu yang berbeda,
pasti akan memicu perbedaan. Namun, rumah tangga yang sehat, akan menjadikan
perbedaan itu sebagai nuansa penambah wawasan. Dan, bukan sebagai penyebab
perpecahan.
Dalam perspektif kejiwaan, menikah dan membangun rumah tangga yang tentram,
bahagia dan penuh cinta itu sama seperti layaknya membangun rumah yang proses
pembangunannya mesti dikerjakan secara berurutan, dan menempatkan bagian-bagian
rumah tersebut secara tepat dan harmonis.
Sebagai fondasinya adalah saling pecaya. Kemudian, di atas fondasi itu dibangun
pilar-pilar atau tiang-tiang utama yang berupa sifat kepemimpinan suami. Tegak
atau condongnya pilar kepemimpinan ini akan mempengaruhi tegak atau condongnya
bangunan yang nantinya akan berdiri.
Setelah itu, di atas fondasi yang sama dan bersandar pada tiang-tiang utama
tadi, dibangunlah dinding yang berfungsi sebagai pembentuk bangunan tadi,
pembatas dari area luar dan penyekat antara ruangan. Cantik atau tidaknya
bangunan, tergantung dari penempatan dan pengaturan dinding tadi. Dinding ini
adalah sifat iman seorang isteri.
Pada dinding tadi, dibuat pula jendela yang berfungsi sebagai pengatur keluar
masuknya cahaya matahari dan udara segar. Makin baik jendela tadi berfungsi,
tentu makin lancar pula sirkulasi cahaya dan udara segar. Jendela inilah tunduk
dan taatnya isteri.
Pada dinding itu pula tentu dibuat pintu, yang berfungsi sebagai tempat lalu
lalangnya orang-orang yang keluar masuk rumah. Pada saat-saat tertentu pintu
itu dibuka, dan di saat-saat tertentu ditutup. Inilah fungsi mampu menjaga dari
seorang isteri.
Tetapi walaupun itu semua telah dibuat dan ditegakkan, belumlah bangunan tadi
disebut rumah. Sebab ia membutuhkan atap sebagai pelindung dari panas maupun
hujan. Ketika panas, ia berfungsi sebagai peneduh dan penyejuk. Ketika hujan ia
berfungsi sebagai pemayung dan penghangat. Tentunya, bersandar kepada Tuhan dan
mengikuti ajarannya.
Manakala setiap pasangan menjalankan fungsi-fungsi tadi dengan baik, maka hidup
tidak hanya menjadi lebih sehat. Tapi, juga, rumah tangga yang penuh dengan
rasa tentram, bahagia dan penuh cinta akan terwujud.
===================================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/