Obama-Obama Kita
Oleh: Emha Ainun Nadjib


Sungguh gembira hati ini menyaksikan semakin bermunculan para calon pemimpin
bangsa. Panggung demi panggung terbangun. Terkadang mereka tampak bersaing
ketat, tetapi kemudian nyata sekali bahwa mereka sesungguhnya bukan
memikirkan eksistensi, kepentingan, atau ambisinya masing-masing, melainkan
bersama-sama mengkonsentrasikan diri pada kepentingan bangsa.



Lihatlah itu Dewan Integritas Bangsa: Salahuddin Wahid, Bambang Sulistomo,
Marwah Daud Ibrahim, Rizal Ramli, dan masih banyak lagi. Kompetisi di antara
mereka bukanlah yang terpenting, melainkan kebersamaannya untuk siap
memimpin bangsa. Begitu tampak wajah Gus Sholah, muncul kalimat di hati:
"Gus Dur sudah uzur? Masih ada Gus Sholah." Sekilas wajah Rizal Ramli
membuat decak kagum: "Gila, ini orang berani menantang debat Presiden SBY."
Marwah Daud? "Kartini abad ke-21, intelektual, lihat ketangkasan geraknya di
panggung nasional." Dan Bambang Sulistomo: "Bung Tomo saja sudah bikin geger
dunia. Apalagi putra beliau!"



Megawati gegap-gempita lagi: lantang vokalnya, brilian pemikirannya,
keluasan perspektif gagasan-gagasannya, dari gerakan mega mendung hingga
naik turunnya yoyo. Sri Sultan X membuat dada mongkog dan wajah banyak orang
berbunga-bunga. Prabowo yang mantap, Sutiyoso yang rawe-rawe rantas,
malang-malang tuntas, Wiranto kesatria yang kalem. Hidayat Nurwahid sang
ustad ahli ushulul-fiqh sehingga mendahului Majelis Ulama berpikir tentang
halal-haramnya golput. Dan Pak SBY sendiri, jangan tanya: beliau semakin
piawai bagaimana melangkahkan kaki dan melambaikan tangan.



Sebagian mereka datang ke Mega bukan untuk audisi semacam Pildacil agar
dipilih jadi calon wakil presiden. Kehadiran beliau-beliau mencerminkan
kerendahan hati dan kebesaran jiwa, bahwa yang utama bukanlah self-dignity,
melainkan pengabdian terhadap segala kemungkinan yang terbaik bagi bangsa.



Memang ada sebagian rakyat kita merasa pesimistis, atau apatis, terhadap
Pemilu 2009. Itu normal, bisa dimafhumi: hak-hak dasar untuk sejahtera
sebagai warga negara memang belum cukup terpenuhi selama ada negara
Indonesia dengan berkali-kali ganti pemerintahan dan kepemimpinan. Tapi
Indonesia akan bangun. Salah satu tanda-tandanya, sejak tahun lalu sudah
bergulir suatu "historical refreshment", gagasan pencerahan zaman yang
mendambakan kaum muda segera tampil memimpin bangsa. Itu bagai tembang
"Bang-bang Wetan": matahari baru semburat di timur.



Memang kecakapan dan kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia.
Kalau memang bangsa ini menjumpai ada pemimpin sudah 70 tahun tapi ia paling
capable, apa salahnya. Tapi kan sangat banyak orang usia tua tapi tak
dewasa, atau awet remaja bahkan tetap kekanak-kanakan. Dan bukankah justru
banyak anak muda yang secara mental dan ilmu bergerak cepat melampaui
usianya?



Jadi, ayolah: "bang-bang wetan!" A new "install". Buka pintu anak-anak muda
untuk bikin set-up baru sejarah dan peradaban. Rizal "Chelly" Mallarangeng,
Fajrul Rahman, Ratna Sarumpaet, Marwah Daud Ibrahim, siapa pun kaum muda
yang akan naik panggung? Chelly punya seabrek pengalaman aktivisme dari
Yogya hingga negeri Obama, ia sanggup menarik garis dari penjual wedang,
satpam Akademi AU, hingga istana neoliberalisme. Fajrul penuh nyali dan ilmu
yang memadai. Sarumpaet sangat menguasai "teater global" dan "drama
kehidupan". Marwah malang-melintang dari high-tech hingga santri Tebuireng.



Mereka bukan hanya layak tanding, tapi pasti unggul secara fenomenologis dan
futurologis. Anak-anak muda ditakdirkan oleh "kebiasaan" Tuhan untuk pada
zaman apa pun membawa paradigma baru. Mereka pelopor dan perintis. Mujtahid,
aktivis ijtihad, kata Islam. Mereka adalah Obama-Obama Indonesia. Andaikan
saja ada persediaan ilmu dan metodologi untuk mengerti apa hubungan
kepresidenan Obama dengan tiga tahun ia di Jakarta. Tetapi jelas anak-anak
muda Indonesia, untuk mencapai puncak kepemimpinan Negara, tidak harus
menempuh 12 tahun persiapan sebagaimana Obama penggemar teks Pancasila
membutuhkannya sebelum menjadi presiden kulit hitam "not too black" pertama
di negeri adikuasa elang macannya jagat raya.



Indonesia adalah anak bungsu suatu bangsa besar yang pernah melahirkan
Bandung Bondowoso yang sanggup membikin seribu candi hanya dalam waktu satu
malam. Kaum muda cucu Bondowoso bisa menjadi presiden kapan saja, bahkan
secara instan, karena kita bukanlah bangsa dengan kemampuan "konvensional"
sebagaimana bangsa-bangsa lain. Penduduk NKRI bukanlah bangsa burung
"emprit", melainkan "garuda".



Bung Karno cukup lulusan Bandung, tidak perlu kuliah di Belanda dan
bergabung dalam kelompok aktivis "Perhimpunan Indonesia" untuk menjadi
pemimpin terbesar mengungguli Bung Hatta dan tokoh-tokoh siapa pun yang
lain. Soeharto cukup menyerap saripati tari Bedoyo Ketawang untuk
mempecundangi kita semua selama 32 tahun. Habibie bahkan naik takhta "min
haitsu la yahtasib" alias "blessing in disguise". Gus Dur "wong agung"
dengan kebesaran dan kaliber ekstra di mana Indonesia bergulir-gulir seperti
butiran kelereng di genggaman tangannya. Megawati tidak perlu berkeringat
dan mengerahkan ilmu, kekuatan atau aji-aji apa pun saja untuk sanggup
menjadi pemimpin puncak. Dan beliau pemimpin hari ini, Susilo Bambang
Yudhoyono, tangkai bandul, penjaga keseimbangan, pembersih wajah zaman agar
senantiasa resik dan berkilau.



Tentu saja bagi calon-calon pemimpin muda itu bukan ringan bersaing melawan
presiden yang sekarang, yang sangat peka momentum kapan kasih BLT, kapan
menaikkan dan menurunkan harga minyak, kapan tanam pohon, kapan
menggratiskan pendidikan. Ia jugalah konseptor reformasi TNI dan prajurit
bangsa yang paling awal merintis pemikiran dan aspirasi reformasi.



Wiranto, Prabowo, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso, Yusril Ihza
Mahendra, karena mereka juga cucu bangsa besar sebagai adik-adiknya,
memiliki ajian pinunjul-nya sendiri-sendiri. Wiranto gagah perkasa menentang
perintah Presiden Soeharto untuk memberangus gerakan mahasiswa dan makar
jarah 1998. Prabowo tegak punggungnya, tajam pandangan mripatnya, sunyi
menanggung risiko terbanting dari tembok rumah keluarganya, dan ia memiliki
keanggunan serta kegagahannya sendiri jika nanti sebagai presiden berdiri
berjejer di hadapannya para pembalak triliunan rupiah uang rakyatnya.



Sri Sultan jangan diragukan lagi, "keris" di tangan kirinya sebagai
"Khalifatullah ing Bhumi Ngayogyakartahadiningrat" dan "pedang" di tangan
kanannya sebagai Presiden Republik Indonesia: jika kedua "kesaktian" sejarah
itu bergerak, rakyat percaya beliau akan membukakan pintu-pintu perubahan
yang tak terduga. "Keris" itu lambang kesadaran nenek moyang dan estafet
pencapaian-pencapaian peradaban, "pedang" adalah garda depan ilmu dan
kecakapan modern.



Sutiyoso dipandang oleh segala parameter rasional modern sangat tepat dan
cakap menjadi presiden, karena sukses besarnya menjaga keseimbangan Ibu Kota
selama dua periode, dengan terobosan-terobosan yang susah dicari
tandingannya. Yusril "Cheng Ho" ahli hukum tata negara adalah "panglima"
yang mengerti persis bagaimana membangunkan kembali sejumlah kebesaran
bangsa yang pernah muncul dalam demokrasi era 1950-an, dengan formula yang
terukur dosisnya dan pada proporsi yang relevan untuk kekinian.



Tua atau muda, bangsa kita bergelimang pemimpin. Si pemuda ganteng Yuddy
Chrisnandi dengan ragam pengalaman aktivismenya, Rizal Ramli dengan
keempuannya di bidang yang paling urgen dari permasalahan bangsa:
kebangkitan ekonomi. Dan Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo yang
menggegerkan dunia dari Surabaya dengan "ilmu sihir" yang menggulingkan
rumus ibu perang modern. Itu baru Bung Tomo, belum putra beliau yang pasti
jauh lebih berkaliber kependekarannya dibanding bapaknya.



Alhasil, kita optimistis menjalani 2009 ke atas. Kalau Anda mengajak
bertanding untuk mengkritik dan menemukan kekurangan atau keburukan para
calon pemimpin kita, saya abstain. Sebab, bagi saya sekarang, yang tepat
adalah membesarkan hati seorang dan setiap calon pemimpin.



Emha Ainun Nadjib

Budayawan, Koran tempo, 31 Januari 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke