Bagaimana Mengelola Garuda?

Rabu, 22 Oktober 2003

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid


Jika paparan dalam buku Peter L. Berger, "The Heretical Imperative" diadopsi
ke dalam konteks Indonesia, dapat diceritakan tentang seorang petani jawa
ditengah sawahnya, berhenti mencangkul karena ia melihat ke atas kepada
sebuah benda logam berkilat terkena cahaya matahari, dengan suara mesin
menderu-deru di angkasa. Petani itu memandang dengan takjub kepada benda
logam itu, yang dari bawah tidak terbaca tulisan disamping badannya: tulisan
Garuda Indonesia Airways. Namun petani itu tahu hal tersebut bahwa benda
tersebut adalah pesawat terbang nan jauh disana, karena tiap kali menerbangi
kawasan tersebut. Ia juga tahu bahwa ada burung besar bernama Garuda, yang
menurut cerita adalah burung yang dikendarai Batara Wisnu, Tuhan kebaikan
dalam mithologi pra Islam yang sampai saat ini masih berkembang di beberapa
tempat.


"Heretical Imperative" bermakna keharusan munafik artinya harus memilih
antara dua hal yang tidak dapat dicerai. Kalau kita berpegang pada mithologi
lama yang tidak menggunakan rasio, maka berarti kita menafikan rasio itu
sendiri dan percaya pada hal-hal supranatural. Dengan demikian kita
berpegang kepada mithologi Garudanya Dewa Wisnu dan tidak mementingkan lagi
perusahaan penerbangan nasional dengan nama yang sama itu. Padahal Garuda
Indonesia Airways (GIA) adalah lambang alih teknologi, dan jika kita mampu
mengelola perusahaan penerbangan nasional itu maka akan dapat mengejar
ketertinggalan kita. Karena belum tentu kita menguasai industri pembuatan
pesawat-pesawat terbangnya, karena sudah terlanjur dimonopoli bangsa-bangsa
"maju" dunia, kita hanya mampu menguasai perusahaan penerbangannya dan bukan
teknologi pembuatan pesawat terbang itu sendiri.


Pengelolaan perusahaan penerbangan nasional itu harus pula dipecah antara
pengusahaan penerbangan dalam negeri, dan pengelolaan penerbangan luar
negeri. Bedanya yang terbesar adalah pada jenis pesawat terbang yang
digunakan, dan dengan demikian pengelolanya sendiri, nyata-nyata sangat
berbeda satu dari yang lain. Jika pengelolaan penerbangan Internasional/luar
negeri menggunakan pesawat-pesawat berbadan lebar (wide body jet) seperti
B-747 (dan sekarang juga B-777) dan A-300, yang berharga sangat mahal tiap
unitnya, maka penerbangan dalam negeri cukup menggunakan pesawat-pesawat
berbadan sempit seperti B-737 dan A-319 saja. Tentu banyak sekali variasi
pesawat terbang jet berbadan sempit yang digunakan, tetapi dominasi kedua
pesawat diatas tampaknya sulit lagi ditembus oleh lain-lainnya.


*****


Kita hampir tujuh tahun berada dalam krisis ekonomi (dan sudah barang tentu
krisis finansial) sejak 1997. sekarang pun, ketika tulisan ini dibuat kita
belum lagi mampu mengatasi krisis multi-dimensional itu. Seolah-olah, krisis
yang kita hadapi sama panjang dan krisis di Mesir yang dihadapi Nabi Yusuf,
yaitu 7 tahun. Namun mudah-mudahan krisis itu tidak memerlukan waktu selama
itu untuk menyelesaikannya. Sudah wajar jika dalam krisis itu lalu
perusahaan penerbangan Garuda juga mengalami kemunduran karena terpaksa
membatalkan rute eksploitasinya, baik domestik maupun Internasional. Sampai
hari inipun Route penerbangan dari/ ke luar negeri itu masih banyak yang
yang ditutup. Apalagi harus dihilangkannya sekian banyak rute penerbangan
keluar negeri. Yang tinggal hanyalah sangat kecil jumlah penerbangan,
umpamanya saja dari/ ke Amsterdam (Schipol).


Akibat dari hal ini maka terlepas sejumlah pesawat terbang dari tangan
Garuda. Karena umumnya masih hutang, maka pesawat-pesawat tersebut
"dilepas", baik dikembalikan kepada pemilik sebelumnya ataupun dijual. Sebab
"di lepasnya" sejumlah pesawat, karena Garuda menggunakan pesawat milik luar
negeri, atau memang dimiliki Garuda tetapi dalam bentuk pinjaman
uang/kontrak. Karena proses itu, maka Garuda terpaksa mendasarkan diri
kepada pesawat-pesawatnya sendiri dan rute penerbangan yang masih diteruskan
hanyalah yang menggunakan pesawat-pesawat yang sudah lama dimiliki Garuda.


Karena lamanya ia digunakan tanpa diperbaharui interiornya, tentu saja ia
terasa sangat kuno. Bukan itu saja, bahkan " bencel-bencel" (terkelupas)
pada tangan-tangan kursinya sampai hari ini masih dibiarkan, mungkin karena
tidak ada dana untuk memperbaikinya. Semua dana yang ada dihabiskan untuk
biaya pengelolaan dan manajemen penerbangan, dan hampir-hampir tidak ada
tersedia dana untuk perbaikan pesawat. Kalau kita mengerti hal ini, tentu
kita membenarkan sikap yang diambil untuk menunggu "kucuran dana" dari
pemerintah kepada Garuda. Salah urus di masa lampau, termasuk pemberian uang
dalam jumlah sangat besar pada akhir tiap periode keuangan kepada
pihak-pihak diluar kebutuhan perusahaan tersebut (katakanlah), sebagai
"iuran wajib" kepada pihak-pihak tertentu yang dekat dengan penguasa,
akhirnya membuat Garuda berantakan sebagai sebuah badan usaha. Karena itu,
GIA tidak dapat membeli pesawat-pesawat baru dan justru mengurangi
penerbangan-penerbangan yang dimilikinya sebelum krisis multidimensi yang
kita alami sekitar 7 tahun yang lalu.


*****


Dalam mengahadapi tantangan demi tantangan di masa krisis itu, terjadi
sebuah orientasi baru dalam usaha penerbangan milik pemerintah itu. Garuda
lalu mengalihkan titik perhatiannya kepada penerbangan dalam negeri. Masih
harus dikaji apa saja yang menjadi pendorong bagi munculnya orientasi baru
itu, tetapi kemungkinan besar karena lebih mudah/murah "mencari"
pesawat-pesawat terbang baru bagi rute penerbangan dalam negeri dari pada
biaya perbaikan pesawat-pesawat terbang untuk rute perjalanan luar negeri.
Bahkan, perjalanan ke Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura (yang notabene
berada ke Luar Negeri), juga menggunakan pesawat-pesawat terbang lebih kecil
daripada sebelumnya. Demikianlah, secara salah Garuda terpaksa menerapkan
prinsip yang dikemukakan EF Schumacher, "small is beautiful" (kecil itu
indah).


Nah, dalam hal ini penulis berpendapat Garuda harus "memperoleh" kucuran
dana dari pemerintah sebagai modal kerja yang diperlukan untuk memperbaiki
pesawat-pesawatnya yang berbadan lebar yang dimilikinya, serta membayar
jumlah pertama untuk pembelian pesawat-pesawat terbang baru guna
menghidupkan rute-rute penerbangan internasional yang sudah ada, maupun
membuka rute-rute penerbangan yang baru. Dalam upaya "menciutkan"
penerbangan dalam negerinya Kalau perlu rute-rute
penerbangan dalam negeri "dialihkan" kepada maskapai-maskapai penerbangan
lain. Karena sudah pasti maskapai-maskapai penerbangan milik swasta akan
membeli saham-sahamnya. Maka harus disediakan jumlah saham tertentu untuk
disediakan bagi dan dijual kepada maskapai-maskapai penerbangan dalam negeri
seperti Merpati. Dengan demikian, dijaga keseimbangan antara penguasaan
pemerintah di satu sisi dan modal swasta disisi lain atas dunia penerbangan,
yaitu perpaduan antara kapitalisme (privatisasi/swastanisasinya) dengan
orientasi kepemilikan negara dengan demikian, kita mengikuti "arus
privatisasi" tanpa melanggar Undang-undang Dasar 1945.


Yang ada (yang patut dibanggakan) para penerbang Garuda terkenal sangat
halus dan tepat waktu (punctual) dalam kerja mereka, dan kalau ini
dikombinasikan dengan kemampuan memperbesar usaha penerbangannya tentu dalam
waktu sebentar saja akan "merajai" dunia penerbangan. Tentu saja hal itu
harus dikombinasikan dengan tingkatan kesejahteraan para karyawannya,
pembersihan besar-besaran dalam tubuh maskapai itu, dan melanjutkan
perbaikan-perbaikan fasilitas pemeliharaan (maintenance). Maka dengan
diversifikasi rute-rute penerbangan yang lebih baik di dalam negeri (antara
lain dengan menghilangkan Jakarta sebagai titik pusat penerbangan dalam
negeri, melainkan dengan membuka Manado, Banjarmasin, Denpasar, Medan dan
Ambon sebagai titik Pusat yang baru bagi penerbangan dalam negeri), maka
penerbangan dalam negeri kita akan mengalami pengembangan luar biasa secara
cepat. Nah, kalau Garuda mampu menjadikan titik baru itu sebagai pangkalan
bagi penerbangan internasionalnya, tentu Garuda juga akan berkembang secara
internasional dengan cepat. Memang mudah dikatakan, namun sulit
dilaksanakan, bukan?


Jakarta-Amsterdam, 6 September 2003


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke