Dialektika Makna Teks
dalam Cerpan Mengejar Kupu-kupu*
Denny Prabowo

Dunia anak-anak adalah dunia kertas putih. Dunia kepolosan dan
kejujuran. Lingkungan akan menjadi tinta yang menorehkan apa saja di
atasnya. Lingkungan yang paling dekat adalah keluarga. Maka keluarga
akan sangat menentukan dengan tinta warna apa sebuah kata dituliskan
di lembaran kehidupan seorang anak. Anak adalah gelas yang haus air
pengetahuan. 

Cerpen Mengejar Kupu-kupu karya Nurhadiansyah merespon sebuah potret
kehidupan seorang anak bernama Aryani dalam sebuah keluarga. Kesibukan
membaca koran dan menonton televisi rupanya telah mengalahkan gairah
orang tua menungkan air pengetahuan ke dalam gelas (anak) mereka,
seperti yang dituturkan dalam paragraf pembuka yang langsung
mengantarkan pembaca pada suasana dingin dari sebuah hubungan
keluarga. Paragraf yang menggabungkan latar waktu dan tempat, juga
peristiwa, disajikan dengan sangat puitis.
        
Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik
ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat
melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar
kupu-kupu di halaman rumah yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya
sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam
kamar menonton televisi.
        
Kupu-kupu bersayap biru yang hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar
jendela kamarnya, mengusik rasa ingin tahu Aryani, membuat gadis kecil
itu melupakan keasyikannya bermain boneka. Mengejar kupu-kupu hingga
ke halaman rumah, sebelum kupu-kupu itu membawanya ke depan pintu
pagar rumah. Aryani masih sempat menoleh ke arah mamanya yang masih
asyik menonton televisi di dalam kamarnya, dan ayahnya yang masih
asyik membaca koran di beranda rumah—sebuah peristiwa sederahana yang
agaknya tidak terlalu menarik untuk nikmati.
        
Menurut seorang filosof Prancis, Paul Ricouer, makna bahasa selalu
bersifat ganda. Makna yang muncul dari dalam hubungan-hubungan yang
ada di dalam teks, dinamakan makna teks. Dan makna yang lahir dari
hubungan antara teks dengan dunia di luar teks, dinamakan referensi.
Dalam prakteknya, dialektika makna teks dan referensi bisa pula
dikatakan dialektika makna teks dan peristiwa.
        
Dalam bahasa yang lebih populer, makna teks sangat dekat dengan sifat
puitis, sedangkan apa yang dinamakan peristiwa lebih dekat dengan
sifat prosais—Saya katakan "sifat" sebab belakangan nyaris sulit
dibedakan antar puisi yang prosais dengan prosa yang puitis.
        
Cerpen Mengejar Kupu-kupu tidak bermain pada peristiwa, tetapi lebih
menekankan pada kekuatan makna. Kupu-kupu yang digambarkan pengarang
dalam cerpen ini tidak bisa dipahami hanya sekedar hewan yang bisa
terbang dan memiliki warna indah. Pemahaman semacam itu akan
menyebabkan cerpen ini kehilangan makna yang sesungguhnya ingin
disampaikan oleh penulisnya.  
        
Oleh sebab itu, untuk memahami makna kupu-kupu yang ada dalam cerpen
Mengejar Kupu-kupu hanya mungkin dilakukan dengan membaca teks. Dari
pemaparan di paragraf awal cerita semestinya kita sudah bisa memahami
makna dari kupu-kupu yang dikejar oleh tokoh Aryani.
Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada
di dalam kamar menonton televisi. Lalu di mana Aryani ketika itu?
...ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika ia
melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,"Kupu-kupu! Kupu-kupu!",
dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya
langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua
orangtuanya tak ada yang tahu, kalau anaknya telah meninggalkan rumah,
mengejar kupu-kupu bersayap biru. 

Maka, jelaslah bahwa makna dari kupu-kupu yang sesungguhnya adalah
keinginan atau harapan atau impian dari tokoh Aryani akan dekap hangat
kedua orantuanya. Sayangnya makna teks yang telah berbicara banyak
pada pembacanya dirasa belum cukup oleh penulisnya, sehingga penulis
merasa perlu menjelaskan secara verbal lewat dialog salah seorang
tokoh yang diucapkan ketika tokoh itu terheran-heran melihat seorang
anak kecil berlari-lari seperti mengejar sesuatu, "Barangkali ia
mengejar mimpi." Karena tak ada seorang pun yang melihat kupu-kupu
yang dikejar oleh Aryani.

Apakah kupu-kupu selalu bermakna harapan atau keinginan atau impian?
Dalam cerpen Ada Kupu-kupu, Ada Tamu karya Seno Gumira Ajidarma,
kupu-kupu tidak digunakan sebagai metafora dari harapan atau keinginan
atau impian, tetapi sebuah pertanda akan datangnya `tamu' yang dalam
cerpen itu digambarkan sebagai malaikat maut atau ajal. Makna dari
kupu-kupu bisa berbeda-beda tergantung pada pemaparan dalam teks.
Setelah pengejarannya, yang sampai membuat kekacauan lalu lintas itu,
akhirnya kupu-kupu itu berhenti, sekuat tenaga Aryani melompat. Hap!
Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam
genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya.
Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan
tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu
kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan
entah apa. 
        
"Hiii..."

Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu
itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi
lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu
merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar.
Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan
Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu.
Aryani yang telah bermetamorfosa menjadi kupu-kupu terbang ke rumah
sambil menangis. Ketika sampai di depan rumahnya, Ia melihat Ayahnya
masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi
di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya
tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sudah berubah menjelma seekor
kupu-kupu. 

Adegan-adegan di atas seperti menjelaskan mengapa harus kupu-kupu yang
dipakai untuk menganalogikan keinginan atau harapan atau impian
Aryani. Kupu-kupu memiliki sayap yang rapuh. Rasanya itu cukup
menggambarkan betapa rapuh impian seorang Aryani, serapuh sayap
kupu-kupu. Karena setelah dia berhasil meraih kupu-kupu bukannya
kebahagiaan yang dia dapati, melainkan kesedihan karena dirinya
menjelma menjadi kupu-kupu. 

Cerpen ini ditutup dengan ending yang sungguh tidak terduga yang
sekaligus menjadi kekuatan utama dari cerpen ini. Sebuah teknik
penyelesaian yang menimbulkan berbagai penafsiran, mengingatkan saya
pada cerpen Karnaval karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Iblis tak
Pernah Mati

Rumah Cahaya, 30 Maret 2006
________________________________________________________________________
* cerpen MENGEJAR KUPU-KUPU karya Nurhadiansyah dalam buku antologi
cerpen FLP Depok & DKI,  KUPU-KUPU DAN TAMBULI  diterbitkan oleh Dewan
Kesenian Jakarta, Pebruari 2006. harga Rp. 30.000,- sudah termasuk
ongkos kirim. Seluruh hasil penjualan akan disumbangkan untuk
perpustakaan Rumah Cahaya FLP Depok. Pemesanan bisa lewat SMS ke nomer
0818 0290 1679 (Denny Prabowo) atau 0813 6767 5459 (Koko Nata)
        







Apa yang anda cari mungkin ada di sini
http://www.bukusiber.com 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sastera/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke