Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh         27
Oktober - 02 Nopember 2006            Jika halaman ini tidak tampil
sebagaimana mestinya, klik di sini.
<http://www.commongroundnews.org/edition.php?sid=1&lan=ba>
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK) bertujuan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan dengan
hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa Arab,
bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Untuk berlangganan, klik di sini.
<http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?list=cgnewspihindonesian>
Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org
<http://www.commongroundnews.org/index.php?sid=1&lang=ba> .
Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan semua
artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat kabar.
Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor Berita
Common Ground (CGNews).     Dalam edisi ini      1) Aliansi
Islam—Barat Melawan Sektarianisme di Iraq
<http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\
rte=1#3037>  oleh Mehlaqa Samdani
Penulis freelance, Mehlaqa Samdani, membahas peran yang dapat dimainkan
oleh dunia Muslim dan Barat dalam mengurangi konflik sektarian di Iraq.
Menyoroti para pemain utama di Iraq dan mereka yang mampu menggerakkan
opini publik, Mehlaqa menyusun daftar tindakan yang bisa diambil dalam
menyatukan sekte—sekte yang ada dan menjelaskan bagaimana Barat
seharusnya mendukung usaha—usaha ini. (Sumber: Common Ground News
Service (CGNews), 23 Oktober, 2006)         2) ~PANDANGAN KAUM MUDA~
Bertemu Murid—Murid Sebuah Madrasa di Amerika
<http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\
rte=1#3038>  oleh Chinki Sinha
Chinki Sinha, seorang penulis asal India yang tinggal di New York,
menggambarkan kunjungannya ke sebuah madrasa di Massachusetts. Menghiasi
tulisannya dengan sejarah singkat sekolah—sekolah Islam dan
stereotipe—stereotipe yang mereka hadapi, blak—blakan Sinha
memaparkan kesan—kesannya bertemu murid—murid sekolah tersebut
saat ia "mewawancarai" mereka.
(Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober, 2006)        
3) Umat Muslim Menginginkan Demokrasi: Wawancara dengan Radwan Masmoudi
<http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\
rte=1#3039>  oleh Paul Kengor dan Michael Coulter
Dalam wawancara yang diterbitkan oleh Charlotte Observer, dua orang
dosen, Paul Kengor and Michael Coulter bertanya pada Radwan Masmoudi,
pendiri Center for the Study of Islam and Democracy yang berbasis di
Washington, mengenai berbagai persoalan tentang demokrasi, syari'ah
dan dunia Muslim. Benarkah umat Muslim menginginkan demokrasi?
Mungkinkah itu terjadi di Iran? Iraq? Elemen—elemen apakah yang ada
dalam ajaran Islam yang dapat dipahami sebagai "liberal"?
(Sumber: Charlotte Observer, 6 Oktober, 2006)         4) Di Balik Niqab
<http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\
rte=1#3040>  oleh Salama A Salama
Salama A Salama, kontributor tetap Al Ahram, berkomentar tentang niqab,
tudung yang dikenakan sebagian perempuan Muslim untuk menutupi seluruh
wajahnya. Tanpa melepaskan persoalan politik atau agama, Salama
menyarankan agar kita berdiskusi dengan para perempuan yang mengenakan
niqab.
(Source: Al Ahram, 19—25 October 2006)         5) RUU Perancis
Memperumit Permohonan UE Turki
<http://groups.yahoo.com/group/Sastera/post?referer=/group/Sastera/&use_\
rte=1#3041>  oleh Scott Peterson
Scott Peterson, penulis Christian Science Monitor, membahas apa arti
keputusan Perancis akan penyangkalan genosida orang—orang Armenia
bagi permohonan Turki menjadi anggota Uni Eropa (UE) dan kebebasan
berbicara. Orhan Pamuk, penerima Hadiah Nobel asal Turki, yang telah
dituduh mencemarkan Turki karena berbicara tentang orang—orang
Armenia yang terbunuh selama PD I, menyatakan, "Apa yang saya
sampaikan bukan cercaan, tetapi kebenaran. Jikapun salah, apakah orang
tak boleh menyampaikan gagasannya dengan damai?" (Sumber: Christian
Science Monitor, 13 Oktober 2006)               1) Aliansi
Islam—Barat Melawan Sektarianisme di Iraq
Mehlaqa Samdani     Pittsfield, Massachusetts – Ketika dunia Muslim
dan Barat tampak merenggang, penanggulangan konflik sektarian di Iraq
menyodorkan kesempatan unik bagi kedua belah pihak untuk bekerja sama
dan mencapai tujuan yang sama. Bahu membahu antara aktor—aktor
masyarakat sipil Muslim dan kelompok—kelompok Barat tak hanya
menjembatani sekte—sekte yang terpecah belah di Iraq namun juga
menambal rasa saling curiga yang berkembang di antara dunia Muslim dan
Barat.

Minggu lalu, Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengadakan pertemuan
dengan kaum Syi`ah Iraq dan ulama Sunni. Pertemuan itu menghasilkan
delapan butir pernyataan yang disebut Dokumen Mekkah. Dokumen tersebut
berusaha mencegah kaum Syi`ah dan Sunni saling membunuh. Inilah
prakarsa nyata pertama dunia Muslim dalam menghentikan peperangan antar
sekte di Iraq. Tentu saja ia tak boleh berhenti di sana dan mungkin akan
lebih baik jika dibumbui usaha—usaha penciptaan masyarakat madani.

Pertemuan di Mekkah seharusnya ditindaklanjuti dengan penciptaan sebuah
forum Syi`ah dan Sunni Iraq. Tujuan utama forum ini adalah
mengeluarkan fatwa—fatwa yang menangkal hasutan Abu Hamza
Al—Muhajir, sang pengganti Zarqawi. Setiap pernytaan yang
dilontarkan oleh para ekstrimis menunjuk kaum Syi`ah sebagai cucu
Ibn Al—Alqami (vizir Syi`ah yang terlibat dalam penyerangan
Mongol ke Baghdad pada tahun 1258) dan kekerasan terhadap mereka (kaum
Syi`ah) harus ditolak mentah—mentah oleh forum tersebut
berdasarkan ayat—ayat Qur'an dan pesan—pesan Nabi Muhammad
yang mendorong persatuan dan kesatuan umat.

Ulama, pemegang tampuk kekuasaan sesungguhnya, memiliki peran vital
dalam hal ini—otoritas dan pengaruh mereka terhadap rakyat jauh
melebihi pemerintah. Tanpa campur tangan pemimpin spiritual Ayatollah
Sistani, Iraq pasti sudah lama jatuh dalam perang sipil. Meski tetap
meneriakkan provokasi—provokasi khas milisi Sunni, ia menasehati
pengikutnya untuk menahan diri.

Pertemuan Mekkah dan deklarasi yang dihasilkannya harus ditebarkan dalam
mimbar—mimbar Jumat dan media—media di Iraq musti
memanfaatkannya untuk mendorong dialog antara ulama Sunni dan pengikut
Syi`ah moderat di seluruh negeri.

OKI seharusnya juga berkoordinasi dengan mantan presiden Iran, Mohammad
Khatami, yang mengepalai International Center for Dialogue yang
berkantor pusat di Jenewa. Negara—negara anggota OKI dan
negara—negara pendonor seharusnya memberikan dana pada lembaga
tersebut dan mensponsori kegiatan kemah perdamaian Syi`ah—Sunni
bagi pelajar—pelajar Iraq mengikuti model Seeds of Peace. Para
praktisi resolusi konflik dari Amerika dan Eropa diundang untuk
memberikan workshop—workshop perdamaian yang mengajarkan generasi
muda Iraq untuk menyelesaikan konflik secara damai dan mengubah
stereotipe—stereotipe keji mereka terhadap satu sama lain.

Dokumen Mekkah seharusnya juga menciptakan sebuah basis untuk
membicarakan perbedaaan theologis yang semakin lebar antara dua sekte
tersebut.

Secara historis, ahli—ahli theologi telah berusaha melakukan
rekonsiliasi. Prakarsa paling penting diambil di Kairo pada tahun 1946
dengan terbentuknya Jamat al Taqrib (Kelompok Penyesuaian). Kelompok ini
ingin menyatukan berbagai aliran pemikiran Islam dan memberikan
pengakuan terhadap legal code Syi`ah sebagai aliran jurisprudensi
tersendiri. Tahun 1959, Mohammad Shaltut, kepala Universitas
Al—Azhar mengakui Dua Belas Imam Syi`ah sebagai sebuah aliran
dan menyampaikan fatwa yang mendukung mereka. Jamat al Taqrib, terkadang
diserang oleh kelompok—kelompok ekstrim Sunni dan akhirnya berhenti
di tahun 1972. OKI harus menghidupkan kembali proses—proses seperti
itu dengan memapankan generasi baru ahli—ahli theologi yang sejalan,
baik di Iraq maupun di seluruh dunia Muslim.

Organisasi—organisasi pembinaan di Iraq juga bisa turut mengurangi
perselisihan antar sekte. Kelompok—kelompok Muslim seperti Islamic
Relief dan Muslim Aid bisa membentuk program bersama bagi kaum
Syi`ah dan Sunni, mengeluarkan uang tambahan bagi
komunitas—komunitas di mana dua sekte setuju bekerja sama. Entah
memformulasikan program—program kekaryaan di masyarakat atau
proyek—proyek berdana kecil, yang penting menyatukan kedua sekte
tersebut.

Peran serta Barat pada prakarsa—prakarsa ini cukup dalam asistensi
keamanan. Pasukan koalisi di Iraq memiliki peran kritis dalam
mengembangkan perlindungan bagi berbagai prakarsa perdamaian yang
disebutkan di muka. Organisasi—organisasi pembinaan, media massa,
dan aktor—aktor masyarakat madani lainnya tak henti menjadi target.
Mereka membutuhkan perlindungan untuk bekerja secara efektif. Jika
perlu, pasukan koalisi harus menyediakan pengamanan tambahan bagi
tokoh—tokoh masyarakat madani agar mereka dapat meningkatkan
kredibilitas dan popularitas pendahulu mereka di antara penduduk lokal.

Para pemimpin Barat juga harus menyanjung usaha masyarakat madani dalam
menghentikan konflik sektarian tersebut di depan publik, menjanjikan
dukungan mereka melalui sebuah konferensi donor. Karena
prakarsa—prakarsa masyarakat madani relatif berbiaya rendah,
negara—negara Barat pasti tak keberatan mengucurkan dana, apalagi
hal itu akan meningkatkan citra mereka di mata rakyat Iraq dan dunia
Muslim secara lebih luas.

Seluruh mata tertuju pada rancangan perdamaian Perdana Menteri Nour Al
Maliki untuk menyatukan partai—partai politik di pemerintahannya.
Agar rencana tersebut diterima oleh banyak kalangan, ia harus disisipi
prakarsa—prakarsa perdamaian di tingkat akar rumput. Sebuah strategi
efektif yang dilakukan oleh kelompok—kelompok Barat dan
aktor—aktor masyarakat madani Islam dapat terus berjalan dengan
membangun gereasi iraq masa depan yang mampu resisten terhadap sulutan
kelompok keagamaan dan politik yang ekstrim.

###
* Mehlaqa Samdani adalah seorang penulis feelance yang tinggal di
Pittsfield, Massachusetts. Artikel ini didistribusikan oleh Common
Ground News Service (CGNews) dan bisa di akses di
www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> .

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober 2006,
www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/>
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.            2) ~PANDANGAN KAUM
MUDA~ Bertemu Murid—Murid Sebuah Madrasa di Amerika
Chinki Sinha     Syracuse, New York — Kurang lebih lima menit
jaraknya dari stasiun Mansfield di Massachusetts berdiri sebuah bangunan
uzur. Sebuah gereja, begitulah tampangnya dari luar. Salib di
bumbungannya koyak moyak. Hanya ada satu balok, tengadah ke langit.
Patil horisontalnya hilang entah ke mana. Sebuah papan kecil di tembok
menyebutkan bahwa bangunan tersebut adalah Al—Noor Academy. Sebuah
bendera imut berwarna hijau dan bertuliskan huruf—huruf Arab di
gagangnya mencuat dari salah satu jendela gedung. Di atas pintu gerbang
bertahta sesabit bulan, yang tampak asing dan aneh. Tak ada menara, tak
ada simbol—simbol, atau apa pun, yang mengisyaratkan pada
orang—orang lewat bahwa ia adalah sebuah sekolah Islam.

Al—Noor dalam bahasa Arab artinya "cahaya", bisa pula
berarti "kebenaran" sebagaimana ekspresi bahasa Inggris, "to
see the light". Sekolah tersebut merupakan satu—satunya sekolah
menengah Islam di Massachusetts. Didirikan pada bulan September 2000, ia
memiliki sekitar 75 siswa. Mereka berasal dari tempat—tempat seperti
Rhode Island dan Dorchester, melakukan perjalanan selama satu jam untuk
datang ke sekolah.

Sekolah Islam sering disebut madrasa, kata bahasa Arab untuk sekolah
yang juga diadopsi oleh bahasa—bahasa lain, bahasa Urdu atau
Indonesia misalnya. "Sekolah ini bisa juga disebut Al—Noor
Madrasa," ujar salah seorang pendirinya, Dr. Saeed Shahzad.

Madrasa—madrasa sudah ada semenjak Abad ke 11. Tepatnya ketika
Nizamiyah, sebuah pusat pembelajaran, didirikan di Baghdad. Kebanyakan
berbentuk pondok dan memberikan makanan serta asrama gratis bagi para
siswa. Mereka mengajarkan agama dan mendidik murid—murid untuk
memahami syariah dan hadis.

Saat ini, madrasa—madrasa di Asia Selatan, terutama di Pakistan dan
Afghanistan, dituduh mempromosikan terorisme oleh media massa. Mullah
Mohammed Omar, seorang murid Darul Uloom Haqqania, sebuah madrasa di
Pakistan, menyokong rejim Taliban di Afghanistan pada tahun 1960—an.
Berdasarkan reputasi ini, saya tergelitik untuk mengetahui lebih jauh
perihal murid—murid Al Noor.

Sesampainya di dalam sekolahan, saya menarik jilbab agak ke bawah hingga
menutupi seluruh helai rambut di wajah. Ketika Robert Mond, sang kepala
sekolah, muncul, ia menanyakan apakah saya ingin mengunjungi sebuah
kelas. Kelas IPS baru saja dimulai. Gadis—gadis kelas 10 di ruangan
itu tampak penasaran melihat saya.

Mereka tengah melakukan presentasi tentang Jepang dewasa ini. Seorang
gadis membuka presentasi tersebut. Lampu—lampu pun dimatikan. Mata
saya menelusuri seluruh ruangan, dan ketika sampai pada peta yang
terpasang di dinding, saya mencari apakah Israel ada di sana, apakah
Israel merupakan bagian dari dunia mereka. Ternyata ada.

Remaja—remaja putri itu ingin berbicang dengan saya. Setelah
pelajaran selesai, kami lantas duduk di sebuah ruangan kelas yang
kosong. Mereka duduk di seputar saya. Tiga orang dari mereka. Tiga buku
hardcover berbahasa Arab tergeletak di meja. Mungkin ini kelas Bahasa
Arab.

Sono Ghori, Zainab Mehtar, dan Fatimah Mahdee, tak tahan untuk segera
membuka mulut mereka, terkadang mereka saling memotong pembicaraan satu
sama lain. Mereka mencintai hijab mereka, agama mereka, juga Amerika. Di
sinilah mereka di lahirkan. Di Amerika. Seberapapun sulitnya mereka
menyesuaikan diri. Sono, 14 tahun, seringkali diejek: "Kau anak
Osama atau istrinya?"

Sono memakai hijab semenjak kecil. Ibundanya sendiri tak mengenakan
hijab, namun ia tak melarang putrinya. Sono memiliki mata yang besar,
berbinar—binar saat bibirnya menari. Terlingkupi gaun biru dari
kepala hingga ujung kaki, ia dilahirkan di kalangan imigran Pakistan. Ia
mengatakan bahwa cita—citanya adalah menjadi pengacara, hingga dapat
merubah kondisi politik Amerika, negerinya. Tentang Israel, tentu saja
dia tahu. "Saya cinta Amerika, namun…..," suaranya surut
menghilang.

Sono merasa jika ia masuk sekolah umum, ia akan terpengaruh
ikut—ikutan pergi ke pesta bersama teman—temannya. Ia juga
merasa jika bergaul dengan orang non—Muslim akan membuatnya
melakukan hal—hal yang dilarang oleh agamanya, seperti melawan orang
tua, yang dalam Islam merupakan sebuah dosa. "Menurut Islam, surga
berada di bawah telapak kaki bunda," tuturnya.

Zainab, 14 tahun, bercita—cita menjadi jurnalis, agar dapat
menuliskan kebenaran. Berbeda dengan Sono, Zainab pendiam. Kedua orang
tuanya berasal dari Burma. Ia menjelaskan pada saya bagaimana sekolah
Minggu di masjid tak cukup untuk mempelajari atau menyelami agama
mereka. Ayahnya juga mengajarnya di rumah. Syukurlah di sekolah seperti
Al Noor ini, ia bisa belajar lebih banyak dan lebih bebas menjalankan
ajaran agamanya. Ia menyatakan sangat terkejut ketika saya menceritakan
laporan—laporan yang menuduh sekolah—sekolah Islam mempromosikan
terorisme.

Langsung ia mengajukan sebuah ide. Semua orang harus datang ke
madrasah—madrasah, agar dapat melihat kebenarannya.

Sayangnya, bel sekolah berbunyi. Zainab bergegas melaksanakan sholat
Ashar. Gaun birunya terseret di belakangnya.

Gadis ketiga, Fatimah, 15 tahun, sedikit bicara anaknya. Kedua orang
tuanya masuk Islam sebelum ia lahir. Meski ia memeluk agama Islam
semenjak lahir, saudara—saudara kandungnya tidak. Mereka tetap
menjalani keyakinan masing—masing. Mereka berpesta,
berjalan—jalan, dan melakukan hal—hal lain yang tak pernah ia
lakukan. Fatimah memahami semua itu. Ini adalah Amerika dan seperti
itulah kehidupannya.

Fatimah bercita—cita menjadi ahli kardiologi dan membaktikan diri
bagi masyarakat berkulit hitam, keluarganya.

Lihatlah, tak satupun dari mereka bercita—cita menjadi teroris.

Sebuah percakapan yang normal, pilihan—pilihan normal,
gadis—gadis normal.

###
* Chinki Sinha seorang penulis asal India yang tinggal di New York.
Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan
bisa diakses di www.commongroundnews.org
<http://www.commongroundnews.org/> .

Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 23 Oktober, 2006,
www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/>
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.            3) Umat Muslim
Menginginkan Demokrasi: Wawancara dengan Radwan Masmoudi
Paul Kengor dan Michael Coulter     Dr. Masmoudi, Benarkah umat Muslim
dan masyarakat Arab menginginkan demokrasi?

Lebih dari 90 persen masyarakat Arab dan umat Muslim di 10 negara
berpenduduk mayoritas Muslim yang telah dimintai pendapat memandang
demokrasi sebagai bentuk pemerintahan terbaik. Jajak pendapat lainnya
menyatakan lebih dari 80 persen penduduk dunia Arab tak ingin hukum
syari'ah dijadikan sebagai hukum negara mereka. Mereka mengatakan
ingin pemerintahan mereka berlandaskan nilai—nilai Islam, tapi tak
ingin implementasi syari'ah yang kaku. Jadi ada perlawanan dari
dalam jiwa umat Islam dan ini bukan terjadi kemarin atau setelah
9—11, tetapi jauh sebelumnya, paling tidak satu abad yang lalu,
bersamaan dengan hasrat akan modernisasi di dunia Islam. Penduduk Mesir
malah menginginkan reinterpretasi ajaran Islam lebih dari seratus tahun
lalu.

Dalam terbitan Anda, Muslim Democrat, Anda membicarakan
elemen—elemen dalam Islam yang dapat diinterpretasikan sebagai
"liberal". Bisakah Anda menjelaskannya?

Kebebasan beragama itu sangat penting—tak ada paksaan dalam
beragama. Memaksakan agama itu bertentangan dengan tujuan agama itu
sendiri, bertentangan dengan kehendak Tuhan. Islam sangat menekankan
agar seseorang memutuskan sendiri keimanannya. Ada banyak contoh
diberikan dalam sejarah Islam, bagaimana orang—orang di masjid
berdebat mengenai eksistensi Tuhan, terutama pada tiga abad pertama.
Saya percaya agama mustilah sebuah pilihan. Itulah yang Tuhan inginkan.

Dua prinsip politik yang dituntunkan dalam Qur'an adalah keadilan
and shura. Shura itu perundingan, musyawarah. Persoalannya tak ada
institusi atau metode yang menunjukan bagaimana musyawarah itu
seharusnya dilakukan. Menurut saya, umat Muslim gagal memahami pesan dan
menerapkan gagasan ini.

Menurut Anda manakah negara Arab atau Muslim di Timur Tengah yang mampu
melaksanakan demokrasi, sehingga bisa dijadikan contoh? Mungkinkah Iran?

Membicarakan negara Muslim secara umum, saya akan mengajukan Turki
sebagai contoh. Turki sungguh sebuah contoh yang baik bagi masyarakat
dan negara Muslim yang demokratis. Saya pernah mengunjungi Iran dan
Turki. Penduduk Iran barangkali merupakan masyarakat relijius terakhir
saat ini. Itu karena pemerintah Iran mencekokkan agama ke mulut mereka.
Sesungguhnya ada perlawanan terhadap agama di Iran, karena para mullah
mencoba memerintah atas nama Islam dan mereka sangat tidak demokratis
dalam melakukan hal itu. Penduduk Iran mulai membenci pemerintah dan
anak—anak muda mereka membenci agama. Turki benar—benar
kebalikannya. Turki adalah negara yang tak memaksakan agama apa pun pada
penduduknya, namun penduduk Turki termasuk yang paling relijius di Timur
Tengah dan dunia Muslim. Apabila Anda ingin meyakinkan seorang pemimpin
Islam bahwa sebuah negara Islam yang memaksakan agama pada penduduknya
bukanlah sebuah ide yang bagus, bawalah ia ke Iran, tinggal di sana
selama satu—dua minggu, lalu bawa ke Turki. Ia pasti berubah
pikiran.

Anda merasa optimis atau pesimis dengan prospek demokrasi di Iraq?

Untuk jangka waktu panjang saya optimis, tapi tidak dalam jangka pendek.
Saya malah khawatir akan terjadi pergolakan di sana.

Dapatkah Anda memberikan kesimpulan akan pemikiran Anda mengenai Islam
dan demokrasi di abad ini

Kita perlu mereinterpretasi Islam, tapi bagaimana kita dapat
melakukannya di bawah kediktatoran, ketika semuanya dikontrol oleh
negara? Demokrasi adalah kuncinya, ia akan membuka kesempatan untuk
mendiskusikan berbagai persoalan dan mengatasinya. Perlu waktu memang.
Yang pasti, di Abad 21 ini, kita membutuhkan kebebasan berbicara tentang
makna Islam.

###

* Radwan A. Masmoudi, Tokoh kelahiran Tunisia, mendirikan Center for the
Study of Islam and Democracy yang berbasis Washington. Artikel ini
didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan bisa
diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> .

Sumber: Charlotte Observer, 6 Oktober, 2006, www.charlotte.com
<http://www.charlotte.com/>
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.            4) Di Balik Niqab
Salama A Salama     Kairo–Mesir dan Inggris, kontroversi tentang
busana Islami bagi para perempuan mendominasi headline media massa
akhir—akhir ini. Para intelektual memperdebatkan kesanggupan
perempuan mengenakan niqab, atau tudung yang menutupi seluruh wajah,
agar bisa keluar di muka umum. Niqab adalah kesadaran jiwa. Perempuan
yang menutupi wajah mereka biasanya menutupi seluruh tubuh mereka,
termasuk tangan. Hijab atau jilbab tak menjadi kontroversi karena ia
merupakan bentuk yang lebih halus dari tata kesopanan. Ijinkan saya
menyebutkan bahwa ibu—ibu dan saudari—saudari kita tak merasa
perlu membungkus kepala mereka atau menutupi wajah mereka dan tetap
menjaga kesopanan di muka umum. Alas, this time is now gone.

Niqab adalah fashion terakhir dan ia dikaitkan begitu saja dengan agama
tanpa alasan yang jelas. Perempuan mengenakan niqab tak dapat bergerak,
berbicara, makan, bahkan melihat. Lalu sebagian orang bersikukuh bahwa
mengenakannya merupakan kewajiban agama.

Di London, Jack Straw, pemimpin House of Commons, yang meminta perempuan
Muslim di wilayah pemilihannya, Blackburn, untuk melepaskan niqab kalau
mau menghadap, berkata bahwa tudung yang menutupi seluruh wajah
mengganggu komunikasi. Pernyataannya memicu demonstrasi—demonstrasi
penuh amarah dan menyulut perdebatan yang panas. Menteri pendidikan
Inggris sependapat dengan Straw. Ia menyatakan bahwa para dosen merasa
tak nyaman mengajar perempuan—perempuan yang mengenakan niqab. Sang
mentri menyatakan ia mendukung keputusan London Royal Academy melarang
mahasiswa—mahasiswanya mengenakan tudung wajah. Di
sekolah—sekolah utama Inggris, para siswa protes karena mereka tak
memahami guru—guru yang bertudung wajah.

Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi di universitas Helwan di Mesir.
Presiden universitas melarang perempuan—perempuan yang mengenakan
niqab tinggal di asrama kampus dengan alasan keamanan, seperti
keselamatan para perempuan. Meski ia masih mengijinkan perempuan
berniqab ke kampus dan ruang kuliah, tak urung ia mendapat sorotan.
Sebagian orang menyamakannya dengan Presiden Perancis, Jacques Chirac,
yang melarang pemakaian jilbab di sekolah—sekolah.

Di luar kontroversi niqab, Helwan dan Blackburn berbeda bak siang dan
malam. Di Inggris, Straw menuduh pemakaian niqab memiliki tendensi
politik. Tuduhan yang sama tak diajukan di Helwan. Kontroversi niqab tak
bersangkut paut dengan kebebasan berpakaian atau keimanan, karena niqab
tak lebih dari pakaian biasa, bukan kewajiban keagamaan. Para perempuan
yang mengenakan niqab tampak mencolok di publik dibanding yang memakai
pakaian lainnya. Mengenakan niqab untuk bekerja atau sekolah seaneh
mengenakan pakaian renang atau piyama ke kantor.

Kita ini masyarakat konservatif dan tak ada yang bisa mengklaim bahwa
kritik tentang niqab memiliki motivasi politik. Kenyataannya niqab
menurunkan derajat perempuan dan membatasi kesempatan—kesempatan
mereka. Kaum perempuan yang memakai niqab serta merta menjadi objek
seksual. Mereka efektif tak bisa menjadi guru, dokter, wartawan, atau
pegawai negeri. Mereka tak dapat berinteraksi secara normal dengan dunia
luar. Perempuan berniqab kehilangan kebebasan mereka untuk alasan yang
tak jelas.

Problem yang kita hadapi di sini tak bisa diselesaikan melalui maklumat
keagamaan atau tindakan keamanan. Kita harus berbicara pada para
perempuan itu. Kita harus memahami mereka lebih jauh. Dalam berbagai
kasus, perempuan berniqab berasal dari pedesaan dan merasa terancam oleh
kehidupan kota besar. Mereka mengalami gegar budaya dan menggenakan
niqab sebagai pertahanan diri dari dunia luar. Jika penaksiran saya
benar, maka konklusi logisnya adalah kita harus mengulurkan tangan dan
memberikan nasehat sebelum menilainya dengan ukuran berbeda, seperti
yang biasa kita lakukan. Mari kita tolong perempuan—perempuan muda
ini mengatasi ketakutan mereka. Mari kita menentramkan hati mereka.
Setelah ketakutan itu sirna, semoga mereka tak merasa harus menutupi
raut mereka kembali.

###

*Salama A Salama adalah kontributor tetap surat kabar Mesir, Al Ahram.
Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan
bisa diakses di www.commongroundnews.org
<http://www.commongroundnews.org/> .

Sumber: Al Ahram, 19—25 Oktober 2006, www.ahram.org.eg/weekly
<http://www.ahram.org.eg/weekly>
Hak cipta untuk publikasi telah diperolah.            5) RUU Perancis
Memperumit Permohonan UE Turki
Scott Peterson     Istanbul, Turki – Dengan selisih besar, parlemen
Perancis melakukan pemungutan suara untuk menunjuk penyangkalan akan
genosida orang—orang Armenia di masa Ottoman Turki sebagai tindakan
kriminal. Hal itu membuat Turki merasa gusar dan memperdalam
kecurigaannya terhadap Uni Eropa (UE).

Turki Muslim – yang telah berusaha selama berpuluh—puluh tahun
untuk bergabung dengan UE, dan kini keanggotaannya tengah dalam
negosiasi—bersumpah akan membalas tindakan Perancis yang bisa
menghilangkan jutaan dolar dalam perdagangan, bahkan keduanya
mengeksplorasi batas—batas kebebasan berbicara.

Pemungutan suara dilakukan pada hari yang sama dengan penganugerahan
Hadiah Nobel terhadap novelis Turki, Orhan Pamuk. Tuduhan
"melecehkan bangsa Turki" yang ditujukan pada Pamuk –
dijatuhkan setelah ia berpidato tentang pembunuhan sejuta orang Armenia
dan 30.000 orang Kurdi – merupakan ujian bagi komitmen Turki
terhadap reformasi yang dituntunkan UE.

Dua peristiwa itu menyerang jantung kontradiksi—kontradiksi di Turki
modern, di mana aspirasi—aspirasi UE yang demokratis dan bersandar
pada Barat sering kali berbenturan dengan sejarah. Turki adalah negara
sekuler yang setia—anggota penuh NATO—dan memandang dirinya
sendiri sebagai jembatan penting yang menghubungkan Barat dan Timur,
namun belum juga diterima sebagai bagian dari Eropa.

Banyak orang—orang Turki yang melihat pemungutan suara terhadap
genosida tersebut hanya untuk menghambat usaha mereka agar diterima
sebagai anggota UE ke 25 .

"Orang—orang Turki tak bisa menerima hal ini; bahkan mereka yang
mendapat pendidikan Perancis melengos terhadap Perancis," kata Sami
Kohen, kolomnis hubungan luar negeri untuk surat kabar Milliyet.
"Kami takut hal ini akan membesarkan hati para pengkritik UE yang
akan mengatakan: "Cukup sudah; kita tak usah lagi bergabung dengan
UE."

Para pembuat hukum Turki pun mengajukan rancangan undang—undang
balasan yang akan menunjuk "genosida Aljajair " yang dilakukan
oleh penjajah Perancis pada tahun 1945.

Kolomnis—kolomnis Turki juga menyingkap peran Perancis dalam
genosida di Rwanda tahun 1994, untuk membalas serangan Perancis ini.

Para analis mengatakan pemungutan suara Perancis itu sepertinya
membesarkan hati para nasionalis Turki dan mereka yang tak setuju dengan
keanggotaan Turki dalam UE. Poling yang diadakan baru—baru ini
menunjukan bahwa dukungan terhadap usaha Turki untuk bergabung dengan UE
menurun dari hampir 70 persen kini menjadi 50 persen.

Untuk menjadi hukum, RUU harus melewati senat Perancis dan
ditandatangani oleh Presiden Jacques Chirac. Hukuman yang diajukan
terdiri dari penjara selama satu tahun, dan denda €45,000 atau
$56,500, penalti yang sama kini berlaku pada buku—buku Perancis yang
menyangkal Holocaust.

Sebuah surat kabar Turki membuat lelucon terhadap reputasi Perancis
sebagai rumah hak asasi manusia dan keadilan. Lelucon itu berbunyi:
"Liberté, égalité, stupidité."

"Hubungan Turki—Perancis, yang terbangun selama
berabad—abad....kini terguncang karena pernyataan—pernyataan
ngawur politisi—politisi Perancis yang tak mempertimbangkan
konsekuensi—konsekuensi politik dari tindakan mereka," ujar
Menteri Luar Negeri Turki dalam pernyataannya.

Sebenarnya sebelum pengambilan suara itu, Gul telah memperingatkan,
"Jika RUU ini lolos, Turki tak akan kehilangan apa pun, namun
Perancis akan kehilangan Turki. Perancis akan menjadi sebuah negara yang
memenjarakan orang—orang yang mengekspresikan
pandangan—pandangan mereka."

Pemungutan suara kini menjadi isu politik di Perancis. Mayoritas suara
menentang keanggotaan Turki di UE, tempat 400.000 etnik Armenia hidup,
dan pemilihan presiden akan berlangsung dalam tujuh bulan. Ekspor
Perancis ke Turki tahun 2005 mencapai 5 milyar.

Selama kunjungan ke Armenia minggu lalu, Presiden Chirac mengatakan
bahwa Turki tak seharusnya diijinkan bergabung dengan UE, kecuali jika
ia secara resmi mengakui kematian 1 juta orang Armenia yang terjadi pada
masa—masa terakhir pemerintahan Ottoman adalah genosida.

Meski pemerintah Perancis tak menyetujui perudangan—undangan itu dan
menyatakan "tak perlu dan tak pada waktunya", toh Chirac tetap
berkata Turki harus mengakui genosida tersebut sebelum bergabung dengan
UE.

Meskipun pengurus UE bersusah payah mencatat bahwa tak ada kriteria
genosida yang dapat dikenakan pada Turki, bagaimanapun sentimen tersebut
sangat mempengaruhi usaha Turki. Ketakutan—ketakutan di Perancis
diyakini merupakan satu—satunya alasan Perancis menolak konstitusi
yang diusulkan UE.

"Perancis berhasil menghambat hubungan Turki dan UE dan berusaha
membalas dendam pada Turki semenjak konstitusi UE gagal," kata Seyfi
Tashan, direktur Turkish Foreign Policy Institute di Ankara, Ibu Kota
Turki. "Jadi secara politik, semakin berhasil mereka merusak Turki,
semakin bagus."

Orang—orang Armenia menyatakan bahwa 1,5 juta orang Armenia
meninggal pada tahun 1915 dalam genosida sistematis pertama di Abad 20,
sementara sejarahwan menyebutkan hanya satu juta. Turki secara resmi
melaporkan bahwa sekitar 300.000 orang Armenia tewas dalam sebuah
konflik partisan yang terjadi ketika orang—orang Armenia membantu
penyerbuan tentara Rusia selama PD I.

Ketika Turki menyatakan akan membuka file—filenya pada para
sejarahwan, sekelompok penulis dan akademikus yang menentang versi resmi
tersebut terkadang menggunakan kata "genosida". Hal itu membuat
mereka didakwa melecehkan negara oleh para jaksa garis keras.

Pamuk berani melawan garis tersebut, novelnya telah menggali kerajaan
Turki di masa silam untuk mengeksplorasi kontradiksi—kontradiksi dan
dilema—dilema Turki modern. Surat penghargaan Nobel menyebut karya
tersebut: "Dalam pencarian jiwa melankolik kota asalnya, Pamuk telah
menemukan simbol—simbol baru bagi benturan dan jalinan
kebudayan." Di bulan Februari 2005, Pamuk berkata pada sebuah harian
Swis, "30.000 orang Kurdi dan sejuta orang Armenia tewas dibunuh di
tanah ini dan tak seorang pun berani mengatakannya kecuali saya."

"Apa yang saya sampaikan bukan cercaan, tetapi kebenaran. Jikapun
salah, apakah orang tak boleh menyampaikan gagasannya dengan damai?"

###

* Scott Peterson adalah penulis Christian Science Monitor. Artikel ini
didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat
diakses di www.commongroundnews.org <http://www.commongroundnews.org/> .

Sumber: Christian Science Monitor, 13 Oktober 2006, www.csmonitor.org
<http://www.csmonitor.org/>
Hak cipta untuk publikasi telah diperoleh.        Pandangan Kaum Muda
CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan mendorong
perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka sendiri.
Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun dianjurkan
untuk menulis kepada Chris Binkley ([EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> ) untuk informasi lebih lanjut tentang
pengiriman tulisan.     Tentang CGNews-MK
Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli baik
lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-artikel
yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di seluruh
dunia. Dengan dukungan dari Pemerintah Norwegia dan United States
Institute of Peace, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search
for Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.
Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan kerja
yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan bin Talal
di Jordania, pada bulan Juni 2003.
Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan
artikel-artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para
ahli baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa
Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.
<http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?list=>
Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan pandangan
para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau afiliasinya.
Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Website : www.commongroundnews.org
<http://www.commongroundnews.org/index.php?sid=1&lang=ba>

Editor
Emad Khalil (Amman)
Juliette Schmidt (Beirut)
Chris Binkley (Dakar)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Leena El-Ali (Washington)
Andrew Kessinger (Washington)

Penerjemah
Olivia Qusaibaty (Washington)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Zeina Safa (Beirut)


CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.
<http://www.sfcg.org/template/lists.cfm?mode=unsub&list=%%list.name%%&em\
ail=%%emailaddr%%>
 


[Non-text portions of this message have been removed]



Apa yang anda cari mungkin ada di sini
http://www.bukusiber.com 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Sastera/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Sastera/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke