PICIK SERAH ( IV )
Cukuplah kau dera karya ini, wahai Picik Serah!
Tak tersudutkah kau di simpang pelarian
kecil sulaman cahaya? Angin
nujum kian menyisik
lancip kata kepadanya. Aku terkulai atas payung
tunggal kemegahan, karena sepiku terlahir
menunjuk bebal, balas si Picik;
ayunkan radang karsa
tiap jawab bertabur. Silih tatap
menilai rona daging membusuk kutuk, tiada sinar
melekang anjak bangkai: terpapar oleh
pancing madu sekutu kebajikan.
2007, Leonowens SP
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
[Non-text portions of this message have been removed]