(Cerpen Klasik) Penyair dan Bulan


        Karya: Rijono Pratikno

    PENYAIR selagi
pulang di malam larut menuju pondoknya, tiada kuat lagi menahan
keletihannya. Untunglah waktu itu, ia sudah tiba di suatu taman dan di
dalam taman itu terdapat beberapa buah bangku yang bisa menampungnya
duduk, kemudian tiduran.  Dari tiduran, ia pun makin sayup-sayup oleh 
kantuknya, sedan­gkan dingin udara malam larut tidak dihiraukannya. Jauh di 
atasnya di antara daunan pepohonan, berkilau bulan penuh yang sudah tinggi. 
Sebentar-sebentar bulan penuh itu disaputi awan.  Penyair
perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala
kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang le­nyap, dan ia
makin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi
kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah.          Waktu ia berada antara 
tidur dan jaga, maka betapa terkejutnya ia waktu dilihatnya, bulan makin 
mendekat jua padanya. 
baca lanjutannya

JURNAL PARAGRAP
jurnalnya orang biasa
http://jurnalparagraph.blogspot.com  

Salam
Denny Prabowo
http://rumahkepompong.tk/




      

Kirim email ke