On 1/10/07, dimas haryo pradana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam kenal Rivo, perkenalkan saya Dimas dari Biologi UI. Mengenai foto burung di Uluwatu, itu bukan elang tapi Bubut alang-alang (Centropus bengalensis)
Halo Mas Dimas, Thanks buat infonya. mohon maaf karena saya awam dan resource saya yang terbatas, kalau dilihat di buku bird of indonesia dari Morten Strange memang ada 2 jenis yang mirip dengan foto saya, Centropus sinensis dan Centropus bengalensis daerah distribusinya juga sama. Di foto berparuh hitam lebih cocok dengan C sinensis, tapi mungkin juga keliru karena warna paruh terkait juga dengan usia burungnya. Hehehe, ternyata ga mudah juga buat orang awam seperti saya untuk identifikasi. Mohon diarahkan kejalan yang benar :) Thanks Rivo *Rivo yubara <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
Hallo, Saya blm lama ini bergabung dengan milis SBI, dan ini posting pertama saya. Nama: Rivo Alamat : Perum taman muding mekar blok B no 3X kota : Denpasar Soal burung-burungan sudah akrab dari kecil dimulai ketika disekolah dasar ayah saya membawa anak kutilang yg jatuh dari sarang. Saya diberi tanggungjawab untuk mengurusnya, sampai burung itu besar. Kutilang pertama saya itu senang diajak main dan hinggap di pundak atau kepala. Kemudian berlanjut mendapat sepasang merpati dari kerabat di Jawa Timur hingga berkembang menjadi puluhan ekor. Sempat juga berteriak-teriak di lomba burung berkicau dan mengoleksi 5 ekor murai batu medan. Adalah rutinitas setiap minggu untuk berkunjunga ke pasar burung Pramuka, asyik melihat burung kicau import berdatangan, hwa mei, poksay dan lainnya. Sampai pada suatu waktu termenung melihat puluhan ekor murai batu ditempatkan di sangkar sempit, terbang tak tentu arah dengan pangkal paruh berdarah. berapa banyak dari burung itu yang dapat bertahan hidup? berapa banyak yang bisa berkicau bagus dan membanggakan majikannya? bagaimana yang tidak bisa berkicau? apakah tetap mendapat perhatian majikannya? Wahh gimana juga nanti cerita ke anak-cucu tentang prenjak yang berbunyi lantang dipohon jambu samping rumah? Jangan-jangan prenjak keburu punah saat anak-cucu kita lahir? Jadi tersadar bahwa burung-burung itu lebih baik di alam bebas ketimbang di sangkar, dan berhubungan erat dengan kulitas lingkungannya. Makin banyak burung di suatu tempat, makin baik kualitas lingkungan tersebut. Sejak saat itu saya lebih suka mengamati burung di sekitar lingkungan saya. Meski tidak bisa meninggalkan hobi memelihara burung di rumah, ya karena kake-buyut-dan nenek moyang kita dari jaman majapahit juga suka memelihara burung, dirumah ada beberapa koleksi hasil ternakan bukan tangkapan liar termasuk ayam bekisar yang baru didapat hari minggu kemarin. hal lain bergabung dengan SBI ini karena: 1. Tertarik dengan kegiatan birdwatching, dan nge-fans dengan bidikan Mas Karyadi Baskoro dan rekan SBI lainnya 2. Suka sama ilustrasi dari Mas Agus Prijono yg bagoozz... Demikian perkenalan dari saya, mohon panduan dan bimbingan dari rekan-rekan ornithologist di SBI. Terlampir adalah fot-foto hasi jepretan di Bedugul, Singapadu dan Uluwatu. Di singapadu saya dapati burung Decu berkicau lantang di pucuk penangkal petir. Sedangkan di Uluwatu saya berpapasan burung seperti elang di semak-semak mungkin rekan SBI bisa bantu untuk identifikasi, begitu juga di bedugul di kawasan wisata kebun raya banyak sekali burung dengan warna hitam pekat berkelompok terbang di pucuk-pucuk pohon dengan bunyi cerecet yang nyaring. Salam Rivo __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
