Wah tidak menyangka banyak juga ya yang ternyata sudah meneliti 
raptor di wilayah perkotaan. Sebagai bahan diskusi, saya masih 
mencari tahu apa yang menyebabkan mereka masih dapat bertahan hidup 
jika keberadaan mereka ditemukan di kota dengan tingkat polusi yg 
cukup rentan terhadap kesehatan mereka, atau jika ditemukan di daerah 
sub urban apakah ada indikasi ketersediaan makanan yang cukup dan 
bahwa daerah sub urban tersebut masih memiliki lingkungan yang cukup 
baik. Atau bahwa sesungguhnya tidak semua raptor dapat dijadikan 
indikator suatu lingkungan, nah lho? mungkinkah mereka melakukan 
adaptasi terhadap perubahan lingkungan? bukankah jenis2 raptor migran 
perlu beradaptasi selama melakukan migrasi? dan bahwa kenyataan bahwa 
mereka melintasi wilayah yang memiliki iklim yang berbeda dengan 
tempat asal mereka? dan untuk kelompok raptor yang lokal bukankan 
mereka juga harus bisa bertahan hidup, how? sekian dulu sharingnya ya
... 

salam

--- In [email protected], "dwi Mulyawati" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Pak Bas,
> 
> Pengamatan yg dilakukan temen2 Haliaster [pastinya] menarik sekali.
> Nah, saya jd penasaran deh...
> Hasil pengamatan sudah pernah dipublikasi? Dimana? kapan? bgmnn saya
> bisa mmperolehnya?
> Nah...jd banyak tanya deh.. [:D]
> 
> Salam,
> Wati
> 
> --- In [email protected], Karyadi Baskoro <baskoro@> wrote:
> >
> > Salam
> >
> > Kriteria kotanya yang seperti apa dulu. Apakah hanya
> > terbatas urban 100%, atau termasuk sub-urban, atau
> > definisi kota secara administratif.
> >
> > Saya kira sudah beberapa yang menyentuh, seperti
> > rekan-rekan Yogya yang memantau Peregrine Falcon.
> >
> > Alap-alap sapi juga banyak yang memantau. Di semarang
> > cukup lama terdata, bersarang di pusat kota. Tahun
> > 2006 kemarin masih teramati di pusat kota.
> >
> > Kalau sub-urban masuk, lebih banyak lagi. Di Semarang
> > tak hanya Bido yang rutin ada, bahkan Brontok dan
> > Hitam kadang di wilayah "kota" juga.
> >
> > Untuk raptor nokturnal, khususnya Serak Jawa / Tyto,
> > rekan-rekan Haliaster di Semarang sudah cukup intens
> > dan lama meneliti. Pemantauan dilakukan di kompleks
> > kampus Undip. Sejak medio 2005 hingga akhir 2006
> > kemarin, masih secara rutin memonitor populasi, yang
> > dilakukan tiap 2 minggu sekali. Untuk data populasi
> > sudah ada lumayan lengkap selama 1 tahun ini.
> >
> > Disamping populasi, juga diamati juga aspek perilaku
> > berbiaknya. Sudah lumayan koleksinya, foto, film, dan
> > 2 spesimen..
> >
> > Kang Bas
> >
> > --- mohamad fadli mf_purnadjaja@ wrote:
> >
> > > ayo2 siapa mau join n konsep bersama pola konservasi
> > > raptor di daerah perkotaan terlebih dengan adanya
> > > jenih raptor malam, ituloh burung hantu di kota
> > > belum
> > > ada yang meneliti kan? kalau di eropa keberadaan
> > > mereka sangat erat dengan populasi tikus, sehingga
> > > mereka dapat menjadi pengendali hayati tikus (yg
> > > bisa
> > > jadi vektor penyakit). Selain itu burung hantu juga
> > > memiliki suara yang khas seperti nyanyian "burung
> > > hantu".
> > >
> > > salam
> >
> >
> >
> >
> >
> 
________________________________________________________________________\
> ____________
> > Do you Yahoo!?
> > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
> > http://new.mail.yahoo.com
> >
>




Kirim email ke