Dear bang yok, kang bas n para netters SBI, hmm...diskusi yang menarik :-) krn ku juga menyukai dgn kemolekan dan pola pengasuhan yang penuh dgn kesetiaan dari Hornbill ini :-) Aku ikutan yah ^_^
1. Untuk data Jambi Tiger Project-ZSL dari tahun 2002 s.d akhir tahun 2006, kami melakukan monitoring (day transect) yang lebih intensif dilakukan oleh anti perburuan kami (APWM: Anti Poaching and Wildlife Monitoring) pada banyak jalur transect pada 3 tipe habitat, yaitu semak, hutan dan perkebunan kelapa sawit di Unprotected area, yaitu di Perkebunan Kelapa Sawit PT Asiatic Persada dan HPH PT Asialog (sekarang Harapan Forest). Day transect ini mengalami pengulangan setiap seminggu sekali. 2. Untuk data lainnya, merupakan data rapid survey dan tidak ada pengulangan, dilakukan pada cell-cell /plot penelitian, dgn ukuran cell yang dinamis; 2 x 2 km2, 3 x 3 km2 dan mulai tahun 2007 kami melakukan island wide survey krn dikhususkan untuk detection-non detection si landscape species (mbah harimau) jd diperluas cellnya menjadi 17x17 km2 dan sedang dilakukan di sepanjang Pulau Sumatera oleh rekan-rekan LSM penelitian Harimau. hehehe...besar ya plotnya ^_^ .... biasanya tuk plot 17 x 17 km2 (baru di kawasan Bukit 12, lansekap Bukit 30 dan Kawasan Berbak) kami melakukannya rata-rata selama 3 bulan (6 cell) dengan total berjalan kaki biasanya antara 522,839 km s.d 528,000 km (tuk total berjalan kaki), n tuk dikawasan rawa Gambut-Berbak total berjalan kaki (75%) dan naik sampan/perahu (25%) adalah 566, 27 km. Pencacatan data selain mamalia, seperti rangkong adlh berdasarkan (observation): sound, sighting, vocalisation (khusus vocal-calling Rangkong hanya tuk spesies buceros vigil, rhinoceros, bicornis,n Anorrhinus galeritus habis spesifik sih suara nya :-), selain itu krn kami fokus surveynya adlh harimau n mamalia so kami tetap harus terus berjalan n jika satwa tersebut memiliki sure : 1 (tingkat keyakinan pasti, karena sesuai dgn literatur dan keahlian surveyor) maka kami record. Data keberadaan si molek hornbill ini sekiranya bagus untuk membuat hornbill Atlas....hehehe iya gak ya??so taunya aku.... :-) Maaf kebanyakan tulisannya, terlalu bersemangat ^_^ Sukses ya bang Yok\^_^/ Baca salah satu artikel bang yok, berjudul : YokYok "Yoki" Hadiprakarsa, International Hornbill Expert di di http://www.warnell.uga.edu/h/alumni/flog/pdf/logF07.pdf (Hal.20). Best A.S. Adnun Salampessy, S.Hut Coordinator Survey ZSL INDONESIA HP : 081366941731 http://www.harimaujambi.co.cc/ c/o WCS Indonesia Program Jl. Burangrang No. 18, Bogor 16151 Tel: +62 251 342135 / 306029 Fax: +62 251-357347 Kantor Jambi : Jl. A. Chatib 21, Lorong Citra RT12, Jambi, 36124 PO. Box 2002, Jambi, 36001 Tel/Fax +62 741 668003 / 741 7075071 www.zsl.org ----- Original Message ---- From: Yoki H <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Wednesday, May 21, 2008 3:43:44 AM Subject: Re: [SBI-InFo] Studi Julang 2008/5/20 Kang Bas <[EMAIL PROTECTED] com>: > Salam > > Untuk jumlah, memang jarang sekali belasan ekor > teramati. Namun pernah teramati mencapai angka > tersebut dan kami yakin bukan duplikasi karena > flocknya berentetan. (bukan bolak-balik) . Selama ini > datanya memang fluktuasi, kadang hanya berjumpa 2, > kadang banyak dalam hitungan hari. Memang sudah di perkirakan seh untuk kawasan hutan yang tidak begitu besar, terfragmentasi dan di kelilingi oleh kawasan non hutan, perkiraanya mereka akan jarang flocking karena sumberdayanya pun terbatas dan tersebar di antara blok-blok hutan yang tersisa. Kalau di TN. Khao Yai, Thailand mereka bisa flocking lebih dari seratus ekor dalam waktu bersamaan. Saya sendiri seh baru pernah liat cuman 17 ekor dalam satu pohon di TNBBS, Lampung. Kalau boleh tau identifikasinya melalu apa saja? apakah hanya visualisasi dan vokalisasi saat calling? atau juga berdasarkan karakter suara kepakan sayapnya? karena untuk rangkong berukuran besar, masing-masing jenis mempunya karakter suara kepakan sayap yang khas sehingga bisa di pakai untuk identifikasi. > Mungkin maksud Bang Yoki, dengan sifat nomaden > tersebut, dapat berpotensi bias data? Duplikasi karena > individu yang hilir mudik terhitung kembali? Begitu > kah? > Untuk estimasi populasi, kami punya satu titik > "tertinggi" pada satu kawasan. Dengan scanning, kami > berusaha meminimalkan peluang terjadinya duplikasi > perhitungan. Sebenarnya duplikasi atau double detection gak masalah, terlebih kalau ini memang bagian dari pengulangan. Kalau bias atau tidaknya? yah tergantung banyak faktor, terutama bagaimana penelitian ini di desain, nantinya akan berhubungan dengan berapa kali pengulangan untuk setiap site, tingkat keacakan, dan dimana site pengamatan tersebut pun akan berpengaruh terhadap bias, akurasi dan presisi. Selain itu juga, faktor analisa data ikut berpengaruh. > Mengenai kawasan hutan G. Ungaran. Untuk lereng > selatan dan barat distribusinya dari puncak 2000 dpl > sampai 1500 dpl. Untuk lereng timur, dari 1500 dpl - > 700 dpl. Yang sisi utara nyaris penuh dengan kebun > teh. Dan Julang hanya melintas saja di kawasan ini > (melintas dari hutan barat ke timur, pp). > > Maksud petak hutan terdekat? Ya (hampir) di seluruh > lereng ada hutan. Kami belum paham maksudnya Bang > Yoki. Mungkin bisa di dongengi lagi :D Okeh lah saya mendongeng sedikit, maksudnya adalah blok hutan yang bertetanggaan. Dalam kacamata rangkong, di daerah yang terfragmentasi, satu blok hutan bukan faktor utama untuk mereka memanfaatkan sumberdaya yang ada, blok-blok hutan lainnya yang masih dalam jangkauan mereka pun sangat penting. Jadi blok-blok hutan yang ada di dalam satu lansekap menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, terlebih untuk rangkong yang berukuran tubuh yang besar seperti julang ini. Iseng liat di Google Earth, jarak terdekat dari blok hutan G.Ungaran adalah ke G. Merbabu = 25 km, kemudian G.Sumbing = 35 km dan G. Sundoro = 36 km, kesemuanya ini masih dalam jangkauan julang emas. Begitu dongengnya, semoga bisa memperjelas bukannya nambah mumet :D Wah, kalau emang Kang Bas punya data kehadiran rangkong di blok-blok hutan lainnya, dan dilakukan secara berulang dan sistematis bisa menarik neh. Ayo dung nulis research paper, kebetulan tahun depan ada konferensi rangkong di Singapore. Saya bersedia deh bantuin! juga buat yang lagi penelitian rangkong lainnya. Buat rekan-rekan yang lain, sorry yah kalau menuh-menuhin bandwidth nya, maklum kalau ada rekan yang tertarik dengan rangkong saya sangat seneng jadi ada temen :P. -- ----- Y. Hadiprakarsa (Yoki)
