Myophonus glaucinus samasekali tak mirip dengan burung yg gw liat di tepi 
sungai airpanas di Gede. Terlalu kecil euy. Ngeliat proporsi perbandingan 
antara kepala dan badan yg rasionya rendah, glaucinus itu kok kayak burung 
kecil banget yaa.. Padahal burung yg saya liat mayan gede, mirip Myophonus 
insularis itu, dengan ekor yg cukup panjang. Warna birunya juga cuma 
dikit pada ekor dan sayap belakang.
 
Mungkin aja gw yg salah. Mungkin itu Myophonus caureleus, cuma paruhnya item 
(mungkin gak seeh?) Atau sebenernya paruhnya kuning tapi gw ingetnya item he he 
he.. Maklum bukan pengamat burung, jadi gak inget unsur apa saja yg musti 
diperhatikan untuk menentukan species burung ketika cuma bisa ngeliat 
burung sebentar aja di alam (warna paruh, noktah warna tertentu dll).
 
Tapi katanya Caureleus kan tak ada di ketinggian di atas 2000 meter, padahal 
sumber airpanas itu di atas 2000 meter. Yg ada di ketinggian di atas 2000 meter 
adalah Sunda thrush alias glaucinus.. Bingung deh...

--- On Mon, 6/16/08, Ady Kristanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Ady Kristanto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [SBI-InFo] Ciung batu siul
To: [email protected]
Date: Monday, June 16, 2008, 3:34 AM








Bung Hasto kalo myophonus insularis, itu nama lainnya Taiwan whistling thrush. 
kayaknya nggak ada deh di sini. coba aja buka www.orientalbirdima ges.org 
kemudian ketik myophonus glaucinus. coba deh bandingkan, bener nggak jenis ini 
yang mas hasto liat di gunung gede.
 
Ady Kristanto


----- Original Message ----
From: Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Saturday, June 14, 2008 6:16:57 PM
Subject: Re: [SBI-InFo] Ciung batu siul








Atau...., mungkin juga bukan ciung batu kecil, melainkan Myiophoneus 
insularis (Formosan blue thrush), karena yg gw liat di Gede ukurannya tidak 
kecil, warna biru-ungu pada bahu dan ekor lebih conspicious, dan paruhnya juga 
item (spt di gambar attachment gw). Mungkinkah ada Formosan blue thrush di sini?
 
Wah asyik dunk di Cikaniki pasti udah mulai lebih dingin dari biasanya, karena 
udah mendekati masa Summer solstice untuk belahan bumi utara, alias garis edar 
matahari sudah hampir mencapai titik terjauh di utara khatulistiwa (26 Juni), 
sehingga suhu di Jawa (yang ada di selatan khatulistiwa) lebih dingin 
terutama di malam dan dinihari (musim "Bediding" kata orang Jawa). 
 
Akhir Mei kemarin di Alun2 Suryakencana juga sudah mulai dingin euy.., embun di 
rerumputan beku di pagi hari. Baju basah yg dibiarkan di luar tenda juga jadi 
kaku membeku he he... Tapi belum terlalu dingin sehingga air aqua di dalam 
botol blom berubah jadi es batu. Bulan terdingin adalah Juli-Agustus. Pernah 
naik ke Gede awal Agustus, luar biasa dingin, air aqua di botol pagi2 juga beku 
jadi es batu, kecetak di botolnya, sampe musti dijemur beberapa jam sbelom 
dipake...
 
Hasto P. Irawan

--- On Sat, 6/14/08, Ady Kristanto <ady_kristanto@ yahoo.com> wrote:

From: Ady Kristanto <ady_kristanto@ yahoo.com>
Subject: Re: [SBI-InFo] Ciung batu siul
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Saturday, June 14, 2008, 4:39 AM





Kang Bas, Kayaknya ciung yang ini sudah terhabituasi, soalnya pas saya masuk 
kedalam hutan ada ciungbatu siul juga tapi nggak sejinak ini. walaupun bisa 
agak didekati tapi jarak 10 meter dah langsung kabur.
untuk bung hasto mungkin yang di gunung gede itu ciung batu kecil (myiophoneus 
glaucinus glaucinus) setahu saya di gunung gede di jalur cibodas jenis ini yang 
suka ngikutin para pendaki
Ady Kristanto


 














      

Kirim email ke