Oke, soal contoh2 burung kecil yg umum itu memang banyak yg salah karena hanya gw ambil sekedar sbg contoh saja, termasuk manyar. mungkin lebih tepat contoh burung yg umum adalah burung madu yg super imut, sbg pengganti manyar.
Iya lah percaya deh dulu banyak burung besar di Jakarta, yg kebanyakan adalah jenis burung air atau burung lahan basah (memang kebanyakan burung air/burung lahan basah berukuran besar, kan???). Angsa ya memang jelas gak ada di sini, karena bukan habitatnya, dan gw gak mempermasalahkan kalo itu gak ada di sini. Soal merpati, bukankah yg ada di sini semua merupakan piaraan, atau piaraan yg terlepas, dan jarang banget yg berkembang biak/bersarang sendiri di gedung2? Dan meski gw bodo soal burung, tapi gw yakin merpati ada di sini bukan karena pindahan/migrasi dari daerah asalnya sono, tapi karena dibawa orang sbg binatang piaraan. Mungkin topiknya terlalu lebar yaa. Kalo gitu kita batasi aja topiknya, yaitu soal gagak, kenapa gak bisa menjadi banyak di sini?. Karena gagak juga secara alami ada di sini. Kenapa gagak gak bisa jadi common bird di sini ya.., padahal gagak bukan termasuk burung yg diburu (untuk keindahan bulunya, suaranya yg merdu, atau untuk dimakan)? Spt saya contohkan, sewaktu saya masih SD pun gagak sedikit (padahal setahu saya tidak diburu, dan lingkungan juga masih relatif hijau, bandingkan dgn gagak di bagian dunia yg lain yg justru malah sukses hidup di perkotaan), apalagi sekarang. Gw udah 20 tahunan gak pernah liat gagak lagi. Kenapa dia gak bisa jadi common bird di tengah habitat manusia ya? Faktor apa yg menyebabkan gagak gak bisa jadi common bird? Padahal di bagian dunia yg lain terbukti bahwa dia bisa menjadi banyak di daerah urban (perkotaan), dimana lingkungannya sudah sangat terganggu oleh habitat dan aktifitas manusia, bukan lagi berupa hutan yg penuh dgn pepohonan.. Yah kalo gagak cuman bisa didapetin di suaka margasatwa Angke (yg juga udah gw tulis di sini) ya jelas gak bisa dikategorikan common bird dunk:) Lagian ngambil contoh Jakarta sbg habitat itu terlalu berat, Bro. Jangankan di Jakarta, di desa2 juga gagak gak pernah terlihat. Peace:) Hasto P. --- On Sun, 1/18/09, Ady Kristanto <[email protected]> wrote: From: Ady Kristanto <[email protected]> Subject: Re: [SBI-InFo] Knpa burung besar tak suskes jadi common bird di sini?? To: [email protected] Date: Sunday, January 18, 2009, 11:35 AM Bung Hasto, menurut saya hal ini dikarenakan kebanyakan sikap masyarakat Indonesia belum bisa menghargai lingkungan. mereka menganggap tidak terlalu penting. yang penting bisa makan dan tidur. Burung-burung besar seperti angsa memang kita tidak ada, kita ada bangau seperti bangau bluwok yang zaman dahulu umum di Jakarta (Pak Baskoro pernah attach fotonya), kemudian ada cangak abu, cangak merah, ibis cucuk besi. semua ini burung besar. dulu sangat umum. namun ... untuk suatu spesies dapat bertahan hidup dia memerlukan tempat mencari makan dan tempat tinggal serta berlindung. nah untuk burung-burung air ini memang punya tempat tinggal yang terjaga yaitu P. Rambut ini juga karena pulau ini merupakan kawasan yang dilindungi. namun ada tempat berlindung tapi areal mencari makan mereka semakin hari semakin menghilang. mau nggak mau mereka akan pergi mencari daerah baru. saya attachkan citra satelit Jakarta tahun 1976, 1989 hingga 2004 liat perubahan drastis di bagian utara Jakarta. Kemudian bung Hasto bilang manyar burung yang umum. wah sekarang mah dah sulit, jangankan di kota di desa aja susah. itu akibat penangkapan yang berlebihan. banyak yang sudah hilang ... Gelatik jawa yang menjadi maskot Jakarta Selatan karena dahulu banyak di daerah tersebut sekarang kemana? kemudian Srigunting hitam yang jadi maskot Jakarta timur ilang juga tergerus pembangunan kota. yang ironis lambang DKI sendiri elang bondol. itu juga mana? iri kalo ke Kalimantan, disana di kota besar macam Pontianak, Palangkaraya kita masih bisa melihat elang bondol dan elang laut berseliweran di tengah kota. kalo di Jawa dimana? kagak ada? ditambah lagi gara-gara iklan rokok yang menggunakan elang bondol dan harimau, permintaan akan elang bondol di pasar burung meningkat. pembeli beralasan "keren dan gagah seperti di iklan" jika pelihara burung tersebut. Untuk Columba livia atau merpati batu aka burung dara, itu umum kok. di Jakarta banyak yang pelihara maupun yang lepas. memang agak berbeda dengan yang di Eropa penyesuaian dengan habitat tempat dia tinggal di Indonesia. untuk gagak alhamdulilah masih bisa ditemukan di Jakarta ini di SM. Muara Angke dan sekitar Kamal hingga pelabuhan Muara Angke walaupun kehadiran mereka juga jarang hanya 1 - 2 individu setiap perjumpaan. kalo mau liat yang banyakan yang naik dikit ke utara di kepulauan seribu. Hewan pasti bisa menyesuaikan diri dengan habitat yang ada dan dia bisa jadi sesuatu yang umum jika ... ada toleransi dari manusia dan penghargaan manusia terhadap satwa liar. tapi kayaknya sedikit sekali warga Indonesia yang bersikap seperti itu. Jadi jangan heran kalo teori dengan kenyataan berbeda jauh. wong teori dibuat atau berdasarkan di tempat yang aman-aman aja ndak cocok disini. kecuali teori-teori itu dibikin disini. tapi tetep aja pasti berubah. teori lingkungan pasti kalah ama teori ekonomi. Salam Ady Kristanto From: Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com> To: sbi-i...@yahoogroup s.com Sent: Sunday, January 18, 2009 4:33:39 PM Subject: [SBI-InFo] Knpa burung besar tak suskes jadi common bird di sini?? Tgl 16 Januari yg lalu pesawat Airbus 320 terpaksa mendarat darurat di air Sungai Hudson yang dingin di New York, setelah mengalami kerusakan mesin akibat mesinnya menabrak dan menghisap sekawanan angsa liar. Jadi iri euy... TEntu saja bukan iri sama kecelakaannya, tapi iri pada keberadaan common birds di sana. Kapan yah di sini ada common birds yg ukuran tubuhnya besar2 spt di daerah2 high latitude (daerah yg jauh dari Khatulistiwa) ?? Gw juga sering iri euy.. kalo liat tayangan VOA, sembari reporternya melaporkan kejadian, di kolam di latar belakang banyak burung liar besar2 (lebih besar dari merpati, kayaknya gull) yg terekam kamera, hinggap atau beterbangan. Padahal itu di tengah kota euy. Demikian juga seagull yg banyak terlihat di pantai2 yg ramai. Di sini kebanyakan common birds (burung yg lazim dijumpai dimana2 dan dalam jumlah banyak, termasuk di daerah habitasi manusia) adalah yg berukuran kecil: bangsa bondol, burung gereja, bangsa bulbul (kutilang dan trocokan), bangsa manyar, dll yg semuanya bertubuh kecil. Apa sebabnya ya di sini burung berukuran besar jarang banget ada yg bisa sukses menjadi common birds dan biasanya cuma bisa dijumpai di tempat2 terpencil, pulau2 yg jauh, dan tidak dekat dgn kehidupan sehari2 manusia? Satu lagi neh faktor X yg misterius soal habitat dan populasi burung yg bikin gw curious pengen tau apa jawaban sebenernya he he... DI kampung saya di Jawa, sewaktu saya SD dulu ada gagak, tapi itu juga cuma kadang2 terlihat, gak banyak. Dan sampai sekarang udah belasan tahun (atau mungkin ada 20 tahun kaleee) gw belom pernah liat gagak lagi di alam bebas, walo gw juga kadang bepergian ke luar kota, ke gunung, ke pantai. (kayaknya masih ada gagak hutan/Corvus enca yaa, tapi cuman di pulau atau wilayah2 tertentu yg jauh dari habitat manusia, gw blom pernah ketemu euy..). Padahan jaman dulu jangankan penduduk mau makan gagak, nangkep aja gak berani karena takut kena tulah lantaran gagak dianggap burung perlambang kematian he he. Meski begitu, dulu gagak juga gak banyak jumlahnya walo gak diburu. Padahal menurut literatur yg saya baca, sekedar contoh aja: di Amerika populasi gagak di daerah habitasi manusia (desa2 atau kota2 kecil) berdasar estimasi sampai puluhan juta ekor, saking banyaknya sampai sering dipandang sbg nuisance (gangguan lingkungan dan pertanian). Di Inggris juga sama. Sedangkan Columba livia, meski di sana juga melimpah dan di sini enggak, tak saya masukkan di sini karena memang secara alamiah Columba livia bukan burung asli Indonesia dan tak terdapat di alam secara alamiah. Jadi yg dijadikan contoh di sini gagak aja deh.. Walo tentunya gagak di Negara Bagian New York dan gagak di mBoyolali (he he he) berasal dari subspesies yg berbeda, tapi karena masih satu genus (Corvus sp), mestinya sifat, syarat hidup, dan toleransi terhadap perubahan habitat mereka gak berbeda jauh. Jadi aneh juga kalo di New York sana gagak bisa melimpah, tapi di nJember sini sangat langka. Hmmm..apa yaa faktor X yg misterius itu?? Think, think think!!:) Hasto Pratikto
