Salam
Melanjutkan "oleh-oleh" dari Australia. Harap enggak bosan & selamat 
menikmati...
Imam T



Berkisah Burung Pantai Yogyakarta di Australia

 

Kesempatan saya menghadiri AOC berawal dari sebuah pengumuman kecil yang 
tertera di majalah BirdingASIA edisi 10, Desember 2008. Dalam
majalah perburungan, terbitan Oriental Bird Club (OBC) asal Inggris, itu pihak
panitia mengundang pemerhati burung dari Indonesia, Timor Leste dan
negara-negara lain untuk datang berpartisipasi. Di forum tersebut, panitia 
mensyaratkan
calon peserta mengirimkan abstrak hasil penelitian atau poster untuk diseleksi 
terlebih
dahulu. 

Pada pertengahan September
2009, abstrak yang saya kirim dinyatakan lolos. Ada dua orang
Indonesia lain yang bernasib sama, yakni Surya Purnama, teman saya satu klub,
dan M. Iqbal, pemerhati burung asal Palembang, Sumatera Selatan. Abstrak
tersebut berjudul Diversity of Waders in
Pantai Trisik, Yogyakarta, Indonesia, merangkum keragaman jenis burung
pantai yang tercatat di Pantai Trisik, Kulon Progo hasil dari kegiatan
Monitoring Burung Pantai (MoBuPI) sepanjang 2007-2008 dan catatan-catatan
sebelumnya dari beberapa pengamat burung yang pernah melakukan pengamatan di
Pantai Trisik semenjak 2002-2008. 

Surya meloloskan dua hasil penelitiannya bertema perburuan burung air di Ujung
Karawang, Bekasi, Jawa Barat dan populasi burung Gagang-bayam Timur (Himantopus 
leucocephalus) di Jawa. Sedang M. Iqbal meloloskan
penelitiannya tentang ekologi Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) di
Sumatera.

 

Seputar Jalannya Konferensi

Dalam paparan yang disampaikan
oleh komite penyelenggara, AOC 2009 bertujuan untuk menjadi forum yang mewadahi
para pemerhati burung tingkat lokal, nasional maupun internasional, dalam
berbagi dan bertukar informasi tentang penelitian-penelitian terkini di bidang
burung atau ornitologi, manajemen dan upaya konservasinya. Bertemunya para 
peserta,
wakil dari lembaga pemerintahan, akademisi, LSM maupun klub pengamat burung
kampus, ini pun diharapkan dapat menjadi sarana untuk membangun komunikasi,
jaringan dan ikatan yang lebih kuat dalam bingkai kecintaan terhadap burung. 

Konferensi yang diikuti sekitar 200 orang tersebut menampilkan berbagai macam 
tema penelitian, menjadikan hari-hari konferensi padat
oleh jadwal presentasi. Presentasi dibagi menjadi banyak topik, berdasar bidang
minat atau tema penelitian. Terdapat 12 topik presentasi, meliputi tema Burung
dan Manusia, Ekologi dan Manajemen, Perilaku Burung, Burung Pantai, Migrasi,
Burung Nokturnal dan banyak lagi. 

            Selain
presentasi yang menjadi kegiatan utama, terdapat sesi pemaparan poster yang 
berlangsung
pada hari ke-5. Kegiatannya mirip seperti penyelenggaraan pameran. Sebanyak 20
judul poster dipampang di sebuah ruang dan pada tiap-tiap poster sang
pembuatnya turut mendampingi. Orang-orang yang datang berkesempatan untuk tidak
hanya melihat, tapi juga bertanya langsung mengenai isi poster pada sang
pembuatnya. 

Panitia pun
tak lupa mengagendakan satu
hari khusus untuk kegiatan pengamatan burung. Kegiatan ini berlangsung di dua
tempat di sekitar Armidale, yakni pada sebuah kawasan bagi perlindungan Regent 
Honeyeater (Xanthomyza phrygia), burung pemakan nektar yang berstatus 
Endangered, dan Taman Nasional Oxley
Wild River yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai Warisan Dunia atau World 
Heritage. 

 

Kakirumbai Merah yang Istimewa

Saya mencoba memberi uraian
dari hasil penelitian yang saya presentasikan di konferensi itu. Keragaman
jenis burung pantai yang ditemukan di Pantai Trisik mencapai 39 jenis, sekitar
70% dari jumlah total burung pantai yang ditemukan di Indonesia. Burung-burung 
pantai
tersebut berasal dari 5 famili, terbanyak berturut-turut adalah Scolopacidae (24
spesies), Charadriidae (9 spesies), Phalaropidae dan Glareolidae (masing-masing
2 spesies), serta Rostratulidae dan Recurvirostridae (masing-masing 1 spesies).
Satu jenis di antaranya, yakni Kakirumbai Merah Phalaropus fulicaria, yang 
teramati pada 20 April 2008, menjadi
catatan pertama kehadirannya untuk Indonesia.

Ini merupakan catatan
perjumpaan yang keempat untuk kawasan Asia Tenggara. Sebelumnya burung, yang
sebagian besar waktu migrasinya dihabiskan di laut, ini tercatat di Sarawak,
Malaysia (2 Oktober 1968), Pulau Luzon, Filipina (6 Desember 1981) dan
Petchaburi, Thailand (5 Januari 2006). Catatan kehadirannya di Pantai Trisik 
telah
kami kirim ke Kukila, jurnal
ornitologi Indonesia, agar dapat dipublikasikan secara ilmiah.

Selain Kakirumbai Merah, di
Pantai Trisik juga tercatat kehadiran Trinil Nordmann (Tringa guttifer) yang 
menjadi catatan pertama untuk Jawa. Temuan
ini berasal dari pengamatan Lim Wen Sin yang menjumpainya pada 16 Oktober 2003.
Iwan Londo kembali menjumpainya pada 1 Desember 2006 dan berhasil membuat
dokumentasi foto yang menguatkan temuan tersebut. Sebelumnya, burung yang
berstatus Endangered ini hanya
tercatat di Sumatera. 

Meskipun tidak termasuk sebagai
kawasan penting untuk burung pantai di Jawa sebagaimana Muara Gembong, Bekasi,
Jawa Barat (dengan catatan kehadiran lebih dari 29 ribu ekor burung pantai) dan
pesisir Indramayu-Cirebon, Jawa Barat (lebih dari 10 ribu ekor), Pantai Trisik
tetap memiliki arti penting bagi kehidupan burung pantai. Kawasan ini menjadi
habitat bagi Cerek Jawa (Charadrius
javanicus), salah satu jenis burung pantai yang hanya tercatat di Indonesia. 
Burung yang berstatus Near Threatened ini merupakan jenis burung
pantai yang paling minim diketahui secara ilmiah. Data populasi, jenis makanan,
perilaku makan dan perkembangbiakannya tidak banyak diketahui. Bahkan,
baru-baru ini saja diketahui kalau persebaran burung ini juga mencakup Lampung,
Sumatera dan Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Selain itu, beberapa perjumpaan
dengan burung pantai berbendera juga membuktikan kalau Pantai Trisik menjadi
salah satu kawasan penting dalam jalur terbang Asia Timur-Australasian atau 
East Asia-Australasian flyway. 

            Namun
demikian, terdapat juga potensi yang dapat mengancam kelangsungan hidup burung
pantai di Pantai Trisik. Meski
belum dikaji secara mendalam, adanya aktivitas berupa pengambilan telur Cerek
Jawa untuk dikonsumsi, penambangan pasir, abrasi pantai, penumpukan sampah dan
sebagainya dapat membawa dampak yang merugikan secara ekologi.

Berkesempatan untuk berkisah
tentang burung pantai Yogyakarta di Australia telah memberikan banyak
pengalaman, pembelajaran dan motivasi untuk saya. Saya berterima kasih atas
bantuan dan kepercayaan dari banyak pihak, seperti rekan-rekan pengamat burung
Yogyakarta, pihak kampus UNY, Yayasan Kutilang Indonesia dan
perhimpunan ornitolog Indonesia (IdOU). Saya berharap, kelak penelitian dan
upaya konservasi burung di Indonesia juga dapat bertambah maju dan semarak, 
penuh
dengan orang-orang yang menaruh kecintaan dan dedikasi tinggi terhadap hidup
dan kelestarian satwa berbulu ini.

 

 

 

 



      

Kirim email ke