[ac-i] Kekasihku Maya

2009-01-14 Terurut Topik sahid sadoell
Fana nama gadis yang berlari pada sebuah tempat disurga, mengajaku
berkelana dibumi, apakah aku akan bertanya untuk apa kita disini
kekasih, jika surga lebih baik buat kita?



Fana mengajakku berlari sekencang mungkin meninggalkan surga pertama,
tempat kami bercinta, dan menujukan arah kelanaku yang seakan tanpa
tepi sebelum pertemuan, pada perjamuan cintaMu.



Fanakah kini dirimu kekasih, yang letih kukejar dalam sunyiku, sembunyi
sendiri. Adakah kau tuang air hayat ketika letihku berulang, sedang
pengembaraan ditengah perburuan tak henti menggumam dalam sebutkan satu
kata tak henti berkali bak air, kekasih, menderas, menggelombang
menerpa hampa pada ruang, ketika kau sebut perjalananku gombalku
belaka, kekasih, tipuan dari bibir rayuanku. kau pikir cintaku semu,
dimana Tuhan yang lebih kekal dari jasadku, dari sukmaku yang
mengembang disemesta raya, ataukah ruhku selain Allahu azza wa zala.



Fana namamu, perempuanku, masihkah tertipu pandangan pada hampa
langkahmu, ketika kau tak pernah sadari sepiku tanpamu, ketika lelaki
perkasa itu kau sebut robb….berketentuan pada kuasa, agung pada
singgasana dan istana, tak henti kau maki aku lelaki yang lena pada
bidadariMu.



Fana nama perempuanku, bayangan yang menyelinap pada sunyiku,
mengelepar seakanku berlari darimu, ketika aku begitu dekat, seakan
jauh terlihat dariNya.



Fana perempuanku, pergilah kejabalrahman menangislah, menghiba, mendera
diri pada isak tangis tak berkesudahan, sebelum rengkuh cintaku, yang
kau sebut fana, semu belaka, katamu, ketika kubertingkah pada hatimu
yang lena, sekan kutak memanjakanmu, kekasih.



Fana perempuanku, masihkah kau sadariku, jika kau tak bersamaku. makaku
bersamaNya, menangislah mintalah aku sekali lagi mendekapmu,
sebagaimana mula pertama pada hamparan takbertepi yang kekal diri, pada
surgaMu, yaa Allahu azza wa zalla.



Fana perempuanku, jika pertemuan telah menjadi semu, meski hampa,
nyataku ciptaanMu, tak lebih kekal dari waktu dimayapada, hingga sesaat
lewat, adalah aku yang tak sempat, dihadapamu, ketika kutak lagi
berjarak bersamaNya. Cintailah ciptaanKu, sebagaimana mencintaiNya,
kasihiKu sebagaimana kukasihiMu.



Fana perempuanku, bangunkanku, jika fajar surga menyelinap dari balik
tirai jendela, disini tak ada waktu berburu, tak ada kelana jika semua
telah terlihat begitu terbiasa, tak ada aku(ego), tak ada hasrat, tak
ada selainKu, ku selalu bersamaMu, kekasih.

http://sadoell777.ning.com



  Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[ac-i] invitation Indonesian sculpture exhibition Erasmus Huis Jakarta

2009-01-14 Terurut Topik Peters, Paul
 
http://geo.yahoo.com/serv?s=97359714/grpId=20949820/grpspId=1705171464/
msgId=4079/stime=1231919856/nc1=3848585/nc2=5579905/nc3=5541754 
 

Sculpture Exhibition 'The Spirit of Interaction

 Right-click here to download pictures. To help protect your privacy,
Outlook prevented automatic download of this picture from the
Internet.
BLOCKED::http://www.mfa.nl/views/shared/images/extra/logo_rec
hts.gif
 

Erasmus Huis, Jl. H.R. Rasuna Said, Kav. S-3, Kuningan, Jakarta, 021 -
524 1069  

Wednesday, 14 January, 18.00

Sculpture exhibition 

The Spirit of Interaction

will be opened by the Minister of Foreign Affairs of the Netherlands, Mr
Maxime Verhagen

The curator, Dolorosa Sinaga, was thrilled with the idea to organize a
sculpture exhibition using both the gallery space and the refurbished
courtyard and garden of Erasmus Huis

She invited 12 sculptors from Jakarta, Bandung and Yogyakarta who all
had shown their professional commitment as a sculptor

Everyone would actually create a piece of art for the sake of
interaction. It could mean an interpretation of space interactions but
it could also be read as an interaction of feeling and form of social
and cultural background.

Visitors are hoped to experience great interaction with all the works in
both spaces.

The curator intends to strengthen the spirit of interaction which all of
us endlessly strive to achieve.

Participating artists:  AB Soetikno, Abdi Setiawan, Ade Arti, Amalia
Radjab, Anusapati, Awan Simatupang, Budi Santoso, Hardiman Radjab, Innes
Indreswari, Taufan AP, Titarubi, Yani MS

 

15 January -   14 February 

Sculpture exhibition The Spirit of Interaction

Opening hours:

Monday - Thursday: 09.00 - 16.00, Friday: 09.00 - 14.00, Saturday 10.00
- 13.00

Free admission

 


Help save paper! Do you really need to print this email?

Dit bericht kan informatie bevatten die niet voor u is bestemd. Indien u niet 
de geadresseerde bent of dit bericht abusievelijk aan u is toegezonden, wordt u 
verzocht dat aan de afzender te melden en het bericht te verwijderen. De Staat 
aanvaardt geen aansprakelijkheid voor schade, van welke aard ook, die verband 
houdt met risico's verbonden aan het elektronisch verzenden van berichten.

This message may contain information that is not intended for you. If you are 
not the addressee or if this message was sent to you by mistake, you are 
requested to inform the sender and delete the message. The State accepts no 
liability for damage of any kind resulting from the risks inherent in the 
electronic transmission of messages.

Re: [ac-i] Yang Keren dan Terkendali

2009-01-14 Terurut Topik Choirul Anwar
Adi apa kabar? Gak nang Suroboyo neh ta? salm dan sukses juga untuk 
temen-temen Bandung. Aki juga dah baca ulasannya di Majalah Tempo. Top bgt.

ra

-Original Message-
 From: senikampret senikamp...@yahoo.com
 To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
 Date: Sun, 11 Jan 2009 06:05:30 -
 Subject: [ac-i] Yang Keren dan Terkendali


Yang Keren dan Terkendali
Minggu, 11 Januari 2009 | 01:23 WIB  
Wicaksono Adi
Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran 
ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, 
batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan 
gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau 
tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan 
sejenisnya.
Benda-benda yang dirakit dalam bentuk tertentu itu lazim disebut seni 
instalasi. Almarhum Profesor Sudjoko punya istilah seni pepasang buat seni 
semacam itu. Belakangan anggapan seni instalasi muncul lantaran para seniman 
tidak puas dan tidak percaya lagi terhadap media atau segala wujud artistik 
kuno yang disebut seni murni. Bagi mereka, seni rupa dapat dibuat dari apa 
saja dan dapat berlangsung di mana saja: ruang pameran, ruang makan, tempat 
tidur, jalan raya, etalase, kamar mandi, layar komputer, pematang sawah, 
tepi sungai, kuburan dan sebagainya dan sebagainya.
Tubuh, politik, mistik, metafisika, ice cream, jazz, dangdut, jender, iklan 
sabun, dan demo masak dapat ditampilkan secara serempak tanpa perlu takut 
apakah semua percampuran itu nyambung atau tidak. Bukankah dunia kita hari 
ini memang tampil dalam bentuk serpihan yang fragmentatif, penuh ambiguitas, 
kontradiksi, dan paradoks? Bukankah semua hal di sekeliling kita nongol 
begitu saja, satu sama lain banyak yang enggak nyambung? Lalu bagaimana 
merangkum segala yang acak-acakan, saling bertentangan, terpotong-potong dan 
muncrat sana sini itu dalam karya seni?
Sebagian seniman menjawab: Ya sudah, tampilin saja segala yang enggak 
nyambung dan berserakan itu sebagaimana adanya. Enggak perlu dipoles-poles. 
Dan seniman lain yang memuja laku penciptaan seni rupa sebagai upaya untuk 
keluar dari kebuntuan seni murni akan bilang: Menciptakan seni dengan 
mengembangkan berbagai elemen baru semacam itu bukan perkara sepele. Ada 
banyak alasan untuk melakukannya, termasuk kebutuhan seni untuk 
merepresentasikan realitas sekaligus tidak terjebak pada bentuk-bentuk 
representasi yang justru membatasi realitas itu sendiri.
Bagi mereka penggunaan serbamedia dalam seni rupa selain untuk merangkum 
serbarealitas yang silang sengkarut acak-acakan enggak keruan, juga didorong 
oleh tendensi tertentu yang mengacu pada faktor-faktor dominan dan dianggap 
penting dalam art world yang melingkupinya, termasuk kebutuhan pasar.
Keyakinan semacam ini biasanya berlaku pada seniman kontemporer yang sudah 
mapan. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan ISI dan tinggal di Yogyakarta 
yang cenderung berkarya dalam situasi mbentoyong alias terbungkuk-bungkuk 
memanggul beban estetik tertentu. Tapi semangat mbentoyong itu tidak selalu 
diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai wacana seni rupa kontemporer 
itu sendiri. Seniman Jogja memang cenderung memiliki skill yang oke, tapi 
mereka biasanya hanya mengandalkan bakat alam. Minat baca mereka tergolong 
rendah.
Dan ketika melihat beberapa pameran seniman muda Bandung saya melihat bahwa 
mereka lebih rileks dan enggan mendramatisir tendensi atau beban kesenimanan 
semacam itu. Seniman muda Bandung cenderung tidak mbentoyong. Tapi bukan 
berarti mereka tak peduli dengan berbagai terobosan yang dibuka oleh 
perkembangan paradigma estetik terkini. Minat baca mereka relatif lebih baik 
ketimbang seniman Jogja.
Sikap rileks itu kembali tampak pada pameran Bandung Art Now (Galeri 
Nasional, Jakarta, 7-17 Januari 2009). 26 seniman (individu dan kelompok, 
mayoritas belajar seni rupa di ITB) rame-rame datang ke Jakarta di bawah 
komando kurator Aminudin TH Siregar. Pada acara pembukaan datang juga 
kontingen berduyun-duyun menyewa banyak bus hingga Galeri Nasional penuh 
sesak oleh anak-anak muda gaul dan kul dan keren. Ada kurator Rizki A 
Zaelani sebagai bapak guru yang gemuk (dan suka menulis dengan mengutip 
buku-buku bahasa Inggris), lalu seniman-kurator Asmudjo J Irianto sebagai 
dosen yang sangat gaul (dan suka nongkrong di mal), pake topi dan kacamata 
model anak band masa kini.
Suasana gaul
Di kampus ITB para kurator dan dosen muda ini membawa suasana gaul ke ruang 
kelas, asyik berbaur dengan para mahasiswi yang mirip cover girl seperti 
Syagini Ratnawulan (yang juga sangat akrab dengan pemikiran mutakhir model 
filsafat posmo dan buku-buku seni terpenting). Sebagian dari mereka 
memperlakukan berbagai pemikiran berat itu sebagaimana mengunyah permen atau 
menelan ice cream.
Tentu tampang mereka berbeda dengan seniman Jogja yang biasanya anak petani 
atau keluarga agraris pedalaman. Begitu masuk ISI jadi gondrong 

Re: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut

2009-01-14 Terurut Topik izul pelican
setubuh gan..
ini punya nenek moyang cina aja banga...
gw aja yg nenek moyang nya seorang eplaut biasa aja tuh





From: BJD. Gayatri bgayatr...@yahoo.co.uk
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 13, 2009 11:48:53 PM
Subject: Re: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut


ada!!

sesungguhnya bukan hanya nenek moyang kita saja yang pelaut.
sampai sekarang pun, sebagian bangsa indonesia, terutama dari belahan timur 
Indonesia,
merupakan bangsa pelaut.
Mereka melaut dengan kapal kecil kira-kira ukuran 3 meter x 18 meter,
hingga Hong Kong bahkan semenanjung Korea.

Saya pernah jumpa pelaut-pelaut Indonesia yang gagah berani,
yang pernah mengalami sapuan ombak besar di laut cina selatan
dan salah satu pahanya habis dimakan ikan hiu
bercerita, bagaimana berada di laut, antara hidup dan mati.
mereka berasal dari daerah WaKaToBi
(khususnya yang saya temui berasal dari kota Wanci / Wangi-wangi)

Padahal, mereka sekedar berjualan rempah dan komoditi lain dari Sulawesi 
Tenggara
lalu bertukar dengan benda-benda elektronik untuk dijual di daerah WaKaToBi 
tersebut.

Barangkali, kawan-kawan masih ingat, kerusuhan di Ambon
sebagian warga Ambon yang keturunan pulau Buton, segera dapat melarikan diri,
karena,..--untungny a-.. mereka tidak pernah melupakan budaya bahari mereka.
Sehingga, mereka tidak silap untuk hendak memiliki mobil atau sepeda motor.
Ukuran transportasi bagi suku-suku seperti Bugis atau Buton adalah
seberapa besar kapal atau seberapa banyak kapal mereka punya,
sehingga, ketika pecah kerusuhan, sebagian dari mereka dapat langsung
mengungsi ke pulau asal mereka di P. Buton, misalnya
P. Buton saat itu merupakan daerah penampungan pengungsi (IDP) yang cukup besar.

Saya kira, lagu itu bukan cuma mitos, bahwa nenek moyangku pelaut.
Namun hingga sekarang, sebagian bangsa Indonesia adalah pelaut.
Sayangnya, karena Jawanisasi yang dilakukan Orde Baru itu,
maka budaya laut yang kita punya, tidak pernah tampil ke permukaan.

Moga informasi ini berguna
Tabik
Gayatri


--- On Tue, 13/1/09, ketua_iblis pelican_production@ yahoo.com wrote:

Subject: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut
Date: Tuesday, 13 January, 2009, 12:50 PM


ada yg maungomentarin ga nenek moyangku seorang pelaut
 



  

RE: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut

2009-01-14 Terurut Topik Alidjaja Ivan
Bangga dengan nenek moyang kita cerminan kita menghargai org2 yg
berjuang dan mendahului kita..
Ga ada yg salah dgn hal itu..
 
Kebanggaan yg berlebihan (dan norak), itu yg krg baik..
 
Terlalu 'biasa' (sampai2 lupa pada asal usulnya) jg hal yg krg baik..
-





From: artculture-indonesia@yahoogroups.com
[mailto:artculture-indone...@yahoogroups.com] On Behalf Of izul pelican
Sent: 14. tammikuuta 2009 18:16
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Subject: Re: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut




setubuh gan..
ini punya nenek moyang cina aja banga...
gw aja yg nenek moyang nya seorang eplaut biasa aja tuh





From: BJD. Gayatri bgayatr...@yahoo.co.uk
To: artculture-indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 13, 2009 11:48:53 PM
Subject: Re: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut




ada!!

sesungguhnya bukan hanya nenek moyang kita saja yang pelaut.
sampai sekarang pun, sebagian bangsa indonesia, terutama dari belahan
timur Indonesia,
merupakan bangsa pelaut.
Mereka melaut dengan kapal kecil kira-kira ukuran 3 meter x 18 meter,
hingga Hong Kong bahkan semenanjung Korea.

Saya pernah jumpa pelaut-pelaut Indonesia yang gagah berani,
yang pernah mengalami sapuan ombak besar di laut cina selatan
dan salah satu pahanya habis dimakan ikan hiu
bercerita, bagaimana berada di laut, antara hidup dan mati.
mereka berasal dari daerah WaKaToBi
(khususnya yang saya temui berasal dari kota Wanci / Wangi-wangi)

Padahal, mereka sekedar berjualan rempah dan komoditi lain dari Sulawesi
Tenggara
lalu bertukar dengan benda-benda elektronik untuk dijual di daerah
WaKaToBi tersebut.

Barangkali, kawan-kawan masih ingat, kerusuhan di Ambon
sebagian warga Ambon yang keturunan pulau Buton, segera dapat melarikan
diri,
karena,..--untungny a-.. mereka tidak pernah melupakan budaya bahari
mereka.
Sehingga, mereka tidak silap untuk hendak memiliki mobil atau sepeda
motor.
Ukuran transportasi bagi suku-suku seperti Bugis atau Buton adalah
seberapa besar kapal atau seberapa banyak kapal mereka punya,
sehingga, ketika pecah kerusuhan, sebagian dari mereka dapat langsung
mengungsi ke pulau asal mereka di P. Buton, misalnya
P. Buton saat itu merupakan daerah penampungan pengungsi (IDP) yang
cukup besar.

Saya kira, lagu itu bukan cuma mitos, bahwa nenek moyangku pelaut.
Namun hingga sekarang, sebagian bangsa Indonesia adalah pelaut.
Sayangnya, karena Jawanisasi yang dilakukan Orde Baru itu,
maka budaya laut yang kita punya, tidak pernah tampil ke permukaan.

Moga informasi ini berguna
Tabik
Gayatri


--- On Tue, 13/1/09, ketua_iblis pelican_production@ yahoo.com wrote:


Subject: [ac-i] nenek moyang ku seorang pelaut
Date: Tuesday, 13 January, 2009, 12:50 PM



ada yg maungomentarin ga nenek moyangku seorang pelaut






 



[ac-i] Lidhie Art Forum Bawa 3 Monolog ke Probolinggo

2009-01-14 Terurut Topik abdul malik




“
PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN “

“Apa
kamu percaya kalau kamu tertawa tapi sebenarnya kamu menangis ..? tidak ..?
kalau begitu kamu bahagia. Tidak seperti kami, tidak seperti robot ini, bangkai
ini, badut besar ini..! kami harus tetap yakin dan setia meskipun tahu semua
ini salah. Kamu dengar ..? kami bahkan tidak punya hak untuk merasa berdosa ,
itu tabu ..!!. sebagaimana semua sistim, ini adalah pembunuhan diri, tapi kami
tidak berhak mati , kami harus hidup, karena kami harus menang.

“
Sebuah petikan naskah Boss karya Putu wijaya”

Riang
sorak ramai ketika itu , langit mulai menggumpal dengan awan hitam “ tak terasa
hari telah menginjak malam! Sebuah sanggar teater  yang sederhana telah
melakukan aktivitas (latihan) ketika itu, sebuah proses running tiga naskah
monolog yang disutradarai oleh Bagus Mahayasa mewarnai suasana di Jl. Benteng
Pancasila 62 Kota Mojokerto  setiap hari. 

Tiga
naskah monolog ini dimainkan oleh tiga orang aktor masing-masing Mach. Novianto
dalam naskah “Boss” karya Putu Wijaya,
pendiri teater Mandiri Jakarta. Naskah Boss ini
ditulis dan dihadiahkan untuk almarhum Alimin Lasasi yang meninggal pada
tanggal 28 september 1989, Ia merupakan salah satu aktor terbaik dari Teater 
Mandiri. Buyung Akhirul Akbar dalam naskah “Pidato”
Karya Putu Fajar Arcana, seorang wartawan seni budaya harian
Kompas dan Siti Mafruka dalam naskah “Rumah dan Tetesan” karya
Riris K. Toha Sarumpaet, seorang guru besar tetap di Fakultas Ilmu Budaya, 
Universitas Indonesia. Ketiga reperoar akan ditampilkan
sekaligus pada satu panggung oleh Lidhie Art Forum dan berlangsung satu hari
 saja.

Dalam
naskah Pidato karya Putu Fajar Arcana, Buyung Akhirul Akbar berperan
sebagai sesosok pemuda yang telah dirasuki oleh roh seorang korban kekejaman
masa pemberontakan PKI, yang mana ia tidak suka dengan hal yang berbau politik
dimana ia menganggap bahwa orang-orang politik merupakan orang yang suka
mencla-mencle. Seorang politikus yang dengan mudah mengumbar impian pada rakyat
kecil yang mengatakan pada mereka bahwa mereka sanggup melepaskan penderitaan
rakyat kecil yang selama ini dijerat hutang oleh para tuan tanah. Dengan tubuh
yang diperankan oleh Buyung inilah ia mencoba berpidato dihadapan semua orang
untuk menyampaikan semua hal yang menjadi keluhannya saat itu.

Sedangkan
naskah Rumah dan Tetesan yang diperankan oleh Siti Mafruka, berbicara
tentang seorang Ibu yang berperan dalam rumah tangga
yang harus ia jalani sendiri tanpa seorang suami yang menemaninya dalam
kehidupan. Ia harus berkorban untuk kedua anak yang dicampakkan dan dibiarkan
oleh sang Ayah serta kehilangan kasih sayang. Dia tak sanggup memikirkan apa
yang terjadi pada anak-anaknya hanya dengannya, Ia merasa, bagaimana impian
mencapai tertinggi tidak sepenuhnya membuat dia lengkap. Siti Mafruka disini
mencoba menggambarkan seorang Ibu yang bingung memahami posisi seorang Ibu
dalam rumah tangga , tapi meski demikian akhirnya Ia menemukan bahwa ternyata
bukan sebuah keluarga kokoh, Ia mendamba bahagia banyak orang, karena bahagia
adalah kita semua, yang menerima dan yang menyerahkan, yang serumah dengan
perbedaan. 

Dalam
naskah Boss karya Putu Wijaya yang diperankan oleh Mach. Novianto ini
bercerita tentang kesenjangan antara Boss dan bawahannya di dalam suatu
pekerjannya. Tersiksa dengan apa yang telah dilakukan oleh si Boss tersebut dan
merasa cemburu dengan bawahannya. Hidup yang tidak tenang telah dialami terus
setiap hari, kadang terasa jenuh dengan pekerjaannya, kadang merasa tidak
nyaman dengan hidupnya yang telah dijalani. Kekhawatiran yang dialaminya seperti
terjerat, terperosok ke dalam lubang pikirannya yang dalam dan jauh. Kesulitan
yang terhindar oleh si bawahan ternyata sudah tak terbendung lagi bahwa ia
harus tutup mulut tak peduli apa dan siapa yang ada dihadapannya. 

Pentas
monolog tiga naskah ini merupakan salah satu agenda pentas keliling 5 kota yang 
dipimpin oleh
Adrian Dwi C sebagai pimpinan produksi. Kelima kota tersebut adalah Probolinggo,
Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Blitar. Agenda
pementasan keliling ini merupakan agenda rutin dari sanggar Lidhie Art Forum
(LAF) Mojokerto yang dipimpin oleh Bagus Mahayasa. Probolinggo adalah kota 
pertama yang akan
dijadikan tempat pentas pertama mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak
SMAN 4 Probolinggo, tiga naskah monolog ini akan dipentaskan di aula SMAN 4
 Probolinggo yang beralamat di Jl. Slamet Riyadi Kanigaran Probolinggo
pada hari Minggu tanggal 25 Januari 2008 pukul 19.00 WIB. Disamping agenda
pentas keliling 5 kota
ini, Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto memliki agenda rutin lainnya seperti
workshop keaktoran, diklat teater pelajar, dialog budaya, dll.

Untuk
lebih menjalin hubungan dengan pihak Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto dapat
lewat contact person Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto : 0856 486 10191
(Buyung), 0852 308 88303 (Siti Mafruka), 0856 457 45176 (Adrian Dwi C) atau
e-mail pada alamat : komunitas_laf...@yahoo.co.id atau add as friend via alamat

[ac-i] Percobaan

2009-01-14 Terurut Topik buletinsenimanjogja
tes...tes...tes
Mohon Ijin ikut berpartisipasi.
Terimakasih.



[ac-i] Ginglimus

2009-01-14 Terurut Topik blalang_kupukupu

Yang kucermati dari balik rumpun awan ini,

hati mereka yang terkapar oleh gundukan cerutu

dan keju

dua kakiku, katanya, dengan tank-tank mereka

telah mereka buntungi

di serpihan tembok-tembok air mata kalian

dan gorong-gorong rahasia rahim perempuan kalian,

bendera itu memang berkibar nanti

tanpa tiang

dan temali lagi



Yang kucermati dari balik rumpun awan ini,

beringin pekat bergerombol sekejab

Tumbuh di lembah-lembah dekapan tangan

yang biasanya bocah kalian bermain petak umpat

dengan perawi magrib

Secondong matahari di balik punggung dada kalian

mereka ingat sebuah pintu kamar,

di mana salib kayu dan segambar rajutan

renda deretan alif tergantung bertuliskan:



Inilah pintu rumah ruh kami !

Pintu yang kami tidak perlu mengenali

gerigi anak kunci lagi. Seperti petani purba

di tengah ladangnya, kami bebas memetik anggur

dan mengerat roti



Yang kucermati dari balik rumpun awan ini,

mereka hendak menyusun bata demi bata tembok itu

kembali

Berbentuk kubus dengan kubah bintang enam

di atas lontar wahyu yang dirancang rudal mati

mereka bilang:

  Dua kakimu telah pincang!

Dan usiamu hanya sejengkal siang,

selunglai ilalang



Yang kucermati dari rumpun awan ini,

Gaza, tidak kurang dari seratus utas pelepah kurma

derap-derap kuda berpanji hitam itu

berlomba-lomba mengepungmu, seperti bocah-bocah debu

yang mendatangiku, datanglah padaku !



Sesungguhnya aku masih menyimak

Di balik rumpun awan tebal ini

tungkai kakiku tetap berdiri di rima lintang dua tanganku

tidak kurang dari seratus utas pelepah kurma, Gaza

kalian pasti menabuh rebana putih

di tengah lingkar poros lidah api mastnawi



Yang kukatakan dari balik rumpun awan ini,

Mendekatlah padaku,

hai tepian bibir yang hendak rekah

basah kembali, mendekatlah padaku,

hai arus mata yang rebah pasrah





blalang_kupukupu

http://asharjunandar.wordpress.com http://asharjunandar.wordpress.com





[ac-i] Lagi : Sumberboto, Mojowarno.

2009-01-14 Terurut Topik anuv chaviddy
Radar Mojokerto 


[ Kamis, 15 Januari 2009 ] 
Merunut Sejarah Wana Wisata Sumberboto, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, 
Jombang 

Basis Militer Pejuang, Dulu Diberi Nama Sumber Pangkat 

Semula, wana wisata ini merupakan tempat pemandian biasa. Setelah proklamasi 
kemerdekaan, muncul sebuah organisasi angkatan muda kehutanan dari korps 
karyawan kehutanan. Di lokasi ini pula sebuah monumen dijadikan tonggak sejarah 
perjuangan pada tahun 1945 dan 1948 bagi pasukan Wanara dan warga kehutanan 
sekitar. 

BINTI ROHMATIN, Jombang 

---

PADA tanggal 27 Agustus 1947 silam, Angkatan Muda Kehutanan yang terdiri atas 
korps karyawan kehutanan menyebut sebagai pasukan Wanara beranggotakan 39 
orang. Pasukan ini kemudian membaktikan diri pada Ibu Pertiwi. Hanya 
menggunakan senjata seadanya, bambu runcing dan pedang. 

Pasukan Wanara berkekuatan 1 Divisi dibawah komando Sudomo dan Soekiman sebagai 
kepala staf. Saat itu, pasukan mendapat pengesahan khusus dari Panglima 
Jenderal Soedirman yang komandonya berpusat di Jogjakarta. Salah satu 
pasukannya di Jawa Timur, berada di Jombang dari Batalyon III dibawah komando 
Soedjarwo (mantan Menteri Kehutanan).

Saat itu pemandian Sumberboto dijadikan tempat persenjataan pasukan Wanara 
dengan menghasilkan jenis peluru, granat, bom dan jenis senjata yang lain. 
Untuk melengkapi kebutuhan perang melawan penjajah Belanda. Pasukan ini hidup 
serba memprihatinkan sehari makan sehari tidak, di pemandian yang masih berupa 
hutan belantara. 

Hampir setiap hari, pasukan ini membuka sejumlah bom peninggalan penjajah 
Jepang untuk diolah menjadi peluru dan granat. Namun, upaya ini membawa musibah 
diluar dugaan. Pada tanggal 12 April 1948, tiba-tiba bom seberat 500 kg yang 
dibuka itu meledak hingga menewaskan lima anggota pasukan Wanara. Lokasi 
ledakan bom ini kemudian dijadikan monumen Sumberboto yang dilengkapi dua 
patung prajurit, yang bertengger sampai sekarang. ''Saat diresmikan Pak Djarwo 
disebut sebagai Sumber Pangkat, dengan harapan seluruh anggotanya bisa mendapat 
kelayakan hidup dengan pangkat dan gelar yang tinggi,'' tutur Slamet. 

Sejak saat itu kemudian banyak warga dari berbagai daerah yang mengultus wana 
wisata sebagai sarana mencari keberuntungan nasib. Tidak sedikit pengunjung 
yang datang hanya sekedar mengambil air sumber ini untuk berbagai tujuan. Nama 
Sumber Pangkat itu, paparnya, berawal dari keberuntungan nasib yang dialami 
Soedjarwo sebagai komandan Batalyon III, yang luput dari musibah ledakan bom. 
Saat itu, Soedjarwo lolos dari maut. Meski dia saat itu hanya berada sekitar 15 
meter dari tempat ledakan bom.

Seiring dengan perkembangan jaman, lokasi pemandian ini dikembangkan sebagai 
wana wisata, lengkap dengan bangunan kolam renang, wisma, pendap, bumi 
perkemahan, MCK dan sarana rekreasi keluarga. Sayangnya, berpuluh tahun wana 
wisata ini kurang mendapat penanganan optimal. Pola pengaturan lokasi juga 
kurang maksimal. Ini ditambah dengan kebiasaan buruk pengunjung yang membuang 
sampah sembarangan. Sehingga lokasinya terkesan kumuh dengan penataan ala 
kadarnya. 

Padahal wana wisata ini menyimpan panorama estetika alami dengan nilai historis 
tinggi. Bukan tidak mungkin, wana wisata ini menjadi wisata alternatif yang 
cukup menjanjikan. Bisa dijadikan sarana outbound yang menyenangkan, ajang 
penelitian pelaku pendidikan dan melepas lelah dengan bersantai sejenak. (lal)


  

 



Bupati: PIM Layak Diteruskan 
Gotrah Siapkan Somasi 
Kades Sayangkan Aksi Pemukulan 
Bing Wan Masih Misterius 
Tiga Penjudi Sabung Ayam Diciduk 
Diperiksa Polantas, Kakek Tewas Mendadak 
BKD Akan Ambil Tindakan 
Dua Pengedar Koplo Dibekuk 
Bantuan Puluhan RT Nyantol 
RSUD dr Wahidin Soediro Husodo setelah Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal 
Bang Yos Ziarah di Makam Raden Wijaya 
Pengecer Togel di Ringkus Polisi 
Ramai-ramai Copot Sendiri 
Amel Akhirnya Berpulang 
Peserta KB Meningkat 
Tahu Bebas Formalin 
Beri Kontribusi Pendapatan 55 Persen 
Counter Ponsel Dibobol 
Parkir Depan Kantor, Motor Amblas 

HALAMAN KEMARIN 



Melihat Pedagang Bunga di Bantaran Sungai Brantas 
Oknum PNS Edarkan Upal 
Pelayanan Kecamatan Trawas Dikeluhkan 
Bandar Togel Mojowarno Lolos 
Merunut Sejarah Wana Wisata Sumberboto, Mojowarno, Jombang 
MAN 5 Bakar Spanduk, MAN 1 Teatrikal 
Masih Ada Bakso Dicampur Boraks 
Penjual Terancam Sanksi Pidana 
Penipuan Bermodus Undian Marak Lagi 
Polisi Amankan Miras tanpa Izin 


  Yahoo! Toolbar kini dilengkapi Anti-Virus dan Anti-Adware gratis.
Download Yahoo! Toolbar sekarang.
http://id.toolbar.yahoo.com

[ac-i] Bang Yos sowan ke Pendiri Majapahit

2009-01-14 Terurut Topik anuv chaviddy
 Radar Mojokerto 


[ Kamis, 15 Januari 2009 ] 
Bang Yos Ziarah di Makam Raden Wijaya 

MOJOKERTO - Mendekati pelaksanaan pemilihan Presiden RI dan Pemilu 2009 makin 
banyak saja pejabat atau mantan pejabat negara yang mengunjungi makam petinggi 
Kerajaan Majapahit. Salah satunya dilakukan salah satu calon presiden (capres) 
Sutiyoso atau yang biasa dipanggil Bang Yos. 

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengunjungi makam Raden Wijaya Kartarajasa 
Jayawardhana di Siti Inggil Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan 
Trowulan, Kabupaten Mojokerto, kemarin. Bang Yos yang didampingi istrinya 
Setyarini juga menyempatkan diri untuk berdoa dan menyiramkan bunga di depan 
makam pendiri Majapahit itu.

Kedatangan Sutiyoso kemarin disambut antusias warga setempat. Tidak hanya 
mengelu-elukan nama capres yang didukung Partai Indonesia Sejahtera (PIS) itu, 
namun dia disambut dengan tarian kuda lumping warisan Majapahit. 

Menurutnya, kedatangannya ke makam Siti Inggil merupakan bagian penutup dari 
rangkaian kunjungan safari Indonesia Pantang Menyerah dengan tema Penyelamatan 
Aset Budaya Bangsa. 

''Makam ini memang menjadi pamungkas kami dalam safari Indonesia. Selain 
kunjungan yang pertama, bagi kami makam sejarah seperi Raden Wijaya ini bagian 
kekayaan sejarah yang harus dijaga dan dilestarikan, ujarnya di hadapan 
masyarakat.

Menurut Bang Yos, dengan kekayaan yang dimiliki, khususnya kawasan Trowulan 
yang dikenal sebagi obyek wisata potensial karena terdapat berbagai macam situs 
kerajaan, tidak semestinya terjadi perusakan. Seperti yang terjadi saat 
pelaksanaan pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM).

Sebab, dibanding negara lain seperti Singapura atau Brunei Darussalam, 
Indonesia masih memiliki banyak situs kerajaan atau peninggalan Majapahit 
dengan nilai tinggi. ''Dibandingkan Monas, Majapahit ini jauh lebih mahal. 
Makanya kalau PIM itu merusak situs sejarah harus segera dihentikan, 
terangnya. 

Disinggung mengenai peluangnya menduduki kursi RI I (Presiden, Red) pada 
Pilpres 2009, dia karena diusung partai gurem, dia mengaku tetap optimistis. 
Meski enggan menyebut berapa anggaran kampanye yang akan dikeluarkan, namun 
baginya pendekatan kepada masyarakat melalui Safari Indonesia Pantang Menyerah 
dinilainya cukup efektif untuk mengenalkan diri. 

''Makanya saya rasa sosialisasi langsung kepada masyarakat tidak masalah. Yang 
penting mereka tahu bentuk fisik saya, tidak hanya sekedar mimpi dan melihar 
dari televisi, paparnya dengan didampingi Ketua DPP PIS Budiyanto. (ris/yr)


  

 



Bupati: PIM Layak Diteruskan 
Gotrah Siapkan Somasi 
Kades Sayangkan Aksi Pemukulan 
Bing Wan Masih Misterius 
Tiga Penjudi Sabung Ayam Diciduk 
Diperiksa Polantas, Kakek Tewas Mendadak 
BKD Akan Ambil Tindakan 
Dua Pengedar Koplo Dibekuk 
Bantuan Puluhan RT Nyantol 
RSUD dr Wahidin Soediro Husodo setelah Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal 
Pengecer Togel di Ringkus Polisi 
Ramai-ramai Copot Sendiri 
Amel Akhirnya Berpulang 
Merunut Sejarah Wana Wisata Sumberboto, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, 
Jombang 
Peserta KB Meningkat 
Tahu Bebas Formalin 
Beri Kontribusi Pendapatan 55 Persen 
Counter Ponsel Dibobol 
Parkir Depan Kantor, Motor Amblas 

HALAMAN KEMARIN 



Melihat Pedagang Bunga di Bantaran Sungai Brantas 
Oknum PNS Edarkan Upal 
Pelayanan Kecamatan Trawas Dikeluhkan 
Bandar Togel Mojowarno Lolos 
Merunut Sejarah Wana Wisata Sumberboto, Mojowarno, Jombang 
MAN 5 Bakar Spanduk, MAN 1 Teatrikal 
Masih Ada Bakso Dicampur Boraks 
Penjual Terancam Sanksi Pidana 
Penipuan Bermodus Undian Marak Lagi 
Polisi Amankan Miras tanpa Izin 


  Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di Yahoo! Indonesia Top Searches 2008. 
http://id.promo.yahoo.com/topsearches2008

[ac-i] Trowulan

2009-01-14 Terurut Topik karta pustaka
PROPOSALDear Moderator, 
Mohon ijin menyampaikan seruan ini demi menyelamatkan aset pusaka budaya 
bangsa. Terima kasih.

 

 

 

TRI WULANG UNTUK TROWULAN

 

Pernyataan sikap dan tuntutan Petro Majapahit 

untuk pelestarian Situs Trowulan

 

1.  Bahwa Situs Trowulan adalah situs yang sangat penting bagi ilmu 
pengetahuan dan kebudayaan, serta sejarah bangsa Indonesia. Oleh karena itu 
Situs Trowulan harus dilestarikan dengan cara-cara yang benar sesuai dengan 
prinsip-prinsip pelestarian.

2.  Bahwa setiap bentuk perusakan tidak dibenarkan, baik yang dilakukan 
oleh individu maupun lembaga, lebih-lebih pemerintah, sebagaimana disebutkan 
dalam UU RI No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan peraturan 
perundang-undangan yang mengikutinya.

3.  Bahwa setiap pengembangan dan pengelolaan Benda Cagar Budaya dan 
Kawasan Cagar Budaya harus melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan 
(stakeholders) dan masyarakat sekitar.

 

Berkenaan dengan telah terjadinya perusakan Situs Trowulan, maka kami menuntut:

1.  Pemerintah, dalam hal ini Menteri Kebudayaan dan Pariwisata beserta 
seluruh jajaran di bawahnya, harus segera menjelaskan secara terbuka tentang 
proyek Majapahit Park kepada publik dengan rinci.

2.  Pemerintah harus menghentikan proyek Majapahit Park, dan proyek-proyek 
pengembangan Kawasan Cagar Budaya lainnya yang menggunakan modus serupa.

3.  Pemerintah harus mengembalikan seperti semula (rehabilitasi) kondisi 
situs yang rusak akibat pengembangan Majapahit Park.

 

Kesalahan dalam pelaksanaan pembangunan Majapahit Park sangat fatal karena 
telah menghancurkan aset pusaka budaya bangsa sehingga telah melukai hati 
bangsa Indonesia, dan menginjak-injak prinsip pelestarian yang seharusnya 
diteladankan oleh pemerintah sebagai pemegang mandat seluruh rakyat Indonesia. 
Bukan sebaliknya, pemerintah justru memberi contoh buruk dengan merusaknya.

 

Jika pemerintah tidak mengindahkan seruan ini, maka rakyat Indonesia berhak 
melakukan class action, menuntut pertanggungjawaban pemerintah melalui jalur 
hukum.

 

Sebagai rakyat Indonesia, kami yang menyampaikan seruan ini bersedia duduk 
bersama dan ikut memberikan sumbangan pemikiran demi tercapainya tujuan 
pelestarian pusaka budaya Indonesia yang berkelanjutan.

 

Yogyakarta, 9 Januari 2009

 

Petro Majapahit (Peduli Trowulan - Masyarakat Jogjakarta Pemerhati Pelestarian 
Situs Budaya)

 

1. Forum Pelestarian Lingkungan Budaya Yogyakarta (Forum Jogja)

2. Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya Yogyakarta (DP2WB)

3. Jogja Heritage Society

4. Center for Heritage Conservation, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, 
Fakultas Teknik Univ. Gadjah Mada

5. Green Map Indonesia

6. Kerupuk (Komunitas Peduli Ruang Publik Kota) Yogyakarta

7. Senthir, the Youth Spirit of Jogja Heritage Society

8. Bonang Foundation

9. Yayasan Kanthil Kotagede

 

 

 

 

 

 

Anggi MinarniDharma Gupta

Sekretaris Forum Jogja  Ketua Forum Jogja 

 



















































 
  
  
  
 













 
  
  1
  
 













[ac-i] PIM relokasi!

2009-01-14 Terurut Topik anuv chaviddy
PIM Majapahit Akhirnya Pindah





 

KOMPAS/YURNALDI
Benda Cagar Budaya Wringin Lawang di Trowulan, Jawa Timur. Pintu Gerbang 
Kerajaan Majapahir.





/




KOMPAS- Kamis, 15 Januari 2009 | 03:06 WIB

JAKARTA, KAMIS--Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik 
mengatakan, pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) akhirnya dipindahkan ke 
tempat lain.
 
Kita akan merelokasi Pusat Informasi Majapahit itu, kata Menbudpar Jero Wacik 
dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, Rabu.
 
Keputusan untuk memindahkan PIM tersebut, katanya, merupakan salah satu hasil 
kesimpulan rapat antara pihak Depbudpar yang dipimpin Menbudpar, kalangan 
Arkeolog yang diwakili oleh Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Prof Dr 
Mundardjito, kalangan arsitek dan perwakilan proyek pembangunan PIM pada Selasa 
(13/1) malam.
 
Menbudpar mengatakan, pemidahan PIM akan tetap berada di kawasan situs 
Majapahit Trowulan dengan mencari lahan yang tidak ada peninggalan purbakalanya.
Atas usulan pak Mundardjito, PIM akan dipindah pada areal yang memang sudah 
rusak oleh penggalian, tetapi lahan itu bukan milik pemerintah, katanya.
Oleh karena itu, pihaknya mengusahakan untuk membeli tanah tersebut dengan 
meminta persetujuan DPR.
 
Menbudpar mengakui salah satu kesalahan pembangunan PIM adalah membangun pada 
tanah milik pemerintah di areal situs Trowulan yang ternyata di bawahnya 
terdapat benda-benda peninggalan Majapahit.
 
Kesimpulan hasil rapat lainnya yaitu pembangunan PIM sudah dihentikan, dan 
pembentukan tim evaluasi pembangunan PIM yang diketuai oleh Mundarjito serta 
rehabilitasi situs Majapahit yang rusak karena pembangunan PIM itu.
Rehabilitasi akan dilakukan semaksimal mungkin, kata Menbudpar.
 
Sedangkan tim evaluasi pembangunan PIM terdiri dari 10 orang termasuk ketua 
Mundardjito terdiri dari perwakilan arkeolog, arsitek,  depbudpar dan LSM 
setempat.
Anggota tim tersebut yaitu Dr Daud Aris Tanudirdjo (Arkeolog UGM), Arya Adieta 
(IAI/Ikatan Arsitek Indonesia), Osrifoel Oesman (IAI), Anam Anis (LSM Gotnan 
Wilwatikta, Mojokerto), Gatot Gautama (Kasubdit Perlindungan Peninggalan Bawah 
Air Depbudpar), Junus Satrio (Kepala Pusat Litbang Kapuslitbang Kebudayaan 
Depbudpar) dan Sonny Chr Wibisono (Kabid Data dan Publikasi Puslitbang 
Arkeologi Depbudpar).
 
Menbudpar mengatakan, pembangunan PIM itu tidak ada kaitannya dengan menjelang 
Pemilu 2009 atau sengaja untuk merusak situs purbakala Majapahit.
 
Justru pembangunan PIM, katanya, bertujuan mengangkat sejarah kebesaran 
Majapahit dan agar bisa menjadi daya tarik masyarakat dan wisman, maka 
masyarakat Trowulan akan diuntungkan dan bisa beralih dari pembuat batu bata 
dan perusak situs menjadi rantai pariwisata  Taman Majapahit.
 
Sedangkan Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Prof Dr Mundardjito 
mengatakan kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa pembangunan di suatu 
situs purbakala harus hati-hati agar tidak merusak situs itu sendiri.
 
Dia mengatakan perlu dibuat suatu aturan yang jelas bagi pembangunan atau 
pemugaran situs purbakala karena kerusakan baik yang disengaja maupun tidak 
seringkali terjadi di berbagai situs purbakala di Indonesia.(ANT)
JY 



  Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com