http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009111606441615

      Senin, 16 November 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
'The Day After', Kunci Sukses Presiden! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "SENIN, 16 November, hari terakhir tugas Tim Delapan alias TPF, atau Tim 
Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum Bibit-Chandra!" ujar Umar. 
"Setelah tim menyerahkan ke Presiden SBY laporan lengkap dengan rekomendasi 
hasil tugasnya, selanjutnya terserah Presiden mau diapakan laporan TPF itu!" 
"Pokoknya the day after TPF menyerahkan laporan ke Presiden, rakyat Indonesia 
menunggu dengan harap cemas, tindakan apa yang akan ditempuh Presiden 
menyelesaikan krisis aparat penegak hukum, khususnya terkait konflik Polri, 
Kejaksaan, dan KPK" sambut Amir. "Tindakan Presiden amat menentukan masa depan 
sistem dan praktek hukum negeri kita, karena konflik yang berkobar telah jadi 
arena perjuangan rakyat mendobrak konstelasi mafia hukum di kalangan aparat dan 
makelar kasus--markus, jadi berkat terselubung bagi Presiden untuk mereformasi 
aparat hukum!" "Semua itu tergantung langkah pertama Presiden pada the day 
after, setelah TPF menyelesaikan tugas dan hasilnya menjadi otoritas Presiden!" 
tegas Umar. "Perlu diingat, setelah tugasnya selesai, posisi TPF sebagai 
representasi publik untuk mewujudkan reformasi hukum beralih pada Presiden! 
Artinya, Presiden menjadi representasi publik dalam membela KPK. Seperti 
dikobarkan TPF selama ini, harus mampu membenahi Polri dan kejaksaan sesuai 
harapan publik!"

      "Langkah awal yang sejak minggu pertama tugas telah TPF rekomendasikan, 
Presiden melangkah gambit--mengorbankan buah catur dekat Raja--untuk membuka 
jalan kemenangan!" timpal Amir. "Hanya dengan langkah gambit itu, tindakan 
mengatasi konflik Polri, jaksa versus KPK, terpadu dengan reformasi hukum di 
tubuh Polri, jaksa, dan KPK, sekaligus menumpas mafia hukum dan markus yang 
telah dicanangkan

      Presiden seusai pemutaran sadapan KPK di MK!"

      "Meski mudah terbaca, langkah gambit itu tampak menjadi satu-satunya 
pilihan memenuhi harapan publik!" tegas Umar. "Langkah itu punya jaminan 
berhasil berkat dukungan publik yang amat mendambakan reformasi hukum! 
Sebaliknya jika membuat langkah lain, harapan publik yang bertumpu pada 
Presiden sebagai representasi dan pemangku aspirasinya dikecewakan, hasil usaha 
presiden meredam gerakan massa di jalanan dan gerakan publik di Facebook yang 
tercapai lewat pembentukan TPF, akan buyar kembali! Akibatnya, selain usaha 
pemberantasan korupsi, reformasi hukum, dan pemusnahan markus akan gagal, 
jalannya pembangunan juga bisa kurang nyaman oleh tekanan rakyat mendesak 
reformasi hukum berdasar rasa keadilan masyarakat!"

      "Tapi diyakini, Presiden yang sedang di atas angin sebagai representasi 
publik dengan hasil TPF, tak menyia-nyiakan peluang mereformasi hukum!" tegas 
Umar. "Peluang emas yang tak terulang sebagai kunci sukses periode kedua 
jabatannya." 
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke