http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009121501055716

      Selasa, 15 Desember 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
Rakyat Dambakan Arjuna-Srikandi! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      TEMON tinggal satu-satunya orang dari kawasan desa transmigran yang bisa 
menggambar wayang Arjuna dan Srikandi pada sebutir kelapa gading muda untuk 
tingkeban--upacara tujuh bulan kehamilan anak pertama. Setiap minggu ada saja 
yang datang minta bantuannya untuk itu.

      "Kenapa harus Arjuna dan Srikandi?" tanya Temin.

      "Supaya kalau anaknya laki-laki seperti Arjuna, kalau perempuan seperti 
Srikandi!" jelas Temon. "Juga petunjuk, kalau bacokan ayah si bayi waktu 
membelah kelapa itu lurus anaknya laki-laki!"

      "Apakah semua itu terbukti?" kejar Temin.

      "Logikanya, kalau tidak terbukti kebiasaan itu pudar, karena orang jadi 
enggan!" jawab Temon.

      "Tapi kuperhatikan, anak-anak lahiran kawasan sini tak banyak yang tampan 
seperti Arjuna atau secantik Srikandi!" tukas Temin. "Kalau ada yang tampan dan 
cantik, sepadan ayah--ibunya!"

      "Yang paling didambakan rakyat bukan tampan atau cantiknya wajah, tapi 
watak kesatrianya yang tegas, berani bersikap meski ada risiko!" tegas Temon. 
"Arjuna, jadi idola dengan sosoknya sebagai problem solver, tokoh penuntas 
masalah yang dilakukannya secara kesatria, tegas dan siap berkorban! Sosok itu 
bisa diperankan siapa saja sesuai skala peran di lingkungannya!"

      "Berarti rakyat membutuhkan banyak Arjuna dan Srikandi yang berperan pada 
skala lingkungan tokohnya!" timpal Temin. "Tapi sosok dambaan yang seharusnya 
menjadi bagian dari masyarakat itu justru langka dalam masyarakat! Akibat 
langka sosok problem solver di tengah masyarakat, rakyat kebanyakan terpaksa 
harus selalu berjuang sendiri untuk mengentaskan diri, keluarga dan warganya 
dari kemiskinan! Apa

      inti masalahnya?"

      "Feodalisme di lapisan elite kita dengan status oriented, rupanya telah 
merebak ke lapisan sosial terbawah hingga meski mereka masih mendamba Arjuna 
dan Srikandi, dalam prakteknya mereka sudah lepas dari role oriented--orientasi 
fungsi dan peran--seperti ditanamkan wayang!" jelas Temon. "Anak jelata yang 
sejak usia tujuh bulan dalam kandungan sudah diidamkan jadi problem solver yang 
fungsional berperan sebagai bagian dalam masyarakat, malah ikut-ikutan berburu 
status! Akibatnya, warga masyarakat lapisan terbawah cenderung terus semakin 
lemah, karena selalu kehilangan unggul-unggul--sosok tulang punggung warga yang 
bisa diandalkan--karena mereka ikut berburu status dan saat berhasil, 
orientasinya beralih ke level elite, bukan lagi ke warga aslinya!"

      "Pakai apa anak-anak jelata direposisi ke asalnya, agar tak ikutan status 
oriented?" kejar Temin.

      "Sistem pendidikannya yang harus diubah, bukan anaknya!" tegas Temon. 
"Sistem pendidikan kita terlalu status oriented, tak kenal role oriented! Tamat 
SMP, SMA, tak tahu peran apa yang bisa diambilnya dalam masyarakat! Padahal, 
wajib belajar cuma sampai SMP!"
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Reply via email to