Mencari Penyebab Kegagalan Ereksi
Copyright © Sinar Harapan 2001
NEW YORK Umum diketahui bahwa kondisi fisik dan psikologis seseorang
berpengaruh terhadap pengalaman ereksi. Jika salah satu dari kedua kondisi
tersebut terganggu maka proses ereksi juga terganggu.
Persoalannya, para ilmuwan dibuat penasaran dengan pengaruh unsur psikologis
terhadap proses ereksi. Sehingga mereka mencari tahu lewat penjelasan ilmiah.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan Proceedings of the National Academy of
Sciences melaporkan bahwa para ilmuwan berhasil menemukan senyawa yang
mempertahankan proses ereksi. Senyawa ini mirip dengan senyawa yang menyebabkan
ereksi. Temuan tim John Hopkins University ini dapat membantu upaya
pengembangan obat untuk menyembuhkan disfungsi ereksi.
Tim yang dipimpin Arthur Burnett itu melakukan penelitian terhadap tikus.
Mereka memfokuskan penelitian terhadap senyawa yang berperan pada proses
ereksi. Penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa keluarnya neurotransmitter
nitric oxide dari saraf terakhir penis menghasilkan ereksi.
Sementara penelitian Burnett mengindikasikan nitric oxide yang dikeluarkan pada
permulaan ereksi membesarkan pembuluh darah yang memungkinkan darah mengalir ke
penis. Ini menaikkan aliran darah dan sedikit tekanan pada dinding pembuluh
darah mendorong pengeluaran nitric oxide lebih banyak. Akibatnya, mengendurkan
lebih banyak jaringan dan lebih banyak darah yang masuk. Proses ini berulang
dan membuat proses ereksi berlangsung lebih lama.
Temuan ini membuat para peneliti berani menyimpulkan bahwa obat yang mampu
memperlancar produksi nitric oxide akan sanggup mengurangi impotensi.
Psikologi ereksi serupa dengan mengendarai mobil. Anda tidak sekadar perlu
kunci untuk menyalakan mesin mobil dan berpikir dapat pergi ke mana saja. Anda
juga butuh menekan dan menahan pedal gas, ujar Burnett.
Sunat
Hal lain yang bisa menjadi penyebab kegagalan ereksi adalah kulup ketat pada
laki-laki yang tidak disunat. Ini menyebabkan mereka kerap kesakitan saat akan
mencapai ereksi. Satu-satunya jalan keluar adalah melakukan sunat atau
melakukan pembedahan untuk menghilangkan kulup tersebut.
Kondisi ini mirip dengan clitoral phimosis yang terjadi pada perempuan, yakni
kerudung kulit di sekitar klitoris terlalu ketat atau tidak ada pembukaan dalam
kulit sehingga rangsangan sulit terjadi karena klitoris tidak keluar.
Hal ini menyebabkan perempuan sulit mencapai orgasme. Para peneliti dari Boston
University School of Medicine melaporkan temuan ini setelah melakukan
pengamatan terhadap foto dari 200 vagina perempuan.
Tim yang dipimpin Irwin Goldstein menemukan perempuan dengan derajat phimosis
tertinggi terbukti bermasalah dengan orgasme.
Sama seperti kulup ketat pada laki-laki, clitoral phimosis juga tidak bisa
diobati. Namun, sama seperti sejumlah laki-laki yang mencari solusi dengan
sunat, sejumlah perempuan juga menjalani pembedahan agar bisa meningkatkan
rangsang terhadap klitoris.
Goldstein berspekulasi bahwa sejumlah perempuan dengan clitoral phimosis tidak
pernah didiagnosa karena ahli ginekologi umumnya menghindari pengecekan
klitoris selama pemeriksaan rutin.
(san)
Sumber :
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/04/1/kes03.html
---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/seksologi/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/