Rabu, 8 Maret 2006
Suatu Kajian untuk Kemaslahatan Masyarakat Luas Singkawang (Bagian 1)
Oleh: Hasan Karman


Tanggal 12 Maret 2006 ini genap satu bulan berlalunya perayaan Capgomeh 2006. Segala hingar-bingar dan euphoria Capgomeh telah usai. Pelbagai tv-swasta yang berlomba untuk menjadi stasiun pertama yang menayangkan peristiwa budaya eksotis ini, kini senyap. Pengunjung kelahiran setempat yang kini merantau dan tamu-tamu dari daerah lain, dalam maupun luar negeri, sudah menghilang dari hotel dan tempat penginapan yang penuh terisi sebulan yang lalu. Mereka meninggalkan Kota Singkawang dengan kesan yang mendalam. Hingar-bingar itu baru akan terulang lagi awal tahun depan. Sementara Singkawang kembali kepada rutinitas seperti biasa.

Dua tahun terakhir perayaan Capgomeh Singkawang telah menjadi buah bibir, bahkan tahun ini tak kurang koran nasional yang prestisius seperti Kompas dan majalah Tempo mengangkat tema Capgomeh Singkawang dan daerah lainnya dalam liputan human interestnya. Tak berlebihan jika dikatakan berita Capgomeh Singkawang, menempati urutan pertama jika dibandingkan dengan daerah lain yang juga merayakannya. Perayaan tersebut bukan sekedar go national, namun juga go international, karena hadirnya turis mancanegara dan konon juga wartawan dan tv-swasta luar negeri turut merekam dan menyiarkan perayaan itu.

Usainya perayaan Capgomeh menyisakan beberapa pertanyaan besar: Apakah perhelatan pesta rakyat dan peristiwa budaya yang merupakan agenda pariwisata pemerintah lokal ini mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat banyak seperti kemeriahan yang tampak dari luar? Jika hanya enak dilihat, namun tidak produktif dan tidak mendatangkan manfaat bagi masyarakat banyak, quo vadis Capgomeh?

Berikut penulis ingin menyampaikan tiga butir pikiran sebagai bahan kajian bersama agar Capgomeh mendatangkan added-value (nilai tambah) kepada masyarakat luas di waktu mendatang.



Pertama, penyediaan buah tangan berupa souvernirs dan/atau oleh-oleh makanan yang mudah dibawa

Boleh dikatakan hampir semua tempat tujuan wisata maju di dunia, tak pernah ketinggalan dijajakan pelbagai souvenirs seperti kaos, patung, ukiran dan sebagainya, yang menampilkan nama atau tulisan khas daerah wisata tersebut. Sebagai misal, Singapura dengan pelbagai souvenirs berlogo singa berbadan ikan; Vietnam dengan gambar gadis bertopi caping dengan pakaian khas celana kulot dan baju lengan panjang; Bali dengan gambar puranya dan seterusnya. Souvenirs khas tersebut sangat sulit, jika tidak mau dikatakan tidak tersedia di Singkawang. Ini menyebabkan turis yang berdatangan pada saat Capgomeh kesulitan membawa oleh-oleh untuk relasi dan handai-taulannya. Sebenarnya barang-barang itu merupakan peluang bisnis yang senantiasa melengkapi industri pariwisata. Masyarakat luas bisa turut menikmati peluang ini dengan membuka kios-kios yang menyediakan kebutuhan para turis itu.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak orang Singkawang yang sukses sebagai pengusaha garment atau konfeksi di Jakarta. Mereka jelas tidak akan berpangku tangan jika peluang ini digarap. Jika ada kaos-kaos bertulisan/bergambar icon-icon tempat kelahirannya, pasti mereka juga turut bangga karena ada rasa memiliki. Janganlah misalnya turis dari Jakarta malah ditawari kaos bertulusan Jakarta, atau turis Hong Kong yang datang ke Singkawang ditawari kaos bertulisan Hardrock Cafe - Hong Kong, mestinya mereka ditawari kaos bertulisan Singkawang dan gambar-gambar khas kota ini.

Hal yang sama juga terjadi pada bidang penyediaan oleh-oleh makanan khas seperti Lempok (dodol durian), Asam Maram (Atapson), Licison, Terasi, Petis, Ikan Jambal Asin, Ebi dan lain-lain. Meski relatif tersedia, namun kemasannya belum dibuat secara menarik, dan ketika musim puncak (peak season) pariwisata, oleh-oleh makanan ini kerapkali tidak tersedia. Pengelolaan yang bagus dan terencana tentu tidak akan menyebabkan kekurangan pasokan ini. Suatu industri yang baik harus menjamin kesinambungan pasokan produk yang dihasilkannya. Untuk itu instansi-instansi terkait yang bertanggungjawab membina harus dapat memberikan penyuluhan dan bantuan pengetahuan, jika perlu permodalan melalui kredit perbankan UKM (Usaha Kecil Menengah).

Penyediaan buah tangan ini dapat dikembangkan lagi ke produk-produk seperti patung, ukiran, perhiasan dan sebagainya, yang menunjukkan ciri khas daerah ini.



Kedua, penyediaan tempat penginapan yang memadai

Data terakhir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Singkawang (2004) mendapat adanya 21 sarana perhotelan di Singkawang, namun dalam perayaan Capgomeh tahun ini, terbetik kabar bahwa jauh-jauh hari semua kamar hotel yang layak huni telah terpesan habis. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak turis yang terpaksa menginap di Pontianak. Mereka berangkat pagi ke Singkawang untuk menyaksikan Capgomeh, setelah itu ke Pontianak untuk menginap di tempat penginapan yang lebih memadai. Mengharap investor segera membangun hotel baru dengan tingkat hunian yang rendah dan hanya ramai pada saat tertentu, jelas tidak layak. Namun dapat dipertimbangkan rumah, toko, mess atau bangunan kosong yang diubah menjadi tempat penginapan. Untuk mewujudkan ide ini, tentu diperlukan koordinasi dan pengelolaan yang tepat; agen-agen perjalanan dan pariwisata, serta pusat-pusat informasi harus dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi alternatif ini. (bersambung)

http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=111229



=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke