Diupah Rp100 Ribu Dul Bantu Habisi Nyawa Aswin
Sidang Lanjutan Pembunuhan Semelagi
Singkawang,- Sidang lanjutan kasus pembunuhan terhadap seorang pelajar, Aswin yang terjadi di Semelagi Kecamatan Selakau, kemarin di Pengadilan Negeri Singkawang meminta keterangan saksi mahkota Dul yang juga terdakwa dalam kasus pembunuhan tersebut. Di depan majelis hakim yang diketuai oleh hakim ketua, OK Joesli SH dan didampingi hakim anggota, Anthoy Syarif SH dan I Ketut Suarta SH dan panitera pengganti, Mardanis SH, terdakwa Dul mengakui kalau dia ikut serta membunuh korban karena dibayar Rp100 ribu. Sebelum melakukan pembunuhan, Dul mengakui bahwa dia terlebih dahulu bersama korban dan terdakwa Afat berkaraoke di Sebangkau, Pemangkat. Di karaoke itulah, Dul menegak minuman keras sehingga keberaniannya untuk membunuh timbul, walaupun sebelumnya dia mengakui kalau dia pernah ditanya oleh terdakwa Afat apakah berani membunuh.
"Saya pernah ditanya oleh Afat, beranikah membunuh? Saya jawab, berani. Pertanyaan itu saya sangka hanya pongah (gurauan belaka)," kata Dul dengan menggunakan kemeja muslim. Dul yang didampingi oleh penasehat hukum yang ditunjuk oleh pengadilan negeri, masing-masing Jamilah SH, Solling SH, Heryadi SH dan Jamaan Elvis E SH dan diajukan ke meja hijau oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Sambas, masing-masing Aceng Kurnia SH, Iin Lindayani SH dan Sukardi SH.
"Saya yang memukulkan batu ke kepala Aswin di rumah kosong." Sebelumnya, kata Dul memberikan penjelasan, Afat datang ke rumahnya memberitahukan rencana pembunuhan. "Saya sebetulnya tak kenal dengan Aswin. Kenal dengan Aswin ketika makan di Jalan Kalimantan dan langsung menuju ke Sebangkau," katanya yang sering tidak singron memberikan penjelasan ketika ditanya majelis hakim.
Setelah sampai ke Sebangkau dengan menggunakan motor dua buah, cerita Dul, mereka bertiga sampai ke karaoke dan minum-minuman. "Waktu kami singgah, Afat bilang mau ke luar sebentar membeli sesuatu. Saya tidak juga tahu ke mana dia memperoleh pisau itu," katanya. Usai berkaraoke di Sebangkau, jelas Dul, dia berboncengan dengan Afat menuju pulang ke Singkawang.
"Dalam perjalanan pulang itulah, kami diguyur hujan dan singgah di rumah kosong yang belum jadi di Semelagi," katanya. Sampai di rumah kosong, Aswin lantas membuka bajunya yang basah dan menghidupkan api.
"Saya dibawa Afat ke dalam kamar dan memberikan pisau untuk membunuh. Saya bilang engkau saja yang membunuhnya. Beberapa kali diberikan saya tolak. Kemudian barulah Afat mau mengambil pisau itu dengan janji bahwa saya yang memegang tangan Aswin bila hendak dibunuh," kata Dul dengan wajah sedih. Lantas Afat pun melaksanakan rencananya itu dengan melakukan aksi menikam di perut Aswin.
"Sesuai rencana yang disepakati, saya memegang tangan dari belakang. Aswin juga bertanya, ada apa sebenarnya. Namun, Afat melaksanakan aksinya menikam. Mungkin Afat ada tiga kali menikam diperutnya," kata Dul. "Saya juga beberapa kali memukulkan batu dan bata yang ada di rumah itu dan mengena di kepala Aswin. Aswin sudah tak berdaya lagi," katanya memberikan penjelasan yang selalu diteriaki oleh pengunjung sidang. (zrf)
=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "singkawang" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
