Misi Singkawang 100 tahun
Tilburg 16 Oktober 1905.

Ratusan warga terkumpul di depan gereja dan biara kapusin. Cuaca dingin. Tapi hati mereka hangat mengambil bagian dalam semangat enam kapusin yang siap diutus ke West Borneo. Dari umat ada yang nampaknya sedih. Ada yang secara tersembunyi mengusap sesuatu antara mata dan pipi. Itu pasti saudara keluarga dari enam misionaris itu. Ada yang menepuk bahu enam misionaris itu dengan kata kata yang tidak kedengaran di gambar; tetapi dari wajah dan gerakan tangan mereka jelas mereka mau menggalang semangat kapusin kapusin muda itu. Dari enam misionaris muda itu wajahnya ada yang serius dengan bayangan West Bornea sudah di depannya. Yang lain membalas umat dengan senyum gaya pahlawan. Pewartaan Injil. Itulah daya dorong bagi mereka sehingga sanggup meninggalkan saudara saudaranya; tanpa memperhitungkan kapan bisa berkumpul kembali dengan mereka..

Enam kapusin itu adalah:
1.Pacificus Bos, imam, 31 tahun ( meninggal pada umur 73; makam di Pontianak)
2.Eugenius van Disseldorp, imam, 30 th (mngl 77 th; makam di Tilburg)
3.Beatus Baijens, imam, 29 th (mngl 52 th; makam di Singkawang)
4.Camillus Buil, imam,28 th .
5.Wilhelmus Verhulst, bruder, 30 th (mngl 88 th; makam di Tilburg)
6.Theodoricus van Lanen, bruder, 31 th.
Singkawang, 30 Nopember 1905.
Dari kapal yang membawa mereka, maka di lepas pantai, untuk pertama kalinya enam kapusin misionaris itu bertatap muka dengan gunung Raya dan gunung Pasi yang lebih menonjol dipandang dari kuala sungai Singkawang, nama yang menayangkan gunung serta kuala sungai dan samudera.

Sesudah mendarat, mereka diantar ke "pastoran", tempat sederhana yang ditinggalkan oleh misionaris misionaris Jezuit yang sebelumnya melayani Singkawang dari Batavia.

Maklumlah bahwa enam misonaris itu belum mengerti bahasa warga warga setempat. (Kemungkinan orang Khek dan Hoklo yang meninggalkan nama daerah Hoklonam ). Syukur ada yang berperan sebagai juru bahasa.Segeralah pemimpin umat mengumpulkan umatnya sekitar 150 orang. Demikanlah enam kapusin mulai dengan bagian karya mereka.
Dengan bahan bahan yang mereka bawa dari Belanda maka mereka mulai dengan sekolah. Perhatian untuk pendidikan ternyata sangat tepat, baik dalam rangka pewartaan maupun dalam perkembangan sosial lain.Jelas terasa bahwa sudah ada dasar yang diletakkan oleh misionaris misonaris dari Batavia.

Tenaga awam sebagai katekis dan pemimpin umat melanjutkan karya pewartaan dan pelayanan rohaniah bagi warga warga. Mereka bekerjasama dengan misionaris misonaris yang baru datang itu Maka umat gereja berkembang terus dan meluas dari pantai ke daerah daereh pedalaman. Pada periode permulaan sebagian besar pekerjaan pelayanan umat ditangani oleh kaum awam, selaku katekis atau guru agama. Seorang katekis yang bernama waktu itu adalah Tsjang A Kang. Dalam waktu sembilan tahun dia telah membaptis seratus orang; untuk waktu itu relatif banyak.

Perkembangan umat gereja berjalan cepat
Tahun berikutnya propinsi kapusin Belanda mengutus lagi enam dari anggotanya.
Dari tahun 1905 sampai dengan 1974 propinsi Belanda telah mengutus 276 anggota anggotanya ke daerah daerah misi Borneo 136, Sumatra 110, Chili 12, Tanzania 16 dan di luar dari tempat tersebut 2.

Terlalu singkat? Anda ingin menggali lebih jauh kembali di sejarah gereja Kalimantan; khususnya Singkawang?.....
 
 
Bersambung..........................
 
 
__._,_.___

=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================





SPONSORED LINKS
Pontianak hotel indonesia Pontianak indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke