|
PAROKI SINGKAWANG SITUASI UMUM PAROKI SINGKAWANG
Paroki Singkawang terletak di bagian Barat Selatan wilayah Kabupaten
Sambas. Kabupaten ini dengan ibukotanya Singkawang, sering disebut Daerah
Pantai Utara dengan luasnya 12.140 km persegi. Di Kabupaten ini terdapat 15
kecamatan dengan jumlah penduduk + 600.000 jiwa. ( NB: situasi tahun 1984
)
Wilayah Paroki Singkawang hanya meliputi sebagian kecil Kabupaten ini. Bata-batas Paroki sebagian besar sama dengan batas kecamatan: Kecamatan Sungai Raya seluruhnya dan kecamatan Singkawang sebagian besarnya (22 kampung dari 27 kampung di kecamatan ini dan 5 kampung untuk Paroki Nyarumkop). Di sebelah utara Paroki Singkawang berbatasan dengan Paroki Pemangkat, di sebelah timur dengan Paroki Nyarumkop, dan di sebelah selatan dengan Stasi Mempawah, yang merupakan bagian dari Paroki Siantan di Pontianak. Letak kota Singkawang di persimpangan jalan raya dari Pontianak (145 km) ke Sambas (75 km) dan jalan raya ke Bengkayang (70 km) dan daerah pedalaman menyebabkan bahwa kota ini dari zaman dulu menjadi pusat perdagangan. Keadaan jalan dan hubungan lalu lintas baik sekali dan lancar kecuali jalan ke beberapa kampung yang terpencil di pedalaman. Penduduknya paling banyak berasal dari suku Melayu dan Tionghoa. Suku Daya kebanyakan di daerah yang lebih ke pedalaman, jumlahnya kira-kira 13 persen dari semua penduduk di wilayah itu. Selain pusat pemerintahan, kota Singkawang juga merupakan pusat perdagangan seluruh Kabupaten. Di luar kota bagian utara dan selatan Kecamatan Sungai Raya terutama di kampung-kampung Melayu terdapat banyak nelayan. Di sebelah timur dan selatan kota Singkawang terdapat areal-areal persawahan dan di lereng gunung areal perladangan. Menurut laporan Penelitian Keagamaan di Pusat Penelitian Atma Jaya 1977: Umat Islam 46.1 persen; Kong Fu Tze 40.7 persen; Umat Katolik 8.4 persen; Protestan 4.0 persen; dan yang masih animis 0.8 persen. SEJARAH SINGKAT PAROKI SINGKAWANG
Melalui sejarah ini jelas digambarkan bagaimana latar belakang perkembangan
suatu paroki.
Dalam suatu paroki, pastor paroki merupakan tulang punggung dari paroki yang bersangkutan dan sebagai badan (tubuhnya) adalah umat, keduanya tidak bisa dipisahkan. Sampai tahun ini sudah ada 44 orang pastor yang sudah bekerja di Paroki Singkawang, lima di antaranya masih berada dan berkarya di situ. ASAL MULA PAROKI SINGKAWANG
Singkawang adalah stasi pertama di Kalimantan bagian Indonesia. Sekarang
ini merupakan paroki induk untuk seluruh Keuskupan Agung Pontianak. Sejarah
bermulanya gereja (misi) di Kalimantan dimulai dari Singkawang.
Pada mulanya Singkawang merupakan daerah turne pastor dari Jakarta. Menurut catatan paroki, tahun 1873 sudah ada umat yang dipermandikan oleh pastor J. de Vries. Stasi ini didirikan tahun 1885, dengan Pater Staal SJ. sebagai pastor Paroki pertama. Sesudah Pater de Vries dan Pater Staal SJ. di tarik ke Jawa, misi di Kalimantan tanpa pastor ini berlangsung dari tahun 1897 sampai tahun 1905. Sejak masa itu pimpinan misi Yesuit berusaha mencari ordo lain yang bersedia untuk mengurus misi di Kalimantan. Pada tanggal 11 Februari 1905 Kongregasi Penyebaran Iman di Roma mendirikan Prefektur Apostolik Kalimantan yang meliputi seluruh pulau Kalimantan yang dikuasai oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan pusatnya Singkawang. Prefektur baru itu dipercayakan kepada Ordo Kapusin. Kemudian Pimpinan Ordo menugaskan kepada Kapusin-Kapusin Negeri Belanda untuk mengurus misi itu. Pada tanggal 10 April Pater Pacifikus Bos diangkat sebagai Prefek Apostolik. Pada tanggal 30 November 1905 Pater Prefek Pacifickus bersama tiga pastor dan dua bruder menjejakkan kakinya pertama kali di Singkawang, di mana mereka menemukan sebuah gedung gereja kecil dan sebuah rumah pastor yang sederhana. Mereka belum mengerti apa-apa mengenai bahasa dan kebiasaan setempat. Mereka disambut hangat oleh umat yang terdiri dari orang-orang Tionghoa perantau (kurang lebih 150 orang Katolik). Seorang katekis, pemimpin umat, bertindak sebagai juru bahasa. Pada akhir tahun 1906 tenaga mereka ditambah dengan empat orang pastor, dua orang bruder dan lima orang suster Fransiskanes dari Konggregasi Veghel. Suster-suster itu mulai mengasuh anak-anak yatim-piatu, mengobati orang sakit, dan mengunjungi tempat pengasingan bagi penderita penyakit kusta, yang terletak di luar kota Singkawang. Awal 1907 dua orang pastor ditugaskan untuk membuka stasi di Kalimantan Timur. Dan sejak Oktober 1907 seorang pastor menetap di Pemangkat; ia mendirikan Gereja dan sekolah di tengah-tengah orang Daya di Pelanjau, yang tahun 1916 dipindahkan ke Nyarumkop. Pada permulaan tahun 1909 stasi Pontianak di buka. Bersamaan dengan itu Pater Prefek memindahkan pusat kegiatan misi dari Singkawang ke Pontianak. Metode yang dipakai oleh para misionaris baru ini tidak lain dari pada yang di pakai di daerah-daerah misi pada umumnya pada masa itu. Mereka berusaha untuk membangun sekolah-sekolah sebanyak mungkin dengan harapan agar anak-anak itu kemudian dipermandikan. Pastor-pastor dan suster-suster sendiri mengajar di sekolah karena guru-guru belum ada. Anak-anak itu sedapat mungkin diasramakan, dan di luar jam sekolah dapat dididik secara Katolik. Kebun-kebun karet dan kelapa di sekitar Singkawang dibelikan, ini sebagai sumber materiil untuk misi. Pada tahun 1918 rumah sakit didirikan berkat bantuan subsidi pemerintah; begitu juga dengan rumah sakit kusta (1925). Bagi sekolah-sekolah besar di kota misi mendapat tenaga baru dari Bruder-bruder MTB (Maria Tak Bernoda) dari Konggregasi Huijbergen yang sejak tahun 1921 memimpin Hollands Chinese School (HCS) di Singkawang, lalu menyusul di Pontianak 1924. Pada tahun 1913 yang lalu Bruder Wenceslaus telah mulai mendidik beberapa orang untuk menjadi pembantunya dalam pembangunan (Pertukangan), tahun 1928 sekolah pertukangan di Pontianak didirikan. Tahun 1937 para suster Klaris Kapusines mulai hidup dengan komtemplatif di bumi Kalimantan dalam sebuah biara yang didirikan di samping gedung gereja di paroki Singkawang. Mereka pada mulanya tidak menerima tugas dari luar tembok biara. Hidupnya dengan doa siang dan malam untuk mohon berkat dan rahmat Tuhan atas Umat Kalimantan. Sampai disini kita melihat karya misi di Singkawang meliputi: Gereja, sekolah, asrama dan rumah sakit, pastor-pastornya sering juga masuk kampung sekitar. Sampai sekarang metode kerja itu masih berlaku. Hanya di pihak lain keterlibatan awam makin menonjol. Melalui Dewan Paroki dan pembentukan Kring-kring umat awam semakin banyak melibatkan diri dalam kegiatan Paroki. Stasi-stasi luar kota semakin sering dikunjungi oleh pastor dan dibantu oleh guru agama. ===================================================== Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply United Singkawang - [http://www.singkawang.us] Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang] =====================================================
SPONSORED LINKS
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
