KISAH NYATA: WAKTU PERANG DUNIA II
 
Seperti apa yang melanda seluruh bumi Indonesia dalam tahun 1942. semua warga negara Belanda dijebloskan ke dalam kamp-kamp tawanan, begitu juga di Kalimantan Barat. Semua misionaris warga negara Belanda dibawa ke Kuching, Sarawak, 32 orang pastor, 40 bruder, dan 123 suster.

Yang diizinkan tinggal hanya pastor Bong dan Adikardjana. Pastor Adikardjana datang dari Jawa dan membantu pada Seminari di Pontianak. Ada sembilan suster keturunan Tionghoa tidak ikut ditawan. Mula-mula mereka kembali ke rumah sanak saudaranya, tetapi kemudian berkumpul dalam sebuah rumah dekat Singkawang.

Ke empat suster Belanda yang bekerja di rumah sakit kusta diperkenankan tinggal di sana untuk merawat pasien kusta. Selama perang itu hanya dua orang pastor tadi sedapat-dapatnya memberi pelayanan rohani kepada umat yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat.

Sudah pasti tugas itu tidak mungkin dilaksanakan. Apalagi semua gedung gereja, sekolah dan pastoran serta biara ditutup atau diduduki oleh tentara Jepang.

Memang agama Katolik tidak dilarang dan orang Katolik pun tidak mengalami penganiayaan, tetapi toh mereka tetap dicurigai, karena berhubungan erat dengan orang Belanda.

Biasanya pastor Bong mengunjungi umat dengan menyamar sebagai tukang sayur. Ia merayakan Ekaristi di rumah suster, di rumah sakit kusta dan rumah umat yang Katolik.

Ada kalanya ia berturne ke kampung-kampung. Tetapi tahun 1944 beliau ditangkap dan dipenjarakan di Mempawah. Setengah tahun kemudian dibebaskan berkat pertolongan seorang pastor Jepang yang baru datang berkunjung ke Kalimantan.
Selama beliau meringkuk dalam penjara tentara Jepang mengadakan razia-razia.

Semua orang yang pernah bekerja sama dengan Belanda, baik Tionghoa maupun Indonesia ditangkap dan dibunuh.
Mereka menggeledah juga rumah suster di Singkawang lengkap dengan alat dengan maksud menangkap juga Pastor Bong. Akan tetapi karena suster-suster mengatakan beliau sudah ditangkap oleh tentara Jepang, maka mereka tidak jadi mengadakan pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan jatuhnya bom atom di atas kota Hirosima dan Nagasaki maka berakhirnya perang pada tanggal 15 Agustus 1945. Jepang kalah tanpa syarat. Para misionaris diperkenankan kembali ke posnya masing-masing, sehingga di semua stasi besar dapat dirayakan Pesta Natal 1945 lagi seperti sebelum perang.

Februari 1946 stasi-stasi pedalaman dibuka kembali. Tiga orang pastor dan delapan orang suster tidak pernah muncul lagi depan umatnya; mereka telah meninggal dunia di dalam kamp akibat keganasan perang.

Sesudah perang itu para misionaris mendapat baru, pengalaman semakin bertambah, karena di dalam kamp mereka (para misionaris) mengadakan pertemuan.

Di pihak lain umat membuktikan semangat mereka bukannya padam, walaupun mengalami pelbagai penderitaan dan tekanan-tekanan, malah menampakkan keinginan yang kuat akan pembangunan, untuk membentuk suatu masyarakat yang baru yang berlainan dari pada yang dulu.
 
GEREJA KATOLIK DI INDONESIA
 
Tahun 1984 ini merupakan tahun bersejarah bagi umat Katolik Indonesia. Sebab pada tahun ini genaplah empat setengah abad Gereja Katolik lahir dan berkarya dengan tidak terputus di bumi Nusantara. Peristiwa bersejarah ini diperingati oleh Umat Katolik Indonesia dengan perayaan Syukur di pelbagai pelosok, dengan titik puncak “Pertemuan Nasional Umat Katolik Seluruh Indonesia” (PNUKI) dari tanggal 8 hingga 12 Juli di Jakarta.

Pertemuan Nasional ini dengan sengaja diselenggarakan sebagai “PESTA IMAN” yang diisi dengan acara Kebaktian, ceramah dan diskusi sebagai bentuk ungkapan syukur dalam kebersamaan iman dan sekaligus dijadikan kesempatan berbagi pengalaman dan gagasan dalam berbagai bentuk penghayatan iman.
 
MENGAPA 450 TAHUN ?
 
Mengapa 450 tahun? Pertanyaan ini timbul kalau orang mempelajari catatan sejarah yang menunjukkan bahwa sebenarnya sudah lebih lama agama Katolik masuk ke bumi Nusantara.

Menurut catatan sejarahwan Mesir Abu Salih al-Armini, kota Barus yang dahulu disebut Pancur (sekitar 60 km disebelah utara kota Sibolga sekarang) di Sumatera Utara, merupakan kediaman Umat Kristen tertua di Indonesia. Mereka itu hidup di sana pada pertengahan abad ke tujuh. Mulanya mereka itu disangka termasuk aliran Nestorian, tetapi ternyata tidak benar.

Hasil penelitian sejarah menunjukkan mereka penganut agama Katolik Romawi. Di kota itu terkenal ada sebuah gereja yang bernama Gereja Bunda Perawan Murni Maria. Nama itu masih diingat orang sampai sekarang.

Catatan-catatan lain memberi kesaksian bahwa ada Umat Katolik di Sumatera Selatan pada abad ke empat belas dan ke lima belas, entah ini sebagai kelanjutan dari Umat Katolik di Barus, atau bukan. Tabir sejarah masa lalu menyebabkan jalur perkembangan umat yang di Barus itu seolah-olah terputus sama sekali, dan tenggelam di dalam alam kelupaan.
 
BERAWAL DI MORO
 
Karya Gereja di wilayah Nusantara sebenarnya baru dimulai, setelah orang Portugis menetap di India Selatan dan juga di Malaka pada tahun 1511. Di Goa dan kota Malaka segera bermunculan biara-biara kaum rohaniwan Portugis yang berkembang dengan subur. Ketika saudagar-saudagar Portugis memasuki perairan Nusantara hendak mencari rempah-rempah, mereka membawa serta banyak imam dari berbagai Ordo atau Tarekat.

Imam-imam itu bertugas untuk memelihara rohani para awak kapal. Tetapi bila ada kesempatan mereka juga mengajarkan agama kepada penduduk pribumi.

Dalam tahun 1511, Alfonso d’Albuquerque, gubernur Hindia Portugis, berlayar menuju Amboina dan Ternate. Orang-orang Portugis berhasil menjalani hubungan dagang yang baik dengan raja-raja setempat. Bersamaan dengan itu Gereja Katolik memasuki daerah Maluku.

Dalam tahun 1521 sebuah armada dikirim dari Malaka ke Ternate dan satu tahun kemudian orang Portugis membangun sebuah benteng di sana yang terkenal dengan nama “Sao Paolo”. Di Benteng itu ditempatkan seorang imam tetap, sebagai wakil Uskup Goa, dengan tugas melayani kepentingan rohani orang-orang Portugis.

Baru pada tahun 1534 tercatat lahirnya Jemaat Pribumi yang pertama. Menurut Mgr. B. Visser MSC dalam bukunya berjudul “Onder Spaansh-Portugeeshe Vlag” dalam tahun itu seorang saudarar Portugis bernama Gonsalves Veloso, menetap di Moro, Halmahera Utara. Dengan bantuan pemerintah Portugis dia mempermandikan raja Mamoya, kampung utama di daerah Moro; juga banyak pengikut raja itu dipermandikan. Peristiwa ini dirayakan secara meriah oleh segenap penduduk.

Peristiwa permandian orang-orang pribumi pertama di Moro itulah yang kini dijadikan titik awal kehadiran Gereja Katolik secara tak terputus di bumi Indonesia. Semenjak saat itulah Gereja Katolik tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara sampai sekarang.
 
FRANSISKUS XAVERIUS
 
Perkembangan Gereja Katolik di Maluku sesudah peristiwa di Moro, sebenarnya tidak dapat dikatakan menggembirakan, karena tingkah laku para saudagar dan serdadu Portugis tidak menunjang pertumbuhan dan perkembangan agama, malahan menjadi penghambat. Sampai muncul tokoh misionaris agung, seorang Yesuit, Fransiskus Xaverius, yang dianggap oleh orang Katolik waktu itu sebagai utusan Allah; penyelamat iman, yang kemudian oleh Gereja diresmikan sebagai orang kudus.

Selama tahun 1546 dan 1547 dia menjelajahi kepulauan Maluku. Dia mengunjungi jemaat Kristen yang kecil-kecil dan terpencar-pencar, serta membuka sekolah-sekolah untuk anak-anak pribumi. Karena teladan hidup dan pelayanannya yang tidak kenal pamrih ia berhasil menarik banyak orang dan mempermandikan mereka. Abad ke 16 sudah ada 50.000 umat Katolik di Maluku.
 
BERGERAK KE BARAT
 
Sesudah menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku, saudagar-saudagar Portugis bergerak ke Barat. Bersamaan dengan itu tahun 1529 mulai agama Katolik masuk di Kepulauan Solor. Tahun 1559 raja Solor dipermandikan dan anak-anaknya dikirim ke Malaka untuk belajar. Tahun 1561 padri-padri Dominikan mendirikan Stasi Misi dan biara di pulau Solor. Imam-Imam Dominikan ini meluaskan karya mereka ke pulau-pulau sekitar: Flores Timur, Adonara dan Lembata. Tahun 1606 tercatat 50.000 umat Katolik di wilayah itu.

Tahun 1563 penguasa setempat di Medado bersama banyak pengikutnya dipermandikan oleh Pater Diego Magelhaens. Tercatat pula lahirnya jemaat-jemaat Kristen di Tolitoli, Gorontalo dan Makasar. Begitu pula beberapa tempat di Kalimantan.
Beberapa tempat di pulau Jawa, seperti di Jepara, Panarukan dan Banyuwangi juga didatangi oleh misionaris Dominikan dan Fransiskan.
 
MASA V.O.C. (Tahun 1602 – 1799)
 
Masa VOC patut dicatat sebagai masa gelap untuk Gereja Katolik Indonesia. Dalam tahun 1602 Verenigde Oost Indische Compagnie dibentuk di negeri Belanda. Serikat dagang ini berkembang pesat menjadi penguasa berdaulat, langsung mengadakan janji-janji dagang dengan raja-raja atau sultan dan melancarkan perang melawan Portugis dan Spanyol di seluruh Nusantara. Pulau demi pulau jatuh ke tangan mereka. VOC dengan tegas melarang Gereja Katolik menjalankan karyanya di wilayah kekuasaan mereka. Banyak orang Katolik dipaksa menjadi Protestan. Ini terutama terjadi di kepulauan Maluku dan Sulawesi Utara.

Tetapi ada satu kekecualian yakni di daerah Flores Timur, Solor dan Lembata. Jumlah umat Katolik tahun 1606 sekitar 50.000 orang, mereka terus bertahan meskipun menghadapi banyak sekali tantangan dan ancaman dari luar, bahkan selama puluhan tahun umat di sana tidak dilayani oleh seorang imam pun. Gereja di daerah itu terus bertumbuh sampai sekarang, dan menjadi pusat umat Katolik terbesar di Indonesia.

Tahun 1807 dua orang imam diosesan Belanda diizinkan datang dan bekerja di wilayah jajahan Hindia Belanda. Salah seorang dari kedua imam itu yaitu Pastor Yakobus Nelissen kemudian menjadi Prefek Apostolik pertama, yaitu wali Gereja yang memimpin Prefektur Apostolik Batavia, dengan wilayah Gerejani yang meliputi seluruh Indonesia.

Tahun 1859 datang imam-imam Yesuit yang membatu imam-imam Praja yang sudah ada di Indonesia. Mereka berkarya di seluruh Indonesia. Imam-imam Yesuit kemudian merasa tidak sanggup melayani wilayah yang begitu luas. Tahun 1900 mulai diadakan pemekaran wilayah-wilayah Gerejani. Para imam Yesuit menarik diri dari daerah-daerah di luar Jawa, kecuali daerah Nusatenggara. Daerah Nusatenggara itu baru diserahkan kepada Tarekat Sabda Ilahi dalam tahun 1914. Sedangkan daerah lain diserahkan kepada Ordo atau Serikat Misionaris.
 
 
 
 
 
 
__._,_.___

=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================





SPONSORED LINKS
Pontianak hotel indonesia Pontianak indonesia hotel

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke