http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=13042\
3

Sabtu, 30 Desember 2006
Mobilisasi Warga ke LN, Penderita HIV/AIDS Naik

Singkawang,-  Dokter H Budi Enoch SPPD, dari VCT Klinik Mawar,
mengungkapkan pengidap HIV/AIDS di Singkawang sempat didominasi oleh
etnis Tionghoa. Hal ini diduga karena banyak warga dari kalangan etnis
tersebut yang memiliki mobilisasi tinggi ke luar daerah (Hongkong,
Taiwan, Batam dll).

"Tetapi, sekarang sudah tidak pandang etnis lagi, sudah imbang. Melayu
juga sudah banyak," katanya kemarin, di sela Sosialisasi HIV/AIDS dan
Pengurangan Dampak Buruk pada Kelompok Pengguna Jarum Suntik Narkoba.
Kenapa bisa jadi imbang? Menurut Budi, banyak di kalangan etnis Melayu
yang menjadi pecandu narkoba dan menggunakan jarum suntik secara
bergantian.

Budi juga tidak dapat memastikan soal cara penularan HIV/AIDS yang
paling banyak ditemukan, apakah melalui hubungan seksual (homo dan
heteroseksual), dari jarum suntik narkoba atau melalui cara penularan
lainnya. Satu hal yang jelas, berdasarkan data pihaknya, jumlah pengidap
HIV/AIDS di Singkawang, Bengkayang dan Sambas sampai tahun 2006
terdeteksi sebanyak 292 orang.

Khusus Singkawang, jumlah pengidap mencapai sekitar 170 orang. "Sekitar
45 persennya sudah dalam taraf AIDS. Sisanya (55 persen) dalam taraf HIV
dan belum mengalami sakit. Mereka secara kasat mata masih normal tetapi
di dalam tubuhnya ada virus HIV," terangnya.

Samadi, Aktivis HIV/AIDS sekaligus sebagai Lay Support di Global Fund,
juga menyatakan senada. Mobilisasi warga ke luar daerah dinilai cukup
berpengaruh. "Kemungkinan banyak warga Tionghoa yang mendapatkan virus
HIV saat berada di luar. Entah itu di Batam, Taiwan, Jakarta, Hongkong
atau lainnya. Tetapi sekarang bukan hanya dari Tionghoa saja, etnis lain
juga banyak," kata mantan pengguna narkoba jarum suntik itu.

Namun, di sisi lain, ia menyatakan bersyukur karena stigma terhadap ODHA
di Singkawang sudah jauh berkurang. Hal ini karena sosialisasi yang
gencar dari instansi terkait (Diskes, KPA) dan peran serta sejumlah LSM
yang peduli (Singkawang Plus Support, Amoy Plus Support dan lain-lain).
"Kesadaran dan pengetahuan warga sudah cukup tinggi. ODHA sudah tidak
lagi dijauhi atau dikucilkan. Mereka masih bisa bergaul di tengah
masyarakat," ujarnya.

Selain itu, kesadaran warga terutama yang berisiko tinggi terhadap
HIV/AIDS untuk memeriksakan diri ke VCT juga dinilai sudah jauh
meningkat. Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang dengan sukarela
memeriksakan diri. "Di Klinik Mawar, setiap hari rata-rata satu orang
atau lebih yang melakukan tes darah," ungkap dia.(rnl)


Kirim email ke