http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=13498\
5
<http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=1349\
85>

Jumat, 23 Maret 2007
Ratusan Tatung Demo Panitia Cap Go Meh



Singkawang,-  Tak hanya gertak sambal, ratusan tatung yang berasal dari
sejumlah perkumpulan Kamis (22/3) kemarin, sekitar pukul 08.00 Wib,
membuktikan janjinya. Mereka melakukan aksi demo terhadap panitia Cap Go
Meh di Sekretariat Foket (Forum Komunikasi Etnis Tiong Hoa) di Jalan P.
Diponegoro. Para tatung kecewa dan menilai kinerja panitia yang diketuai
oleh Iwan Gunawan tidak becus dan tidak professional sehingga mereka
melakukan aksi tersebut untuk menyampaikan aspirasi.

Sebelum memulai aksinya, para tatung berkumpul di kediaman Chai Ket
Khiong koordinator lapangan di kawasan Jalan GM Situt Mahmud selanjutnya
dengan berjalan kaki mereka menuju Sekretariat Foket Jalan P.
Diponegoro. Dalam menjalankan aksinya mereka dikawal oleh anggota
kepolisian dari Polres Singkawang.

Diiringan tabuhan gendang, para tatung membawa sejumlah spanduk dan
famplet melewati jalan utama Kota Singkawang. Isi famplet antara lain,
panitia makan darah dan keringat tatung, perhatikan nasib kami para
tatung, kami capek beratraksi panitia enak makan duitnya, tanpa tatung
panitia mandul, tak mau dikritik Gunawan kepala batu egois. Demo tatung
tersebut mendapatkan perhatian warga disepanjang jalan yang dilalui,
antara lain Jalan Stasiun dan sepanjang Jalan P. Diponegoro.

Sesampainya di sekretariat Foket, rombongan tatung diterima oleh ketua
panitia Cap Go Meh tahun 2007 Iwan Gunawan yang didamping oleh Drs.
Budiman, Benny Setiawan dan pengurus lainnya. Melalui dialog yang
berlangsung alot, akhirnya lima orang perwakilan tatung/laoya,
koordinator lapangan dan penasehat hukum diterima oleh panitia. Seorang
perwakilan tatung kemudian membaca aspirasi para tatung.

Dalam aspirasi tersebut tatung/ laoya dan kelompok masyarakat peduli
budaya dan wisata Kota Singkawang, menilia bahwa kinerja panitia Cap Go
Meh 2007 kurang profesional dan proporsional dalam menjalankan tugasnya.
Dan tidak memahami segala persoalan yang berkembang selama ini terlebih
terhadap permasalahan yang terkait dengan Cap Go Meh.

Berbagai polemik yang akhir-akhir ini muncul ke permukaan melalui media
massa terkait persoalan Cap Go Meh menggugah hati para tatung dan
masyarakat peduli budaya dan wisata turut angkat bicara. Meminta kepada
panitia Cap Go Meh melaporkan penggunaan dana bantuan dari Pemkot, dana
sponsor, dana donatur jika ada, serta hasil lelang kepada publik.

Selanjutnya meminta kepada panitia untuk memerhatikan nasib para tatung/
laoya yang terkena musibah sewaktu turut merayakan ritual Cap Go Meh
berlangsung. Meminta kepada pemerintah Kota Singkawang, DPRD untuk tidak
mencairkan dana cap go meh 2007 sebelum persoalan ini dianggap selesai.
Aspirasi tersebut ditujukan kepada Foket, panitia Cap Go Meh 2007, DPRD
Singkawang, dan Walikota Singkawang.

Usai membacakan apsirasi dan menyerahkannya kepada ketua panitia,
perwakilan tatung dan meninggalkan ruangan sekretariat Foket memenumi
rekannya mereka diluar selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Kantor
DPRD Kota Singkawang. Kedatangan ratusan tatung itu diterima oleh
beberapa anggota dewan, Aloysius Kilim, Nikolaus Unung, Suganda Gani.
Perwakilan tatung dihadapan anggota dewan menyampaikan aspirasi. Para
anggota dewan tersebut berjanji akan memperjuangkan aspirasi dan nasib
para tatung.

Sementara saat ditemui wartawan di Sekretariat Foket, Iwan Gunawan
menyatakan penyampaian aspirasi dengan cara demo yang dilakukan oleh
para tatung, terindikasi dipropokasi oleh orang-orang yang
bertanggungjawab. "Minta laporan panitia dengan cara demo sangat
tidak santun," tegas Iwan. Dia menyatakan telah menyiapkan laporan
pertangungjawaban terhada dana yang terpakai selama berlangsungnya
kegiatan Cap Ga Meh tahun 2007, hal itu tinggal menunggu waktu kesiapan
dari Pemkot Singkawang. Bahkan Iwan dengan nada tinggi siap digugat
secara hukum oleh pihak yang melakukan demo.

"Kami siap digugat jika memang kami ada salah," tukasnya seraya
menyatakan orasi yang dilakukan para tatung yang menyatakan panitia
korup khsusunya Beni dan Iwan sangat tidak masuk akal, begitu juga
pamlet para demonstran mereka bergambarkan tikus. "Bagaimana kami
bisa korupsi, kegiatan saja kita yang talangi. Janganlah membuat fitnah.
Tuhan akan memperhitungkan perbuatannya walaupun panitia tidak
menuntut," katanya.

Beberapa tatung yang berada di Sekretariat Foket kepada koran ini juga
menyatakan tidak setuju dengan aksi yang dilakukan tatung-tatung lain.
Menurut Jin Sam Cun, Tatung dari Kridasana aksi yang dilakukan oleh para
tatung ini wajar di era reformasi seperti ini. Tapi semestinya tak
dilakukan dengan cara seperti ini. "Semestinya dirembukan dahulu,
duduk satu meja. Jika memang benar-benar tak ada penyelesaian tak ada
salahnya menggunakan cara seperti ini. Tapi anehnya tak ada diskusi dan
cara kekeluargaan mereka langsung demo dan menuntut panitia, inikan tak
logis," katanya mewakili beberap rekan tatung lain. Yang jelas, kata
Jin Sam Cun, mereka tak setuju dengan aksi demo yang dilakukan rekan
tatung lain.

Sementara ketua perhimpunan tatung, A Cin, menyatakan no comment atas
permasalahan ini. Meskipun tak mengetahui secara pasti aksi yang
dilakukan para tatung tersebut, namun, baginya jika aksi yang dilakukan
dengan tujuan kebaikan ia setuju saja. "Bila tujuan yang dilakukan
para tatung benar saya rasa tak ada salahnya," kata A Cin yang turut
berada di sekretariat Foket.

Chai Ket Kiong sebagai koordinator lapangan dari tatung dan masyarakat
peduli budaya dan wisata yang ditemui terpisah, menyatakan bila aksi
demo tersebut tak ditanggapi pihaknya akan kembali melakukan aksi demo
yang mendatangkan massa yang lebih banyak. "Kami akan melakukan aksi
kembali jika aksi ini tak ditanggapi," katanya seraya mengatakan
Iwan Cs hanya gertak sambal untuk mensomasi hukum Frans Tshai.
"Lihat kami tak hanya gertak sambal. Jika kami bilang demo maka akan
kami lakukan. Lihat saja jika aksi kami ini tak digubris, kami akan
turunkan massa yang lebih besar lagi," tandasnya. (bdi/zrf)





Kirim email ke