http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=136291
Rabu, 18 April 2007 Disbudpar Diminta Jangan Paksakan Maskot Tembakol Singkawang,- Pemerhati wisata Kota Singkawang, M Djamani Satil beranggapan, ide yang dilontarkan Wiliam Wongso agar menjadikan Ikan Tembakol sebagai maskot sementara, alias tak permanent (hanya satu tahun, red) bukan merupakan solusi. "Yang namanya maskot ya dipakai lama. Apalagi maskot wisata. Kota Singkawang sebagai kota pariwisata tentunya membutuhkan maskot yang permanent. Kalo cuma satu tahun, itu namanya bukan mascot. Lagi pula sebenarnya masih banyak flora dan fauna di Singkawang yang bias dijadikan mascot yang lebih baik dari sekadar ikan tembakol," katanya. Yang mengherankan sikap Disbudpar yang tetap bersikukuh dengan ide tersebut tanpa memperdulikan masukan dari masyarakat. "Ini namanya pemaksaan kehendak. Mereka (Disbudpar, red) sudah tahu banyak masyarakat yang tak setuju, koq dipaksakan. Takutnya jika maskot ini benar-benar terealisasikan masyarakat tak akan simpatik lagi kepada Disbudpar terutama kepada Kadisnya sebagai pencetus ide," katanya. Menurut pria yang hidup di lima zaman ini, petuah orang tua seharusnya didengar, jangan tutup telinga dan tetap bersikukuh serta membesar-besarkan maskot Ikan Tembakol. "Ikan tembakol bukan obat menghilangkan penyakti asma, melainkan sejenis udang kare atau singguan yang hidupnya sama dengan jenis Ikan Tembakol juga didalam lubang tanah," katanya. Menurut Djamadi, jenis Ikan Tembakol kotor dan jelek. Ada tiga jenis dan yang dinamakan Tembkaol, hidupnya menyendiri dalam lubang tanah berlimpur ditepian pantai-pantai, ukuran badannya sebesar lengan, sifatnya juga penakut saat melihat orang langsung lari masuk kedalam lubang. Kepalanya juga besar dan matanya menonjol keluar. "Ikan ini kalo dimakan bukan menghilangkan sakit kepala tapi menjadikan kepala sakit atau mabuk. "Entah kenapa kalo nenek zaman dulu kalau marah dengan cucunya langsung menyebut Tembakol. Artinya sangat bodoh tuiyak, bongol dan pemalas. Ironisnya oleh Disbudpar Ikan ini dijadikan maskot Kota Singkawang," ujarnya. Katanya, sah-sah saja orang Jepang dan Korea membuat sop dari Ikan Tembakol. Jangankan Ikan Tembakol, ular dan tengkuyung babi pun mereka jadikan sop dan makanan kaleng. "Kalo boleh saya sarankan sesuai dengan Taman Burung Kota Singkawang, lebih baiklah menjadikan maskot Burung Walet atau jenis hewan lainnya untuk dijadikan maskot. Burung walet ini cukup populer dan banyak terdapat di Kota Singkawang. Lagian Singkawang terkenal dengan rumah waletnya," sarannya.Selain hewan, pemandangan alam seperti Gunung Poteng juga bisa dijadikan maskot, karena, melambangkan kemegahan kota ini. "Kalau Gunung Poteng ini ditata dengan baik akan menjadi taman puncak di Kota Singkawang," tandasnya. (bdi)
