http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=144431

Kamis, 18 Oktober 2007
Menyusuri Pengantin Pesanan Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan (-2-)
Tetap Jadi Pilihan Keluar dari Kemiskinan

 
Singkawang,-  Menemui keluarga Pengantin Pesanan, ternyata tidak semudah yang 
dibayangkan. Warga Tionghoa, memang dikenal ekslusif. Mereka sangat hati-hati 
dan cenderung tertutup. Sikap itu, memang tidak sendirinya terbentuk. Selama 
Orde Lama dan Orde Baru, mereka kerap mendapat perlakukan diskriminatif. 

DARI sepuluh keluarga yang didatangi, hanya dua yang membuka diri. Mereka 
adalah keluarga Ng Khiuk Hiong (65), tinggal di RT 19/RW 04 Kelurahan Sedau dan 
keluarga Thong Gie Thiam (47) warga Gang Setuju, RT 22/RW 09, Pasiran. 

Menuju rumah Ng Khiuk Hiong, hanya ada jalan setapak. Di kiri dan kanannya, 
banyak ditumbuhi semak. Meski berjarak 200 meter dari Jalan Raya Sedau, rumah 
itu berada jauh di dalam kebun. Ada pohon pisang dan pohon rambutan yang tumbuh 
rimbun. Dibanding rumah lainnya, rumah itu tampak sangat mencolok. Bukan semata 
baru dicat putih. Tetapi karena permanen, besar, bersih, dan rapih. 

"Dulunya tidak begini. Bernafas saja susah," kata Ng Khiuk tersenyum lebar. 
Bicaranya lancar dengan logat Khek yang kental. Dia memang tidak bisa Bahasa 
Indonesia. Untunglah, ada Rio Dharmawan, tokoh pemuda Thionghoa yang bersedia 
jadi penterjemah. 

Tahun 1992, suaminya, Phang Hon Siu jatuh sakit. Tidak ada uang untuk berobat. 
Tidak lama berselang Asiu, biasa dia dipanggil, akhirnya meninggal. Ditinggal 
tulang punggung keluarga, sebuah pukulan telak. Dirinya sendirian banting 
tulang, menghidupi enam orang anak. Dia bekerja apa saja hanya sekedar bertahan 
hidup. Sampai akhirnya, tidak mampu lagi menyekolahkan anak-anaknya. Dia mulai 
berpikir keras, bagaimana bisa menyelamatkan keluarganya. Dan jalan keluar 
itupun, akhirnya terbuka di depan mata. 

"Ada seseorang yang datang ke rumah. Dia mengatakan, ada orang Taiwan yang 
mencari istri," paparnya. 

Dia lantas membicarakan hal itu kepada, Phang Miao Sung (32) yang saat itu 
berumur 19 tahun. Ternyata orang Taiwan tersebut suka. Perkenalan itu berjalan 
mulus. Singkat cerita, upacara perkawinan dilangsungkan. 

Setelah Phang Miao Sung diboyong suaminya ke Taiwan, selang beberapa bulan, 
giliran Phang Miao Ha (28) yang masih berumur 15 tahun, mengikuti jejak 
kakaknya. 

"Saya tidak memaksa mereka. Saya bilang, kalau tidak cocok, tidak perlu 
dipaksakan. Rupanya mereka sama-sama suka," kata Ng Khiuk yang masih ingat, dia 
menerima uang susu Rp 3 juta untuk masing-masing anaknya. 

Dua tahun berlalu. Anaknya yang lain, Phang Yuk Fui (35), yang berusia 23 
tahun, dipinang pria asal Hongkong. Yuk Fui, lalu pamit dan ikut dengan 
suaminya. Setelah itu, sedikit demi sedikit, mulai ada perubahan. Secara 
ekonomi, ketiga anak-anaknya itu, sangat membantunya. 

"Perorang, mereka kirimi saya 5000 NT$. Sekitar Rp 1,5 juta, dua bulan sekali. 
Selain untuk keperluan sehari-hari, ditabung untuk bangun rumah," kata dia Ng 
Khiuk yang sudah dikaruniai lima orang cucu dari ketiga anak perempuannya itu. 

Sebelum ketiga anaknya menikah, rumahnya Ng Khiuk lebih mirip barak. Penerangan 
mengunakan pelita minyak jarak. Ukurannya hanya 4x6 meter. Dinding dan 
lantainya, dari papan. Atapnya dari daun nipah. Kini, semuanya berubah. Rumah 
dibangun permanen. Ada empat kamar tidur. Ukurannya memang lebih luas, 6x14 
meter. Dinding dan lantainya dilapisi mamer. Warnanya abu-abu dan hijau muda. 
Dalam waktu dekat, rencananya akan dilengkapi dengan Antena Parabola sebagai 
receiver. Rumah itu juga menjadi tempat berlindung bagi menantu dan 
cucu-cucunya, dari anaknya yang lain. 

Potret Pengantin Pesanan, memang tidak selamanya menampilkan sisi manis. Ada 
juga sisi yang membuat kita miris. Seperti menimpa keluarga Gow Sie Lan. Sejak 
menikah tahun 1982, keluarganya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah 
meninggal. Sebab dirinya, tidak pernah memberi kabar. Mereka yang gagal, 
biasanya memang malu untuk kembali. Kalaupun kembali, sebagian memilih jalan 
cerai. 

Perkara gugatan cerai, biasanya didaftarkan di Pengadilan Negeri Singkawang. 
"Dua tahun terakhir, tidak ada gugatan cerai Kawin Campur," kata Humas 
Pengadilan Negeri Singkawang, Nyoman Wiguna SH. 

Meski begitu, hakim yang sebelumnya bertugas di Bali ini memaparkan, dari tahun 
1997 hingga tahun 2003, sedikitnya ada 170 kasus gugat cerai kawin campur. 
Tahun 2005, hanya ada empat kasus. Tahun 2006 sampai September 2007, belum ada 
gugatan yang masuk. 

Nyoman menjelaskan, gugatan bisa didaftarkan ke Pengadilan Negeri Singkawang. 
Karena biasanya, pihak penggugat, dalam hal ini istri, berdomisili di 
Singkawang dan sekitarnya. "Tetap akan kita proses. Kalau pihak tergugat Warga 
Negara Asing, maka konsulatnya yang kita hubungi," paparnya. 

Biasanya, lanjut Nyoman, pihak tergugat tidak datang ke persidangan dari awal 
sampai akhir. Untuk itu, nanti putusannya verstek. Amar putusannya, akan 
diserahkan ke pihak tergugat. Jika pihak tergugat keberatan, yang bersangkutan 
bisa melakukan upaya perlawanan. "Jika begitu, kasus kita buka kembali," kata 
Nyoman lagi. 

Memang tidak semua menempuh gugatan cerai di pengadilan. Ada juga yang berpisah 
begitu saja. Seperti yang ditempuh oleh Tjew Sin Fung (17). Dia kini ditampung 
di Shelter LBH PEKA Singkawang. Gadis yang bersahaja itu, biasa disapa Afung. 
Meski baru pertama bertemu, dia tidak terlihat canggung. "Ingin membantu ibu. 
Tapi itu dulu. Sekarang jera," kata pemilik tubuh semampai ini. 

Sama seperti anak lainnya, Afung sangat ingin membantu orang tua. Syukur-syukur 
bisa membebaskan orang-orang yang dicintainya dari kemiskinan. Tahun 2005, 
ayahnya Amat (53), meninggal terserang paru-paru basah. Setelah itu, praktis 
hanya ibunya, Tjew Miao Ngo (55) yang bekerja. Ikut bantu-bantu orang. 
Penghasilannya pas-pasan, bahkan lebih sering kurang. Afung dan kedua 
saudaranya, tidak punya banyak pilihan. Sekolah, mereka harus putus di tengah 
jalan. Setahun setelah kepergian Amat, Kimoi, bibinya datang ke rumah. 

"Dia tanya apakah saya mau menikah dengan pria Taiwan. Umurnya 30 tahunan," 
kenangnya. 

Saat itu, usia Afung masih 16 tahun. Oleh cangkau, umurnya dikatrol jadi 19 
tahun. Afung menerima tawaran itu, karena terdorong oleh niat berbhakti kepada 
orang tua. Bulan Mei 2006, digelar pesta pernikahan. Acaranya digelar di hotel. 
Dari prosesi itu, Tjiew Miao Ngo mendapat angpao Rp 6 juta. Afung menerima Rp 1 
juta. Uang itu untuk membeli pakaian. Sebab perhiasan seperti anting, cincin 
dan gelang sudah disiapkan suaminya. Saat ditanya, siapa nama suaminya, Afung 
mengaku lupa. Yang diingatnya, hanya punya suami pengangguran. Pergi seharian, 
baru pulang malam. Bangun tidur jam 12 siang. Padahal, saat bertemu dia mengaku 
sebagai mekanik. Meski begitu, dia tipe suami yang tahu bagaimana membuat istri 
tidak berkutik. Afung disekap di kamar berukuran 4x4 meter. Tidak bisa 
kemana-mana selama dua bulan. Setiap hari makan bubur, nasi bungkus dan daun 
Singkong. "Kami tidak pernah masak. Untuk makan, dia minta uang kepada ibunya. 
Sementara, saya tidak kunjung bisa bekerja. Itu yang memuat saya tidak tahan," 
kenangnya. 

Gadis sekolahnya hanya sampai kelas 3 SMP ini, lalu minta berpisah. Suaminya 
setuju. Dengan catatan, ada uang pengganti. Jumlahnya Rp 30 juta. Sebab, 
sebesar itulah uang yang sudah diserahkan kepada Afuk, makelar di Taiwan untuk 
menyuntingnya. Afuk pun mencarikan jalan keluar. Afung harus menikah lagi 
dengan pria Taiwan lain. Dengan asumsi, uang dari suami keduanya itu, akan 
dipakai untuk mengganti uang suami pertamanya. Selama menunggu mendapat suami 
baru, Afuk menyediakan berbagai fasilitas. Makan, penginapan hingga sebuah 
sedan mewah untuk bepergian. 

"Saya ditawarkan dari rumah ke rumah. Tiap rumah kami ketuk, untuk mengetahui 
apakah saya cukup diminati untuk dijadikan istri. Dari rumah pertama hingga 
kesembilan, rupanya tidak ada yang mau. Kalaupun ada, saya yang tidak mau. Baru 
di rumah kesepuluh, pria bernama Lai Chin Fin (32) tertarik dengan saya. Saya 
juga sudah kelelahan, jadi langsung mengaku cocok kepada Afuk," bebernya. 

Afung yang ingin cepat pulang, tentu senang mendapat suami baru. Karena hanya 
dengan cara itulah, dia bisa kembali. Iapun beralasan, ingin menjenguk orang 
tuanya lebih dulu, sebelum menjadi Pengantin Pesanan untuk yang kali kedua. 
Afung kemudian menjalani masa perkenalan dengan Lai Chin Fin. Mereka 
jalan-jalan dan makan-makan di Taiwan. 

"Kami menikah Agustus 2006," kata Afung lagi. 

Afuk kemudian membiayai kepulangan Afung ke Bengkayang. Termasuk meminta kaki 
tangannya di Singkawang dan Pontianak untuk membereskan administrasi yang 
diperlukan. Identitas Afung dipalsukan. Di passpor yang kedua ini, namanya 
berubah jadi Tjiew Mei Ling. Umurnya juga menjadi 22 tahun. Untuk pernikahan 
kali ini, ibunya hanya mendapat Rp 2,6 juta. Sementara dirinya tidak dapat 
apa-apa. Saat akan kembali ke Taiwan, Afung menolak berangkat. Kegagalan 
pernikahannya dengan suami pertama, masih membekas. Ia kemudian melaporkan hal 
lini kepada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Seorang cangkau asal 
Singkawang, Ly yang datang menjemputnya, berhasil diringkus. 

Afung tidak sendirian. Seorang korban Pengantin Pesanan lainnya, Alang juga 
melawan. Dia menyeret seorang makelar dan tiga orang cangkau. Juga seorang 
honorer Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bengkayang. Apa yang dilakukan dua gadis 
desa itu, memang hal langka. Selama 27 tahun, banyak korban yang enggan 
bersuara. Pengantin Pesanan yang jadi korban kekerasan, hingga eksploitasi 
seksual, biasanya memilih bungkam. Keluarga menganggap itu sebagai aib dan 
tidak pantas diungkap.(bersambung)


<<BOKS-Ng-Khiuk-Hiong-f.jpg>>

Kirim email ke