http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?berita=Utama&id=143540

Senin, 1 Oktober 2007
Miliki Nama Latin, Sempat Dikira Warga Negara Asing
Bryan Jevoncia; Bocah Pontianak Pemenang Lomba Desain Perangko PBB 2008

 
Pontianak,-  Bryan Jevoncia akan berangkat ke New York, Amerika Serikat. Bukan 
untuk berlibur, tapi memenuhi undangan Markas Besar Perserikatan Bangsa Bangsa 
(PBB). Ia menjadi pemenang lomba desain perangko PBB bertajuk We Can End 
Poverty. Bagaimana Bryan menjalani hari-harinya? 

SUATU pagi di penghujung September 2007. Jarum jam baru menunjukkan pukul 06.30 
WIB. Hilir mudik kendaraan di kawasan Jalan M Sohor terus bergerak. Para 
pegawai berangkat menuju tempat kerjanya. Pun begitu dengan anak-anak sekolah.  
 

Rolling door berderit. Wajah mungil seorang bocah tersembul dari balik pintu. 
Sebuah sepeda motor menyusul di belakangnya. "Ma, berangkat," kata bocah 
berusia tujuh tahun ini setengah berteriak. Gesit ia menaiki sepeda motor yang 
dikemudikan Bong Yau Song, ayahnya. 

Sepuluh menit sebelum bel sekolah berbunyi, Bryan sudah tiba. Siswa kelas dua 
SD Suster Pontianak itu berlari memasuki gerbang sekolah. "Setiap pagi, saya 
yang antar sekolah," kata Bong seraya menstarter sepeda motornya untuk bergegas 
pergi. 

"Bryan itu anaknya cukup patuh. Kalau di kelas, dia banyak diam. Kalau dilihat 
guru, ia suka menundukkan kepalanya. Agak pemalu," kata Sr Caroline, wali 
kelasnya. "Tapi, ia tergolong anak yang pandai bergaul." 

Sabtu itu, jam sekolah Bryan tergolong pendek. Anak-anak hanya belajar hingga 
pukul 08.30 WIB. Sisanya menunggu pulang pukul 10.00 WIB, mereka mengikuti 
bimbingan pengembangan diri. Begitu juga dengan Bryan. Ia berlari diantara 
anak-anak lainnya. 

Dering bel sekolah menandakan pelajaran berakhir. Bryan bergegas meraih tasnya. 
Ia berlari ke luar halaman sekolah. Abang becak yang nangkring sejak pagi 
dilambainya. Ups... Bryan naik. Abang becak langsung menginjak pedal 
meninggalkan kawasan Jalan RA Kartini itu. 

Sesekali Bryan menoleh ke belakang. Kadang ke kiri dan ke kanan. Wajah 
orientalnya selalu mengembangkan senyum. Rambut lurus tipisnya berkibar di 
terpa angin. Abang becak terus mengayuh menuju Elegan Gorden di Jalan Juanda, 
tempat ibunda Bryan bekerja. 

Sekali lagi Bryan melompat. Pintu kaca didorongnya. Ia langsung berlari ke arah 
Rosina, ibunya yang duduk di meja kerja. "Simpan dulu tasnya," kata sang mama 
halus. Bryan beranjak dan meninggalkan mamanya. Saat itu Elegan Gorden tidak 
ramai. Hanya ada Rosina, Hartini, nenek Bryan, dan dua pegawainya. 

Tak ada yang istimewa dari penampilan Bryan. Ia sama dengan anak seusianya. 
Tapi siapa nyana kalau Bryan punya talenta luar biasa: melukis. 

Walau baru tujuh tahun, Bryan mampu mengharumkan Indonesia ke tingkat 
internasional. 



Dia menjadi salah satu pemenang International Children Art Competition usia 
6-15 tahun. Lebih dari 12.000 karya yang masuk ke meja panitia dari 124 negara 
di dunia. PBB kemudian mengundangnya ke New York, Amerika saat International 
Day for the Eradication of Poverty pada  17 Oktober 2007. 

Karyanya akan dicetak menjadi Perangko PBB 2008. Talenta melukis Bryan sudah 
terlihat sejak usianya dua tahun. "Sejak bisa memegang pensil, ia suka sekali 
menggambar. Dinding rumah penuh dengan coretan tangannya," kata Rosina. 
"Setinggi jangkauannya, setinggi itulah coretan di dinding rumah kami di Jalan 
Surya." 

Rosina sempat mengabadikan sisa coretannya karena rumah tersebut dibongkar dan 
dicat ulang. Tapi rumah itu sudah dijual. Hanya ada beberapa saja yang tersisa. 
Pemilik baru sepertinya ingin rumah tersebut bebas dari coretan Bryan. Namun 
sang ayah masih menyimpan coretan pertamanya di kamera telepon selulernya. 

Talenta melukis Bryan menurun dari sang ibu. Rosina merupakan lulusan D3 
Jurusan Design pada sebuah pergurun tinggi di Jakarta. Ia sangat terlatih 

dalam menggambar pola-pola baju. Maklum Rosina adalah penjahit. "Bryan suka 
mencoret-coret pada sisa kerja pola yang saya potong-potong," kenang Rosina. 

Kalau mau menggambar, Bryan ambil objeknya. Gambar pertamanya kuali. Kuali itu 
ia bawa ke ruang tamu. Kursi plastik di baliknya. Kemudian kuali ditaruh di 
atasnya. Mulailah ia menggambar. Rosina yang hendak memasak terang saja bingung 
karena kualinya tidak ada di gantungan. "Ti, mama mau pakai," kisah Rosina. 
Titi adalah nama panggilan untuk Briyan. "Sejak itu, Briyan bilang kuali itu 
pakai," tambah Rosina. 

Bryan adalah bungsu dari empat bersaudara. Ada tiga lainnya: Ramond Renaldo 
sekarang di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara (Untar), Vita Velisa 
di Universitas Sanata Dharma, dan Elen Clarista SMP Santo Petrus. 

Bryan terlahir dari keluarga Tionghoa pada 6 Desember 2000. Namun Bryan tak 
fasih berbahasa Tionghoa. Ia sering protes kalau diajari bahasa itu. Melihat 
Bryan punya talenta melukis, Rosina membawanya bergabung ke Khatulistiwa 
Children Fun Art (KHACHIFA). Beberapa kali Bryan menjadi juara di Pekan 
Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat kota maupun provinsi. Dari sini pula Bryan 
berangkat mengikuti lomba desain perangko PBB bertajuk We Can End Poverty. 
Sebelumnya Bryan juga pernah mengirim karyanya ke Jepang, Thailand dan India. 

Dalam lukisannya kali ini, Bryan mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi 
penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas. Ia menggambarkan, seorang 
ibu yang sedang menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun 
perempuan. 

Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik 
seperti bunga maupun boneka. Menurut Rosina, gambar tersebut 

memperlihatkan anak-anak sepulang sekolah bisa membantu orang tua untuk 
mendapat biaya tambahan. 

Kabar kemenangan Bryan diterima ibunya pada awal Agustus 2007. Ketika itu 
telepon rumah Rosina berdering. Ia menggeliat melihat jam di dinding. "Baru 
pukul empat. Siapa yang telepon sepagi ini," bisiknya dalam hati. Begitu 
diangkat, suara dari seberang mengatakan kalau dirinya staf Kedutaan Besar RI 
di New York. Di New York masih sore karena beda dengan Indonesia selama 12 jam. 

"Mereka bilang Bryan menang," girangnya. "Nanti Departemen Luar Negeri 

Indonesia di Jakarta yang akan menghubungi kemudian," ulang Rosina seperti 
suara telepon di seberang. "Mereka sempat menanyakan, apakah Bryan itu orang 
Indonesia atau orang asing yang tinggal di Indonesia. Soalnya nama Bryan berbau 
latin," sambungnya. Setengah enam pagi, ia membangunkan Bryan. "Ti, kamu 
menang. Kita akan ke New York," ia berusaha mengingat. Bryan sangat girang. Ia 
langsung meloncat-loncat di tempat tidur. 

Namun hingga kini belum ada kepastian dari Departemen Luar Negeri. Sementara 
PBB tidak menanggung semua biaya perjalanan sehingga disarankan untuk mencari 
sponsor. Pihak Deplu pun sepertinya tidak memiliki dana untuk memberangkatkan 
Bryan. 

Pemerintah Provinsi Kalbar kemudian bersedia menanggung seluruh biaya 
perjalanan. Beberapa kalangan juga bersimpati dengan keberhasilan Bryan. Ia 
memang sedang beruntung. Bryan menjadi mutiara di tengah kemiskinan di Kalbar. 
Hingga 2007, Kalimantan Barat memiliki penduduk termiskin terbesar di Pulau 
Kalimantan dengan jumlah 584,3 ribu jiwa dari 4,12 juta orang pada 2007. 
Kondisi ini menempatkan Kalbar pada kelompok 14 provinsi yang memiliki penduduk 
miskin terbesar di Indonesia. Keberhasilan Bryan adalah keberhasilan kita 
semua. Dari kemiskinan Kalbarmuncul mutiara kecil yang bisa mengharumkan nama 
Indonesia. Dan, Bryanakan ke New York. Bukan untuk berlibur, tapi menerima 
penghargaan.Proficiat, Bryan. (*)

Kirim email ke