Wah, saya baru pernah nonton sekali .
  Itu pun belasan tahun yang lalu pas masih SD ,dan nontonnya di  Bengkayang 
pada saat peresmian klenteng di sana. Seingat saya dulu  ceritanya ada cerita 
Sun Go Kong nya juga. .
  
  Mudah-mudahan ke depannya masih berkesempatan nonton lagi.
  
  Salam,
  
  Rudi.
  
Budi Handoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                         
                                                                            
Wayang Gantung Singkawang di Ambang Senja


  Kompas/Haryo Damardono
Kelompok Wayang Gantung Shin Thian Chai dari Singkawang, Kalimantan     Barat, 
tampil pada Festival Barongsai di GOR Pangsuma, Pontianak,     akhir Oktober 
2006.Gonggongan  anjing yang gencar menghalangi langkah mendekati kuil tua. 
Tanpa  penghuni kuil yang kebetulan saat itu sedang bepergian, bukan mustahil  
kami dikoyak anjing penjaga boneka-boneka wayang gantung Singkawang itu.
    Demikianlah, pupus harapan melihat lagi boneka wayang gantung  Singkawang, 
sekitar 180 kilometer dari Pontianak. Di kuil tua itu,  dalam kotak kayunya, 
boneka-boneka wayang gantung pernah disembunyikan  selama 30 tahun karena rezim 
Orde Baru mengebiri kebudayaan Tionghoa.
    Beruntung, kami telah melihat pertunjukan wayang gantung itu di  Gedung 
Olahraga Pangsuma, Pontianak, Kalimantan Barat. Kami terkesima  walaupun tidak 
mengerti jalan cerita yang dituturkan dalang dalam  bahasa Kek (salah satu 
bahasa daerah China).
    "Wayang gantung dibawa ke Singkawang dari China daratan pada tahun  1929. 
Pertama kali dibawa kakek saya, A Jong. Dia cari uang dari  pergelaran keliling 
wayang gantung," kata generasi ketiga dalang wayang  gantung, Chin Nen Sin, 
yang usianya di pengujung 60 tahun.
    Di Desa Lirang, Singkawang selatan, di kediamannya yang sederhana,  kami 
berbincang dengan Chin Nen Sin. Percakapan dibantu A Hui, kerabat  dekat Chin 
Nen. A Hui-lah yang menerjemahkan ucapan Chin Nen, yang  menggunakan bahasa Kek.
    Kediaman Chin Nen Sin hanya 200 meter dari kuil tua itu. "Mirip di  Jawa," 
kata teman perjalanan, penulis lepas, Muhlis Suhaeri,  mengomentari suasana 
sekitar itu. Kediaman Chin Nen dikelilingi sawah  dan kebun palawija, dinaungi 
bebukitan Singkawang. Ketika itu udara  sejuk karena hujan baru saja reda.
    Kami makan ubi, hasil berkebun Chin Nen, suguhan yang jarang ditemui  bila 
bertamu ke kediaman warga Tionghoa di Jakarta. Namun, di  Singkawang bertani 
adalah hal biasa bagi warga Tionghoa. Mereka bahkan  bukan petani kaya, tetapi 
petani gurem.
    Jika tidak memainkan wayang gantung atau musik kecapi, Chin Nen  memang 
beralih jadi petani. Kebutuhan air sawah terjamin, sebab di  bukit yang 
terletak di belakang kediaman Chin Nen ada mata air.  Terkadang Chin Nen 
mengisi waktunya dengan membuat lampion dan kemudian  menjualnya.
    "Cerita wayang gantung dibawa dari China. Ada cerita ksatria, ada  pula 
percintaan. Kebanyakan cerita klasik, berdasarkan penuturan para  tetua atau 
didongengkan dari ibu ke anak," ujar Chin Nen.
    Bila main di toapekong, pada perayaan ulang tahun dewa atau panglima  
perang, biasanya tuan rumah minta cerita klasik. Sebaliknya, di ulang  tahun 
perkumpulan tertentu disajikan cerita yang "ringan" sesuai dengan  keseharian.
    Kini, sesuai dengan permintaan, cerita dimodifikasi. Kisah kehidupan  rumah 
tangga maupun percintaan berlatar lokasi di Singkawang dinilai  mengena. Ini 
mirip kesenian wayang kulit; agar menarik penonton,  mengadopsi campur sari. 
Wayang gantung pun terkadang menampilkan  biduanita yang membawakan lagu-lagu 
mandarin.
    Modifikasi cerita wayang gantung sesungguhnya mereduksi makna  positif 
berbagai kisah. Sebab, kisah China klasik mengandung  nilai-nilai Taoisme, 
falsafah Konfusisme-yang dikenal sebagai nilai  kebijaksanaan. Modifikasi 
apalagi kematian wayang gantung dapat  menyebabkan "terlepasnya" generasi muda 
Tionghoa dari ajaran yang arif.
    Berkurang
    Menurut Chin Nen, harus diakui, penggemar wayang gantung sangat  berkurang 
kini. Paling tersisa generasi tua. Saat Imlek atau Cap Go Meh  (hari ke-15 
Imlek), ketika orang China Singkawang dari seluruh dunia  pulang kampung, 
barulah permintaan pertunjukan melonjak.
    "Kebanyakan yang minta pertunjukan orang-orang tua yang sudah  
bungkuk-bungkuk dan pakai tongkat. Mereka itu tinggal di Jakarta dan  kota-kota 
lain. Ketika pulang, lalu rindu masa kecil mereka," kata Chin  Nen menceritakan.
    Alasan utama generasi muda tidak lagi suka wayang gantung adalah  budaya 
pop China daratan maupun Hongkong dianggap lebih keren. Tekanan  rezim Orde 
Baru selama 30-an tahun pun diperkirakan telah mengalienasi  budaya itu dari 
kaumnya. Kaum muda Singkawang yang lahir pada tahun  1980-an tidak lagi akrab 
dengan wayang gantung.
    Saat ini memang terjadi reformasi budaya China di seluruh Kalimantan  
Barat, tetapi motor penggeraknya orang-orang tua yang mapan. Ada  berbagai 
motivasi. Ada yang tulus, ada pula sekadar menunjukkan  eksistensi di kalangan 
Tionghoa.
    "Kami punya 30 boneka wayang, semuanya dari China. Entah dari kayu  apa, 
tetapi tidak lapuk maupun dimakan rayap. Paling dicat ulang. Lalu  ketika 
bajunya koyak, kami jahit atau dibuatkan baju baru," ujar Chin  Nen menjelaskan.
    Sekali tampil-beda dengan wayang kulit yang membawa semua  
wayangnya-biasanya hanya dibawa 10 boneka, sesuai dengan jalan cerita.  Ada 
boneka bentuk dewa, panglima perang, bangsawan, kaum China  terpelajar, maupun 
rakyat biasa. Ada boneka lelaki, ada pula boneka  perempuan.
    Wayang gantung dimainkan dengan bantuan benang. Ini berbeda dengan  wayang 
kulit yang dimainkan dengan memegang kayu, wayang Po Te Hi yang  dimainkan 
dengan sarung tangan, atau wayang golek yang dimainkan dengan  memegang boneka 
wayang.
    Jika pernah melihat sampul album film The Godfather yang dibintangi  Marlon 
Brando dan Al Pacino, seperti itulah wayang gantung. Boneka  dijuntai benang 
yang dikaitkan di kayu lalu digerakkan dua tangan.
    Muhlis sangat tertarik dengan korelasi wayang gantung dan sampul  album 
boneka gantung The Godfather itu. Namun, di Singkawang, kami tak  mendapat 
jawaban mengenai hal itu. Hanya saja, dalam buku Gavin  Menzies, 1421: Saat 
China Menemukan Dunia, disebutkan bahwa kebesaran  armada laut Cheng Ho 
mengenalkan budaya itu ke Eropa.
    Tiada beda dengan dalang wayang kulit yang menggelar sesajen sebelum  
tampil, dalang wayang gantung pun merapal mantra China kuno terlebih  dahulu, 
dibarengi dengan mengorbankan ayam jago. Jika lalai,  dikhawatirkan-dan pernah 
terjadi-benang bisa kusut dan boneka sulit  dikendalikan. Tak jarang pula 
dalang kerasukan roh "leluhur".
    Butuh waktu 5-6 bulan untuk mahir memainkan wayang gantung. Dalang  juga 
perlu keahlian untuk adegan berkelahi dan barongsai. Sebab,  perpindahan benang 
bukan saja dari tangan kanan ke tangan kiri, tetapi  juga persilangan tangan 
antardua atau lebih dalang.
    Umumnya wayang gantung dimainkan oleh dua hingga empat dalang. Meski  
demikian, satu pertunjukan membutuhkan 12-14 orang, termasuk pemusik  dan 
pengatur permainan.
    Dalam konteks ini, kebanyakan pemain adalah kerabat Chin Nen. Sekali  
tampil mereka dibayar Rp 2,6 juta sampai Rp 3 juta. Honor itu  selanjutnya 
dibagi kepada semua personel. Dalam setahun kelompok  tersebut hanya mendapat 
4-6 kali panggilan. Artinya, kegiatan itu tidak  bisa dijadikan andalan 
keluarga. Karena itu, mereka umumnya juga harus  bertani.
    Tiga perkumpulan
    Sebelum dilarang oleh penguasa Orde Baru, ada tiga perkumpulan  wayang 
gantung di Singkawang. Kini tinggal satu. Selain surutnya  penggemar, mandeknya 
regenerasi jadi momok.
    Dari sembilan anak Chin Nen (lima laki-laki dan empat perempuan),  hanya 
satu yang aktif membantu penampilan wayang gantung itu. Amoi itu  pun hanya 
memainkan alat musik, bukan memainkan wayang.
    Yang lebih memprihatinkan, hingga kini belum ada penelitian Balai  Kajian 
Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tentang wayang gantung  Singkawang. 
Buku Peta Wayang di Indonesia (1993) dan Direktori Seni  Pertunjukan 
Tradisional (1998/1999) keluaran Departemen Pariwisata juga  tidak mencantumkan 
budaya wayang gantung itu.
    Tampaknya wayang gantung Singkawang ini sudah di ambang senja....
Kompas - Negeriku
http://kompas.com/ver1/Negeriku/0710/23/130328.htm

  
      
                                                    




  

 


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke