Dalam perjalanan pulang,setelah tahun baru imlek saya ber
bincang bincang dengan seorang supir panggilan, pak Ali na
manya.Dalam perjalanan menumpang mobil,saya suka berbincang
bincang dgn supir,bagi saya mereka itu istimewa,persepsi me-
reka kadang unik dan berbeda dgn kebanyakan orang.
Bagaiman dgn keadaan skw setelah imlek dan capgoma berlalu?
Kalau tahun lalu setelah capgome masih ramai,ada acara tam
bahan,demo tatung,jawab pak Ali sambil tersenyum.
Maksud saya pariwisatanya,pak Ali.
Pariwisata setelah capgome,biasanya sepi,jarang tamu yg datang
Kalau gak ada tamu,berarti gak ada job nyopir dong alias nganggur.
Ya...paling cangkau sana cangkau sini (maksudnya calo sana calo
sini.
Dalam satu kesempatan perayaan imlek bersama Menteri Meutia Hatta
Walikota Hasan Karman berkeinginan menjadikan Skw sebagai pusat
kunjungan wisatawan terbanyak kedua setelah Bali(dpt dibaca di
situs united skw),bagaimana menurut pak Ali?
Pak Ali terdiam sejenak,mungkin sedang berpikir keras atau mungkin
berusaha menjawab dgn hati hati,karena menyangkut walikota idolanya.
Kalau itu memang keinginan si Asau(maksudnya walikota),beliau harus
melibatkan seluruh masyarakat skw,baik yg di skw maupun di
perantauan.
Apa kendala utama dalam memajukan pariwisata skw?
Tidak ada biro wisata,tidak ada bus pariwisata dan tidak ada pe
mandu wisata.Saya ini sebenarnya agen biro wisata loh,yg menyediakan
mobil,ya saya,sopir juga saya dan yg memandu anda berwisata saya
juga.(harus saya akui,selain sopir beliau juga pemandu wisata yg
handal,untuk keramik saja beliau bisa bercerita banyak).
Selama satu minggu bersama,beliau penuh joke,tampaknya beliau
bahagia dgn perkerjaannya walau dengan penghasilan pas pasan.
Imlek tahun ini sungguh berkesan,saya menyadari untuk bahagia
orang gak mesti banyak uang. Terima kasih pak Ali semoga banyak tamu
yg datang ke skw.