http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=153054
*Selasa, 4 Maret 2008* *Imlek Sedot Perhatian * *Budaya* *Singkawang,-* Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu merupakan peristiwa budaya yang mampu mengguncang masyarakat Kalimantan Barat bahkan sebagian Indonesia. "Peristiwa pergantian tahun kelima belas hari itu cukup menyedot perhatian seluruh pelosok tanah air bahkan sampai ke mancanegara," kata Pemerhati Sosial Budaya Kota Singkawang, MJ Mooridjan, kemarin. Menurut dia, selain naga terpanjang versi MURI yang mengundang decak kagum penonton adalah aksi para tatung yang jumlahnya ratusan yang memperlihatan aktrasi terkadang kelewat mengerikan. Kata Mooridjan, tempat duduk atau berdirinya berupa arang tajam mengkilat masih ditambah aksesoris mengerikan yang berupa lidi-lidi roda sepeda yang ditusukan ke pipi. "Tatung inilah yang merupakan unikum Kota Singkawang yang adanya hanya setahun sekali," ujarnya. Kota Singkawang selain disebut sebagai kota seribu vihara, terkenal pula dengan sebutan kota multi etnis dan multi budaya. "Imlek dan CGM dengan segala rangkaiannya serta pawai lampion, tatung, lelang jenis makanan tertentu inilah yang menjadikan unikum Kota Singkawang." Kata Mooridjan, seperti tatung yang konon terdapat juga di negara lain tetapi tetap memiliki perbedaan mungkin serupa, tetapi tak sama. Mooridjan menjelaskan, budaya Tionghoa yang sudah menyatu dengan budaya lokal inilah yang secara riil menarik minat dan keinginan wisatawan yang datang. "Tidak saja wiatawan mancanegara, tetapi banyak juga wisatawan domestik yang tertarik. Namun secara jujur banyak yang belum tahu makna dengan tepat perayaan tersebut," jelas dia. Bahkan, katanya, banyak yang terus terang mengakui dari mana asal tatung misalnya tahun cerita dari mulut ke mulut, namun sulit untuk dipahami kebenarannya karena dari sumber yang belum jelas. "Ketidaktahuan atau ketidaklengkapan pengetahuan budaya unik ini, tidak jarang menjadi semakin melebar seperti penulisan ucapan Gong Xi Fa Cai dipermasalahkan boleh tidaknya dipasang di rumah wali kota terlepas dari konteks permasalahan adat, sehingga semakin melebar lagi dan semakin terlepas dari konteks permasalahan adat. Yang akhirnya, berujung pada kecurigaan pada pemilik asal budaya tersebut. Etnis Tionghoa yang sampai tiba pada pertanyaan, adakah ditahun 1928 hari sumpah pemuda juga dihadiri oleh utusan pemuda Tionghoa?," katanya. Dijelaskan Mooridjan, berdasarkan buku Prof Kong Yuanzhe dalam bukunya silang Budaya Tiongkok Indonesia pemuda Tionghoa ditahun 1928, sumpah pemuda yang hadir, antara lain, Johan Muhammad Chai, Daud Budiman, Kwee Thiam Hing, Jong Liaw, Tjoan Hok, Tjia Jin Kwie. Menurut Prof Kong Yuanzhe dalam bukunya Silang Budaya Tiongkok Indonesia. (zrf)
