*Selasa, 1 April 2008*
*Hari Peduli Autisme se-Dunia 2 April
* *Awalny Sempat Shock, tapi Yakin Pasti Ada Jalan *

[image: CIUMAN: Evan memberikan ciuman kepada ibunya, sambil berkata, " I
love my mom". FOTO CHAIRUNNISA/PONTIANAKPOST] *Pontianak,-*  Menjadi
orangtua adalah pilihan. Tetapi anak tidak pernah memilih untuk dilahirkan.
Apalagi terlahir sebagai autisme. Itu juga merupakan anugrah Tuhan.
Rangkaian kalimat tersebut pernah dilontarkan psikolog ternama ibukota
Jakarta. Kini menjadi pegangan bagi orangtua anak-anak penyandang autisme di
Pontianak. Mereka ingin sang anak bisa hidup normal. Berbagai usaha
ditempuh. Bahkan, sampai membawa anak ke kuburan.

Chairunnisya, Pontianak

Viana shock. Anaknya, Yohanes Evan divonis autisme. Ia tak percaya. "Kok,
bisa begini?" katanya. Hatinya berkecamuk. Hari-harinya dipenuhi ketakutan.
Tak ada tempat mengadu. Sang suami, Oliver sedang studi di Surabaya.

Memang, banyak orangtua yang merasa bingung mendengar saat mendengar sang
anak divonis menyandang autisme. Karena tidak mudah bagi orang tua untuk
mendengar diagnosa autismeme yang diberikan oleh dokter pada anaknya. Shock,
takut, putus asa dan bingung pun menghiasi hari-harinya.

Seperti diungkapkan Viana (44) kepada Pontianak Post. Saat anaknya, Yohannes
Evan (15) atau biasa disapa Evan, didiagnosa sebagai penyandang autisme,
perasannya langsung sedih dan down.

"Saya terus bertanya, mengapa kok bisa begini. Saya bingung, harus kemana.
Sebab ketika itu kan autisme masih jarang terdengar," cerita Viana
didampingi Evan, kemarin.

Bagaimana tidak bingung, kata Viana, saat lahir Evan (anaknya-red) sama
seperti bayi lainnya. Sehat dengan anggota tubuh lengkap. Keganjilan baru
terlihat saat Evan berusia empat bulan. Evan tidak memberikan interaksi
seperti balita lainnya. Bahkan, saat waktu terus beranjak dan Evan bertambah
usia, tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Sampai usia tiga tahun,
tidak ada kata bermakna keluar dari mulut Evan. Padahal Viana sangat ingin
mendengar Evan memanggilnya mama dan menjawab saat mereka berinteraksi.
Hanya kata-kata tak jelas, sehingga Viana menyebut bahasa Evan sebagai
bahasa Dewa.

Evan hanya bereaksi saat melihat benda berputar terus menerus. Dia tahan
berjam-jam memperhatikan benda tersebut.

"Kita tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Kata orang, dia hanya lambat
bicara. Tidak seperti kakaknya. Saya juga bingung. Dibawa ke dokter di sini,
katanya tidak ada masalah," kenang Viana.

Akhirnya, pada 1997 saat Evan berusia empat tahun, Viana membaca majalah
Femina. Dia menemukan cerita perjuangan orangtua dari anak penyandang
autisme. Ciri-ciri sang anak dalam cerita tersebut sangat mirip dengan
tingkah laku Evan sehari-hari. Lantas, Viana berusaha mencari nomor kontak
orang tersebut melalui redaksi majalah.

"Akhirnya, nomor telepon saya peroleh. Katanya ada seminar di Jakarta. Saya
langsung datang ke sana sambil membawa Evan. Ternyata Evan memang menyandang
autisme. Saya langsung shock dan down. Tiga bulan tidak tahu harus berbuat
apa," kata Viana.

Namun, akhirnya Viana dia tidak menyerah begitu saja. Dia berusaha mencari
informasi tentang autisme dan cara terapinya. Dia juga berusaha melakukan
terapi terhadap Evan seorang diri, melalui fax-fax dari orangtua anak
penyandang autisme lainnya.

Viana juga memasukkan Evan ke Taman Kanak-Kanak biasa. "Tapi di TK, dia
tetap dengan dunianya sendiri. Tidak peduli denga teman-teman. Kalau dia
ingin mainan, dia rampas begitu saja dari teman-temannya. Beruntung guru TK
bisa bekerjasama," kata Viana.

Perjuangan Viana terus berlanjut. Dia berusaha memasukkan Evan ke sekolah
dasar biasa. Namun berulang kali ditolak. Akhirnya, sebuah SD swasta, SD
Karya Yosef bisa menerima Evan. "Di sekolah, dia juga jarang berbicara.
Jarang mencatat, tapi ingat apa yang pelajaran yang diberikan gurunya. Di
rumah, dia menceritakan semua pelajaran yang diberikan gurunya. Saya
bersyukur dia tidak pernah tinggal kelas," ujar Viana.

Kini, Evan duduk di kelas III SMP Santo Petrus Pontianak. Viana mengaku
kadang merasa sedih karena masih ada teman-teman Evan memberikan cap aneh
kepada anaknya. Namun, dia berterima kasih kepada pihak sekolah, yang tidak
membedakan Evan dengan anak-anak lainnya.

"Sekarang dia akan menghadapi UAN. Sekarang ini, Evan lagi senang sama
gunung. Setiap hari dia cari di internet soal gunung," ungkap Viana dengan
mata berbinar.

Namun, dibalik perkembangan Evan, muncul kekhawatiran di dalam hati Viana.
Evan sangat tergantung kepadanya. Akhirnya, Viana membawa Evan ke kuburan.
"Di kuburan, saya jelaskan. Inilah akhir kehidupan. Saya katakan, suatu saat
saya juga akan seperti itu. Makanya, saya katakan dia harus mandiri. Agar
dia tidak bingung ketika saya tidak ada. Saya bersyukur, dia mengerti," ujar
Viana dengan mata berkaca-kaca.

Saat ditanya soal ibunya, Evan dengan tegas menjawab, "I love my mom. She is
my life. Tapi saya sadar dunia harus terus berputar. Saya tidak bisa
tergantung terus menerus dengan ibu saya," ujar Evan, terbata-bata.

Evan mengaku sangat ingin membahagiakan sang ibu. "Saya ingin menjadi
vulkanolog. Karena saya ingin menyelamatkan banyak orang. Tidak seperti
tsunami, ratusan ribu nyawa melayang," lanjut Evan.

Demi cita-citanya, Evan sangat menyenangi matematika, IPA, dan bahasa
Inggris. Bahkan, dia mencari semua cerita tentang gunung di internet.
Bahkan, kepada Pontianak Post, Evan bisa menceritakan dengan detail tentang
gunung-gunung yang ada di dunia. Dia bercerita dengan mimik serius.

"Gunung merupakan keajaiban Tuhan. Banyak misteri yang bisa dipecahkan.
Hanya saja, saya tidak suka pelajaran PPKn. Terlalu banyak undang-undang
yang harus dihafal," timpal siswa dengan tinggi sekitar 165 cm ini.

Terkadang, anak penyandang autisme juga memiliki intelegensi melebihi anak
lainnya. Seperti diungkapkan Natali, orang tua anak penyandang autisme
lainnya. Anaknya, Theri (13) memiliki intelegensi superior. "Anak saya
sekarang duduk di kelas II SMP Suster Pontianak. Nilainya baik. Suka
pelajaran menghitung. Bahkan, dia tahu tanggal 5 Desember tahun 2010 itu
hari apa. Tetapi agak lemah jika diminta menghafal," kata Natali.

Natali bersyukur anaknya bisa bersekolah di sekolah normal. Teman-teman
Thery juga menerima Thery dengan segala keadaannya. "Bahkan, kadang mereka
suka belajar kelompok bersama," ujar Thery.

NB : Semangat.. dan Jangan Pernah Putus Asa.. Mereka Perlu KITA..
Berbahagialah Jika KITA Menerima TITIPAN TERISTIMEWA ( yy)

Kirim email ke