http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=Utama&id=74088
*Rabu, 18 Juni 2008* *Singkawang Segera Miliki Pabrik Pupuk * *Terbesar di Dunia, Beroperasi Agustus 2008* *Pontianak,-* Pabrik pupuk organik skala besar di dunia dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun, akan beroperasi Agustus mendatang di Sijangkung Kota Singkawang. Pabrik tersebut menggunakan 70 persen feses (kotoran) ayam sebagai bahan bakunya. "Hampir setiap kelompok tani sudah membuat pupuk organik dari limbah-limbah terutama dari kotoran ternak," kata drh Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan (Diswanak) Kalbar saat pertemuan dengan Tim Pengawas Pupuk dan Beras Miskin (Raskin) dari Komisi IV DPR-RI di Balai Petitih Kantor Gubernur, Selasa (17/6) kemarin. Dikarenakan akan beroperasinya pabrik pupuk terbesar di dunia ini, kata Manaf, masyarakat Kalbar tidak lagi membuang atau membakar kotoran ternaknya. "Boleh dicek, mereka tidak lagi membuang kotoran ternak, tapi menjualnya," terang Manaf. Berdasarkan data Diswanak Kalbar, dari 2,9 juta ekor ayam yang tersebar di berbagai peternakan menghasilkan sekitar 150 ton kotoran setiap harinya. Dalam pembuatan pupuk organik, porsi kotoran ayam mencakup 70 persen untuk setiap pengolahan. Sisanya dari kotoran sapi, gambut, kapur serta limbah lainnya. Pabrik yang direncanakan mulai beroperasi Agustus 2008 tersebut menelan investasi sekitar Rp 48 miliar. Mesin pengolah pupuk diimpor dari China. Pupuk organik ini memberi keuntungan, karena sifatnya ramah lingkungan. Berbeda dengan pupuk kimia yang cenderung menjadikan tanah berada pada titik jenuh. "Kalau tanaman menggunakan pupuk yang aman, produk yang dihasilkan tentu aman pula," ujarnya. Pabrik pupuk organik tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pupuk di Kalbar, tapi juga seluruh Indonesia. Untuk menunjang pendistribusian pupuk tersebut rencananya menggunakan pelabuhan Sintete di Kawasan Industri Semparuk (KIS) Kabupaten Sambas. Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kalbar, Ir Hazairin membenarkan hal tersebut. "Kalau mau, untuk memenuhi kebutuhan pupuk nasional pun bisa, karena untuk Kalbar hanya separuhnya sekitar 150 ribu ton per tahun," jelasnya. Hazairin menjelaskan, pengoperasian pabrik pupuk berbahan baku kotoran ayam tersebut sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik. "Pembangunan pabrik pupuk di daerah agropolitan Singkawang ini didanai investor lokal," ungkapnya tanpa menyebutkan investor yang dimaksud. Rencana pengoperasian Agustus mendatang, diharapkan mendapat support dari pemerintah pusat. Keuntungan menggunakan pupuk organik di antaranya, dalam proses mineralisasi akan melepaskan hara tanaman dengan lengkap, berupa N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil. Selain itu, dapat pula memperbaiki struktur tanah sehingga tanah menjadi ringan untuk diolah, akar pun akan mudah masuk ke tanah tersebut. Pupuk organik dapat meningkatkan daya menahan air (water holding capaci¬ty). Sehingga kemampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak. Meningkatkan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), se¬hingga kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi, aki¬batnya apabila tanaman dipupuk dengan dosis tinggi hara maka tidak mudah tercuci. Pupuk organik juga dapat memperbaiki kehidupan biologi tanah, baik itu hewan tingkat tinggi maupun rendah, karena ketersediaan makanan lebih terjamin. Dapat pula meningkatkan daya sangga (buffering capacity) terhadap goncangan perubahan drastis sifat tanah. Mengandung mikroba dalam jumlah cukup yang berperan dalam proses dekomposisi bahan organik. (dik)
