--- On Fri, 6/27/08, gobel sugobel <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: gobel sugobel <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [saham] Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto To: [EMAIL PROTECTED] Date: Friday, June 27, 2008, 3:20 AM Dari wartawan pressinfo... Bener ya kayak gini kelakuan wakil rakyat kita ? weleh...weleh. ... http://www.opensubs criber.com/ message/mediacar [EMAIL PROTECTED] com/9419721.. html Rabu, 18 Juni 2008 Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto TELEPON genggam saya bergetar Rabu pukul 12.53 siang. Di layarnya muncul nama Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN). Belum sempat saya mengucapkan sepatah kata, di seberang sana sudah ada suara. "Narliswandi Piliang, Anda jangan suudzon dong," ujar Soetrisno, menyebut nama lengkap saya. Ndak begitu Mas, kata saya. Belum saya bertutur lagi, sosok yang sudah saya kenal sejak 1986 itu, seakan bertanya, "Siapa yang menyebutkan PAN minta uang hingga dua triliun ke Edwin Soeryajaya, PT Adaro? Gila apa, partai minta uang sebesar itu?" "Soal Alvin Lie, kalau betul dia datang meminta uang ke kantor Adaro, atas nama partai, atas nama pribadi, saya pecat dia! Ada nggak buktinya?" Alvin Lie adalah anggota DPR dari PAN. Saya seling kalimat Soetrisno, lalu menjelaskan bahwa karenanya saya meng-SMS meminta konfirmasi sehari sebelumnya. Tanpa konfirmasi, adalah naif saya menulis. Mungkin karena kesibukan yang padat, SMS yang saya kirim Selasa pukul 20.09, baru dibalasnya siang keesokan hari. Bunyi SMS saya: Asw., Mas Trisno: Mohon konfirmasi untuk presstalk.info, apa betul PAN minta Rp 2 triliun ke Adaro, agar terhindar dari Hak Angket Pembatalan IPO perusahaan ini? UNTUK kali ini saya tidak menyebutkan nama sumber saya. Tetapi saya akan menggambarkan sosoknya. Orangnya pernah bekerja di sebuah multinasional company selama 32 tahun, pernah menjabat CEO di empat unit usaha joint venture. Di Jumat malam pekan lalu di Pondok Indah, Jakarta Selatan, ia baru saja usai bermain golf di Rancamaya, Ciawi, Bogor, Jawa barat. Saya mengenalnya dari sebuah milis internet. Ia adalah sosok yang rutin membaca Tajuk Rakyat yang rutin ini, saya tulis. Sebelum menemuinya, di pukul 19.00 itu, saya terlebih dahulu mampir ke Daily Bread, Café, di lantai 3 Mall, di mana saya suka memesan Cappucino dulu.. Sudah hampir dua tahun saya tak ke café di situ. Maksud hati membunuh sedikit waktu menunggu janji. Eh, secara tak sengaja, saya bersua dengan kawan lama. Hampir sepuluh tahun tak jumpa, fotografer Roy Genggam Nusantara, kakak Gito Gilas Nusantara, artis sinetron. Saya kagum pada keluarga Roy, kepada dua kata di belakang nama mereka. Dua kata yang seakan menjewer mengingatkan agar berbuatlah, berprestasilah bagi nusantara. Belum sempat melepas kangen, telepon saya sudah bergetar lagi, rupanya sosok yang ingin saya temui sudah menunggu di dekat Bakmi Gajah Mada. Saya jadi membuat sosok bapak ber-t-shirt merah, berkacamata itu sedikit menunggu. Sambil melahap bakmi capcai, saya mendengar keluhan dan kekritisan sosok bapak dua anak ini. Saya terkesima akan penjelasannya bahwa kawannya, Teddy P.. Rahmat, Direktur PT Adaro Energy Tbk, mengeluhkan tekanan-tekanan yang dilakukan anggota DPR dengan merencanakan hak angket, mempersoalkan indikasi transfer pricing - - mengakali pajak - - yang dilakukan Adaro. PAN meminta uang Rp 2 triliun kepada Adaro, agar di DPR tidak dilakukan hak angket menghambat IPO Adaro. Bahkan Alvin Lie, anggota DPR dari PAN, datang ke kantor Adaro menemui Teddy P. Rahmat. Menurut sumber saya itu Alvin pun meminta uang mulai dari Rp 6 miliar, terakhir Rp 1 miliar untuk dirinya,. "Edwin yakin perusahannya sehat, solid, apalagi Dirjen Pajak sudah mengatakan tidak ada masalah pajak di Adaro," tutur sumber ini. Edwin tidak mempedulikan "ancaman" hak angket DPR menolak IPO PT Adaro Energy Tbk. Sebagai perusahaan tambang batubara kedua terbesar di Indonesia, PT Adaro Energy Tbk mencari pembiayaan US$375 juta atau setara Rp3,45 triliun untuk menggenjot kapasitas produksi batu bara perseroan yang ditargetkan mencapai 80 juta ton pada 2012. Perusahaan itu menargetkan volume produksi sebanyak 38 juta ton, 45 juta ton tahun depan, dan secara bertahap meningkat menjadi 80 juta ton pada 2012. Untuk itu perusahaan menawarkan 11,14 miliar saham atau 34,83% dari total saham yang dikeluarkan di kisaran harga Rp1.050-Rp1. 125 per saham dengan nilai nominal Rp100. Dengan harga penawaran itu, Adaro diperkirakan akan meraup dana segar Rp11,70 triliun-Rp12, 53 triliun. IPO Adaro merupakan yang terbesar sejak November 1995 ketika PT Telekomunikasi Indonesia meraup dana segar US$1,6 miliar dari IPO di dalam negeri dan Amerika Serikat. Karenanya kelancaran IPO perusahaan ini, memang menjadi taruhan besar bagi citra bursa saham Indonesia. Dan sumber saya sangat mengkuatirkan bila Adaro diobok-obok, berakibat fatal bagi ekonomi Indonesia. Terlepas dari benar atau tidaknya Adaro diobok-obok, faktanya pada 17 Juni 2008, 9 fraksi di DPR menolak melakukan hak angket ihwal Adaro. Hanya PAN sendiri melenggang lantang. BILA di DPR batal angket Adaro, ada bagusnya angket BBMlebih layak digulirkan, terlebih urusan jual beli Migas, yang terindikasi bertambun berkolusi, berkorupsi, berjamaah. Di ranah media tak kalah wah. Bila Adaro pada acara Reborn Kompas.com, turut mengagendakan meneken kontrak menjadi sponsor utama portal berita kelompok Kompas Gramedia itu, maka kelompok usaha PT Asian Agri yang dimiliki Soekanto Tanoto, menempel ke kelompok Media Indonesia Group yang dipimpin Surya Paloh. Rabu, pukul 19.30 saya perhatikan di Metro TV, menampilkan video profile, iklan dokumenter PT Asian Agri. Perusahaan ini sejak tahun lalu sudah terbukti menggelapkan pajak mencapai Rp 1,5 triliun - - di antaranya melalui laku transfer pricing. Dan Surya Paloh, sosok yang kemudian dilobby kelompok usaha Soekanto Tanoto, untuk membangun opini, termasuk kiranya turut mempersoalkan IPO Adaro. Hingga kini eksekusi pengelapan pajak PT Asian Agri belum melangkah ke tingkat penuntutan. Dan repotnya sesuai UU Pajak Nomor 28, 2007, pasal 44B, penggelapan pajak dapat di selesaikan melalui di luar pengadilan, dengan denda maksimum 400%. Pasal undang-undang ini menjadi begitu lentur bagi pengemplang pajak. Apakah Soekanto Tanoto juga didatangi anggota DPR, untuk menyelesaikan masalahnya di luar pengadilan: bisa jadi! Seorang sumber saya mengatakan kedekatan Soekanto Tanoto dengan Jusuf Kalla.. Kendati sudah terbukti menggelapkan pajak, Soekanto kini belum juga terkena jerat hukum. Persoalan di media, bukan rahasia pula bahwa antara kelompok usaha Soekanto Tanoto dan Kelompok usaha Edwin Soeryajaya (Adaro) sudah terjadi "perang". Hal itu menajam ketika pengadilan tingkat banding Singapura yang menolak gugatan Beckkett Pte. Ltd., Singapura, dalam sengketa kepemilikan PT Adaro Indonesia. Kasus itu bermula tahun 1997 ketika jaringan usaha Beckkett, PT Asminco Bara Utama (Aminco), yang mempunyai 40% saham di PT Adaro dan PT IBT mendapat pinjaman US$ 100 juta dari Deutsche Bank di Singapura. Asminco menjamin seluruh saham kepemilikannya di PT Adaro kepada Deutsche Bank. Beckkett juga bertindak sebagai penjamin atas pinjaman tersebut dan menjaminkan sahamnya. Pada 1998, Asminco tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada Deutsche Bank sehingga terjadi gagal bayar. Deutsche Bank kemudian menjual saham-saham Beckkett di PT Adaro dan PT IBT - - sebelumnya dimiliki Soekanto Tanoto. Penjualan saham oleh Deutsche Bank itu dilakukan ke kelompok usaha Edwin Soeryajaya, kini Chairman PT Adaro Energy Tbk. Maka menyimak kisah hak angket Adaro di DPR yang gagal itu, lobby ke media, baik yang dilakukan oleh Adaro, maupun kelompok usaha Soekanto Tanoto, laksana "perang" media yang memberitakan hal ihwal kedua belah pihak. Laksana pergumulan berbagai kepentingan, berbagai tingkah-polah, termasuk lobby-lobby di dan ke kalangan DPR yang - - sebagaimana selalu menjadi penekanan di dalam Tajuk Rakyat ini - - berujung satu saja: uang! Saya mencari-cari perumpamaan apa yang sesunguhnya ada? Sekelebat secara visual, ingatan di benak saya melayang ke daerah di kampung saya di Pariaman, Sumatera Barat: ada pesta Hoyak Tabuik (Tabot). Macam itulah kehebohan yang ada. TABUIK adalah keranda bertingkat tiga dari kayu, rotan dan bambu dengan tinggi mencapai 15 meter dan berat bisa setengah ton. Bagian bawahnya berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala "wanita" cantik berambut panjang. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus hitam. Empat kakinya terdapat bergambar kalajengking menghadap ke atas. Kuda itu simbol Bouraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat. Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura kotak berukuran kian ke atas makin besar. Pada gapura itu tampak motif ukiran merah, kuning dan dan hitam khas Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan "bungo salapan" (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik. Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan "menghoyak" (mengarak) Tabuik yang dilakukan oleh 100 orang dewasa. Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang (seberang). Tabuik dikerjakan bergotong royong, melibatkan para ahli budaya dan sejarah serta tokoh masyarakat sejak 1-9 Muharam setiap tahun dengan biaya puluhan juta rupiah. Dulu seingat saya, setiap ada upacara Hoyak Tabuik, selalu saja ada perkelahian. Namun kini seiring dengan pesta budaya menjadi tontonan wisata, tidak dikenal lagi keributan perkelahian yang terkadang membuat orang berlumuran darah. Makna pesta Tabuik itu dimaksudkan untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Hasan dan Husain yang memimpin pasukan kaum muslim saat bertempur melawan kaum Bani Umayah dalam perang Karbala di Mekkah. Dalam pertempuran, Husain wafat secara tidak wajar. Sebagian muslim percaya jenazah Husain diusung ke langit menggunakan "Bouraq" dengan peti jenazah yang disebut Tabuik (Tabot). Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik. Di penghujung hari menghoyak-hoyak, Tabuik dilarungkan ke laut. Ada prosesi semacam menolak bala. Orang Pariaman pun berteriak-teriak "Hoyak-hoyak Husain." "Hoyak Tabuik" Kemeriahan, Tabuik yang di hoyak-hoyak, dana yang dibenamkan, pasar taruhan, lipstik dan kecantikan, plus liputan, laksana itulah kiranya "kehebohan" PT Adaro Energy Tbk., kini menjelang IPO. Perusahaan yang sesungguhnya dijalankan secara profesional itu. Setelah usai menyimak Tabuik di Pantai Pariaman, hanya hati yang bersihlah kiranya dapat menilai. Hati nurani yang dapat berkata tontonan apatah di kancah dunia usaha kita yang dijangkiti "penyakit" politik, laku persaingan tidak sehat, di tengah kehidupan rakyat kebanyakan yang kian sulit membeli susu bagi bayi? Bila kian banyak pengusaha Indonesia yang berproduk dan berjasa, yang masuk ke pasaran, terlebih ke pasar global, dan berperilaku mulia - - termasuk tidak menjadikan politik sebagai ranah menimbun uang - - pastilah tidak saling-silang menghoyak sesama. Hoyak! Iwan Piliang, presstalk.info
