PONTIANAK, METRO - Kepala BPS Kalbar, Drs. Nyoto Widodo, ME mengatakan Badan Pusat Statistik pada September dan Oktober 2008 mendatang akan melaksanakan survey kepada 359.042 Rumah Tangga (RTS) yang ada di Kalimantan Barat, "Survey tersebut akan dilakukan per bulan Oktober 2008 mendatang sebanyak 359.042 kepala rumah tangga yang ada di Kalbar," ungkapnya. Program ini dilakukan untuk menghasilkan data base program perlindungan sosial Indonesia , "Survey ini dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih data penduduk miskin dan dapat digunakan di seluruh program pemerintah seperti beras untuk rakyat miskin (raskin), jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT)," paparnya.
"Sehingga ketika meluncurkan sebuah program, pemerintah tidak perlu lagi menggunakan berbagai macam data. Cukup dengan menggunakan data base program perlindungan social ini saja," lanjutnya usai peluncuran Berita Resmi Statistik di Aula BPS Kalbar, Jumat (1/8). Dikatakan Nyoto, data base penduduk miskin tersebut akan diumumkan pemerintah per 1 Januari 2009 mendatang. "Sebanyak 1367 orang petugas survey akan dilatih untuk mendata penduduk miskin yang ada di masing-masing kabupaten/kota di Kalbar kita juga akan merekrut petugas dari desa, kelurahan dan kecamatan untuk mendata penduduk miskin yang ada di daerahnya, kemungkinan bertambah atau berkurang jumlah penduduk miskinnya, tergantung dari hasil survey dua bulan tadi," jelasnya. Pendataan ini, ditambahkan Nyoto dilaksanakan serentak di seluruh provinsi di Indonesia, dan diharapkan agar proses berjalan dengan baik agar dapat merata terdata di seluruh wilayah yang ada di Kalbar. Sementara itu Nyoto juga menjelaskan bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi pada Mei 2008 lalu, masih memberi dampak pada kenaikan indeks semua kelompok pengeluaran dan menyebabkan inflasi di Kota Pontianak menjadi 1,44 persen. "inflasi ini terjadi karena kenaikan kelompok bahan makanan sebesar 0,52 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,27 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan baker 3,64 persen, kelompok sandang 0,54 persen, kelompok kesehatan 1,67 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,61 persen dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,37 persen, terangnya. "Sedangkan laju inflasi di Kota Pontianak dari Januari hingga Juli 2008 sebesar 9,19 pesen, " katanya lagi. Untuk kota Pontianak sendiri menempati rangking ke-31 dari 66 kota se-Indonesia. "Dari kelompok pengeluaran tersebut, komoditi yang menyumbang inflasi cukup besar yaitu bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, kayu Balokan, angkutan udara, upah pembantu rumah tangga, kotrak rumah dan ikan tongkol," jelas Nyoto. Jika dibandingkan antar kota di pulau Kalimantan, Inflasi Kota Pontianak masuk posisi lima besar bersama kota Tarakan, Balikpapan, Palangkaraya dan Sampit. Inflasi terendah berada di Kota Singkawang, disusul kota Banjarmasin dan kota Samarinda," tambah Nyoto.(nov) Source : http://www.metropontianak.com/index.php?mib=berita.detail&id=5611
