SINGKAWANG-Setelah menggelar aksi di Dinas Pendidikan Kota Singkawang,
Rabu (17/9) siang, sebagian besar siswa menggelar aksi mogok belajar,
kemarin. Mereka datang ke sekolah dan tidak belajar.

Namun, ada juga yang mengikuti aktivitas proses belajar mengajar,
walaupun lebih banyak diikuti oleh siswa kelas I. Pantauan Pontianak
Post di SMK 1 Singkawang, terlihat sekali sepi. Sejumlah kendaraan
siswa, terlihat parkir dan ada beberapa siswa nongkrong di lokasi
parkir. Siswa juga ada yang keluar dari kompleks SMK 1 dan duduk-duduk
di depan Hotel Mahkota Singkawang. "Tak belajar," tanya Pontianak
Post, kepada siswa yang sedang berada di depan Hotel Mahkota
Singkawang, kemarin. Mereka serentak menjawab.

"Kami tetap pada tuntutan. Mogok belajar, sampai tuntutan dipenuhi,"
kata siswa yang masih mengenakan seragam sekolah. Menurut mereka,
sebagian besar tidak mengikuti proses belajar mengajar.

"Yang ikut belajar kebanyakan siswa kelas I. Biasa mereka kan baru,"
kata siswa. Siswa sangat heran dengan kebijakan menaikkan SPP
tersebut. Padahal, di SMK swasta SPP-nya hanya Rp50 ribu lebih
perbulan. "Masak negeri lebih mahal dibandingkan swasta. Padahal,
swastakan dibiayai murni dari siswa. Ada apa sebenarnya. Proses
belajar dan praktek sama saja dengan SMK Kosgoro," kata mereka
membandingkan. Siswa berharap, pemerintah dapat melihat sejauh mana
persoalan yang dihadapi SMK 1 Singkawang.

"Pemerintah atau dinas pendidikan harus segera mengambil sikap, jangan
sampai hanya permasalahan ini berlarut-larut," kata siswa penuh dengan
harap. Apakah akan menggelar aksi kembali di dinas pendidikan, di
dewan atau pun pemkot sekalian, siswa masih menunggu hasil dari
pembahasan dinas pendidikan.

"Bila tidak ada jalan keluarnya. Kita akan kumpul lagi bersama-sama
yang lebih besar kemudian menggelar aksi di dewan. Tak kecuali di
pemkot. Biar wali kota juga tahu permasalahan yang dihadapi," katanya.

Berarti, sudah tiga hari mereka menggelar aksi mogok belajar. Hari
pertama, mereka lebih banyak di sekolah, hari kedua menggelar aksi di
dinas pendidikan dan ketiga tanpa masuk kelas dan keluar dari SMK 1.

"Kami didukung oleh orang tua. Masak, orang tua tak tahu masalah ini.
Orang tua waktu diberitahu juga terkejut. Kok naiknya tiba-tiba," kata
siswa lainnya. Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota
Singkawang, Sujianto mengaku, seringkali Fraksi PDI Perjuangan
menyoroti masalah pungutan-pungutan yang dilakukan sekolah ini jangan
sampai terjadi.

"Sering kali ketika pandangan umum fraksi, selalu saja menekankan agar
tidak ada pungutan bagi sekolah terutama tahun ajaran baru," kata
Sujianto didampingi Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Suganda Gani SPd,
kepada Pontianak Post, disela-sela resesnya, kemarin.

Menurut Sujianto dan Ganda, jangan sampai sekolah membebani siswanya
bila proses belajar mengajar terjadi. "Kita di dewan tentu mengontrol
jalannya proses belajar mengajar. Jangan sampai pula terbebani,
seperti sekarang ini. Berarti, siswa terbebani," kata Ganda, yang juga
Ketua Komisi C membidangi pendidikan ini.

Kata Ganda, hendaknya dalam menerapan pungutan terhadap siswa harus
dirembukan bersama dengan orang tua yang tergabung dalam komite
sekolah. "Ketika itu menjadi keputusan barulah diberikan kepada kepala
sekolah dan bisa diterapkan," katanya. Ganda mengakui, sudah minta
penjelasan kepada Kepala Bidang Pendidikan Mengah Tinggi, Drs Titus.
"Kita minta hal ini bisa dituntaskan permasalahannya. Jangan sampai
siswa juga dirugikan dan terjadinya mogok belajar yang dilakukan oleh
siswa," kata Ganda. (zrf)

SUMBER : www.pontianakpost.com

Kirim email ke