SINGKAWANG—Dalam iklim keterbukaan, sangat wajar jika ada perselisihan antara 
eksekutif dan legislatif. Tetapi jika perselisihan itu didasari emosi atau ego, 
bukan demi rakyat, maka itu hanya buang-buang waktu dan menimbulkan penilaian 
dari rakyat bahwa pemerintahan Singkawang tidak produktif. Demikian ungkap 
Abdul Rani, Aktivis BIS Demokrasi, kemarin.

"Seharusnya, baik legislatif maupun eksekutif lebih banyak berkaca. Selama ini 
apa hasil kerja eksekutif? Air bersih masih sulit, pengangguran masih antre di 
depan pintu kesempatan yang tertutup rapat, investor masih berupa dongeng di 
siang bolong," katanya. Begitu pula dengan legislatif, apa yang selama ini 
mereka suarakan? "Soal tapal batas, STKIP, masyarakat miskin yang tidak 
mendapatkan Jamkesmas dan lain-lain. Apa dewan tidak melihat dan hanya duduk 
diam sambil menunggu gaji bulanan," ujar dia.

Hal ini disampaikan menyusul adanya sedikit "ketegangan" antara eksekutif dan 
legislatif di Kota Singkawang. Kalau bicara soal level atau tidak level, 
sambung Rani, sebenarnya baik wali kota maupun dewan sama saja.

"Mereka sama-sama kurang berlevel karena belum mampu membawa perubahan yang 
nyata untuk masyarakat Kota Singkawang. Mereka harus berkaca. Masing-masing 
jangan merasa hebat dan menganggap kalau yang lain itu tak selevel dengannya," 
tandas Rani.

Uang rakyat, menurutnya sebagian dibelanjakan untuk hal-hal yang kurang 
bermanfaat atau menyentuh langsung kepada masyarakat. Pejabat Singkawang 
termasuk dewan dan wako hanya sibuk mondar-mandir pakai mobil rakyat keluar 
kota dan keluar negeri tanpa hasil yang jelas dan pasti.

"Wali kota sampai sekarang belum membuktikan janjinya, lantas dengan percaya 
diri bicara soal level tak level. Menurut saya itu malah membuat kata-kata wako 
soal level dan tidak level menjadi tidak punya level," katanya lagi. Dia 
menyarankan agar dewan tidak perlu mempersoalkan masalah ini. Anggap saja 
kenyataan itu merupakan cermin besar untuk dewan.

"Jika dewan bijak, maka dewan tak perlu menghempaskan cermin tersebut dengan 
marah. Akhirnya hanya suara bising yang terdengar sementara cermin itu pecah 
bertaburan kemana-mana tanpa makna. Seharusnya cermin tersebut dipegang 
kuat-kuat oleh dewan untuk mereka bercermin," ujar Rani puitis. Eksekutif dan 
legislatif hendaknya bisa bersinergi. Jika kedua lembaga ini masih gaduh dengan 
dasar emosi dan mengedepankan ego masing-masing, Singkawang tak akan maju-maju 
dan janji yang digemakan waktu kampanye (baik legislatif maupun eksekutif) 
hanyalah bohong besar.(rnl)

Sumber : www.pontianakpost.com

Kirim email ke